
DIANCAM, DITEKAN, BAHKAN DIFITNAH, WARTAWAN HARUS TETAP MENULIS!” — Dangs Yuli Fransyah Tegaskan Jurnalis Adalah Benteng Terakhir Penjaga Kebenaran di Tengah Banjir Hoaks
Kabar Negeri Plus | Opini Pers
Di tengah derasnya arus informasi yang bergerak tanpa henti, profesi jurnalis kembali menghadapi ujian berat. Ketika media sosial dipenuhi berbagai opini, asumsi, dan informasi yang belum tentu terverifikasi, keberadaan wartawan sebagai penjaga fakta menjadi semakin penting sekaligus semakin menantang.
Di balik setiap berita yang tersaji kepada publik, terdapat perjuangan yang sering kali tidak terlihat. Ada waktu yang dikorbankan, tenaga yang terkuras, bahkan risiko yang harus dihadapi demi memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Fenomena banjir informasi yang terjadi saat ini membuat profesi jurnalistik berada di persimpangan. Kecepatan sering kali lebih dihargai daripada ketepatan. Akibatnya, hoaks, fitnah digital, dan disinformasi menyebar begitu cepat, sementara proses verifikasi membutuhkan kerja keras, kesabaran, dan integritas yang tinggi.
Direktur Media Kabar Negeri Plus, Dangs Yuli Fransyah, menegaskan bahwa menjadi seorang jurnalis bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian kepada masyarakat dan kebenaran.
Menurutnya, perjalanan menjadi wartawan penuh dengan suka dan duka yang harus diterima sebagai bagian dari tanggung jawab profesi.
“Menjadi jurnalis bukan pekerjaan yang mudah. Ada saat ketika kita harus meninggalkan keluarga demi menjalankan tugas peliputan, bekerja hingga larut malam untuk memastikan fakta benar-benar akurat, bahkan menghadapi berbagai tekanan dan risiko di lapangan. Namun di balik semua itu, ada kebanggaan tersendiri ketika informasi yang kita sajikan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Dangs Yuli Fransyah.
Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar yang dihadapi insan pers saat ini adalah menjaga independensi di tengah derasnya berbagai kepentingan yang berusaha mempengaruhi arah pemberitaan.
“Jurnalis harus memiliki keberanian untuk tetap berdiri di atas fakta. Kita tidak boleh menjadi alat kepentingan siapa pun. Tugas wartawan adalah menyampaikan kebenaran kepada publik, meskipun terkadang kebenaran itu tidak disukai oleh sebagian pihak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dangs Yuli Fransyah menyoroti fenomena maraknya pemberitaan hoaks yang belakangan semakin meresahkan masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan informasi palsu yang dapat memecah belah masyarakat, merusak reputasi seseorang, bahkan menimbulkan keresahan publik.
“Hari ini kita menghadapi situasi yang sangat memprihatinkan. Banyak orang lebih cepat mempercayai informasi yang viral daripada informasi yang benar. Hoaks diproduksi dan disebarkan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Padahal satu informasi palsu bisa menghancurkan nama baik seseorang, memicu konflik sosial, bahkan mengganggu stabilitas kehidupan bermasyarakat,” ungkapnya.
Ia menilai bahwa penyebaran hoaks tidak hanya menjadi ancaman bagi dunia jurnalistik, tetapi juga ancaman bagi kehidupan demokrasi dan persatuan bangsa.
“Hoaks adalah musuh bersama. Ketika kebohongan dianggap sebagai kebenaran hanya karena banyak dibagikan, maka masyarakat sedang berada dalam kondisi yang berbahaya. Karena itu, masyarakat harus semakin cerdas dalam menerima informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya,” katanya.
Dangs Yuli Fransyah juga mengajak masyarakat untuk menjadikan media yang bekerja berdasarkan kaidah jurnalistik sebagai rujukan utama dalam memperoleh informasi.
“Jika ingin mengetahui kebenaran, carilah informasi dari sumber yang kredibel dan dapat dipertanggungjawabkan. Jangan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber informasi. Budaya cek fakta harus menjadi kebiasaan bersama agar masyarakat tidak mudah menjadi korban manipulasi informasi,” ujarnya.
Menurutnya, di tengah maraknya hoaks yang semakin sulit dibedakan dari informasi asli, peran jurnalis profesional menjadi semakin vital. Wartawan tidak hanya bertugas menyampaikan berita, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam meluruskan informasi yang menyesatkan.
Di tengah era ketika siapa saja dapat menyebarkan informasi hanya melalui telepon genggam, keberadaan jurnalis profesional menjadi benteng penting untuk memastikan fakta tidak tenggelam oleh kebisingan opini, propaganda, dan kepentingan tertentu.
Bagi Dangs Yuli Fransyah, selama masih ada ketidakadilan yang perlu diungkap, suara rakyat yang perlu didengar, serta fakta yang harus disampaikan kepada publik, maka tugas seorang jurnalis tidak akan pernah berakhir.
“Sebab pada akhirnya, wartawan sejati bukanlah mereka yang mengejar viralitas, melainkan mereka yang berani memperjuangkan kebenaran. Ketika hoaks semakin merajalela, maka jurnalisme yang berintegritas harus berdiri lebih kuat dari sebelumnya,” pungkasnya.

