
Godaan Itu Nyata: Mengapa Kita Sering Tahu Tapi Tetap Melakukan?
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – Minggu II Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kejujuran yang sulit diakui: kita sering tahu mana yang salah, tapi tetap melakukannya.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun ia mengemukakan berbagai alasan.”
(QS Al-Qiyamah [75]: 14–15)
Inti Pesan
Masalah kita bukan tidak tahu.
Kita tahu mana yang benar.
Kita tahu mana yang salah.
Tapi tetap saja dilakukan.
Bukan karena tidak paham,
tetapi karena tidak mampu menahan diri.
Di sinilah letak godaan.
Godaan bukan sekadar ajakan untuk berbuat salah,
tetapi kemampuan untuk membungkus kesalahan dengan alasan.
“Sekali saja tidak apa-apa.”
“Nanti juga bisa taubat.”
“Semua orang juga begitu.”
Padahal dalam hati, kita tahu.
Ini bukan tentang ilmu.
Ini tentang iman yang sedang lemah.
Baca Juga:
Jika Hari Ini Hari Terakhir: Apa yang Akan Kita Bawa Menghadap Allah?
Aksi Hari Ini
Latih kesadaran sebelum tindakan:
- Berhenti sejenak sebelum melakukan sesuatu
Contoh: saat ingin melakukan hal yang meragukan, tanya dalam hati—“Ini benar atau hanya saya cari alasan?” - Kenali pola godaan pribadi
Setiap orang punya titik lemah. Ada yang di lisan, ada yang di pandangan, ada yang di kebiasaan. Kenali, lalu jaga. - Hentikan pembenaran diri
Jangan biasakan mencari alasan untuk hal yang jelas salah. Kejujuran pada diri sendiri adalah awal perubahan. - Ganti dengan tindakan kecil yang benar
Contoh: saat ingin melakukan kesalahan, alihkan ke hal baik meski sederhana—dzikir, diam, atau menjauh dari situasi. - Ingat konsekuensi, bukan hanya keinginan
Apa yang terasa ringan sekarang bisa menjadi berat di kemudian hari.
Banyak orang jatuh bukan karena tidak tahu, tetapi karena terlalu sering menunda untuk berhenti. Dari satu kesalahan kecil yang dibenarkan, lama-lama menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan, menjadi karakter. Dan dari situlah arah hidup berubah tanpa disadari.
Kunci: masalah terbesar bukan tidak tahu, tetapi tidak mau menahan diri.
Ketika seseorang mulai jujur pada dirinya sendiri, di situlah perubahan dimulai. Karena iman bukan hanya tentang mengetahui kebenaran, tetapi tentang memilihnya—meski terasa berat.
Penutup
Kita tahu mana yang benar.
Tantangannya adalah: apakah kita mau melakukannya?
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

