Allah Tidak Melihat Harta dan Wajahmu, Tetapi Hatimu

 

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 29 Juli 2026 | Hari 29 Minggu IV)

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus kembali mengajak kita mengawali pagi dengan sebuah renungan yang menyentuh inti kehidupan seorang mukmin.

Di zaman sekarang, manusia sering dinilai dari apa yang tampak.

Seberapa mewah pakaiannya.

Seberapa mahal kendaraannya.

Seberapa banyak hartanya.

Seberapa terkenal namanya.

Bahkan tidak sedikit orang yang berlomba mempercantik penampilan lahir, tetapi melupakan keadaan hati.

Padahal semua yang tampak itu suatu saat akan hilang.

Wajah akan menua.

Harta bisa habis.

Jabatan akan berakhir.

Popularitas akan dilupakan.

Namun ada satu perkara yang akan terus dibawa menghadap Allah.

Yaitu hati.

Hati yang bersih akan melahirkan amal yang bersih.

Hati yang ikhlas akan menghadirkan ibadah yang diterima.

Sedangkan hati yang dipenuhi riya’, dengki, sombong, dan kebencian akan merusak amal yang tampak baik di hadapan manusia.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.

Jagalah hati.

Karena di situlah Allah melihat kualitas seorang hamba.

Dalil

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan tidak pula kepada harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”

(QS Asy-Syu’ara’ [26]: 88–89)

Inti Pesan

Dalam Islam, hati adalah pusat kehidupan.

Jika hati baik.

Maka perkataan akan baik.

Perbuatan akan baik.

Hubungan dengan sesama akan baik.

Sebaliknya.

Jika hati rusak.

Maka ilmu bisa menjadi kesombongan.

Harta menjadi alat kezaliman.

Jabatan menjadi sarana kesewenang-wenangan.

Karena itu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Membersihkan hati adalah ibadah seumur hidup.

Ia dilakukan dengan memperbanyak dzikir.

Taubat.

Membaca Al-Qur’an.

Berdoa.

Memaafkan orang lain.

Dan mengikhlaskan setiap amal hanya karena Allah.

Kisah Teladan

Salah satu kisah yang sangat menyentuh adalah tentang seorang sahabat Anshar yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai penghuni surga.

Selama tiga hari berturut-turut, Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa akan datang seorang laki-laki yang termasuk ahli surga.

Ternyata yang datang adalah seorang sahabat biasa.

Bukan orang yang terkenal karena banyak ibadah sunnah.

Bukan pula seorang pemimpin.

Sahabat Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallāhu ‘anhuma kemudian menginap di rumahnya selama tiga malam untuk mengetahui amalan istimewanya.

Namun beliau tidak menemukan ibadah yang luar biasa.

Ketika ditanya rahasianya, sahabat tersebut menjawab bahwa setiap malam ia membersihkan hatinya.

Ia tidak menyimpan rasa iri, dengki, atau kebencian kepada siapa pun atas nikmat yang Allah berikan kepada mereka.

Mendengar jawaban itu, Abdullah bin ‘Amr berkata,

“Inilah amalan yang membuatmu sampai pada derajat itu.”

(HR. Ahmad)

Kisah ini mengajarkan bahwa hati yang bersih dapat menjadi sebab seseorang memperoleh kemuliaan di sisi Allah.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Hari ini mungkin kita belum menjadi orang yang paling kaya.

Belum menjadi orang yang paling terkenal.

Belum menjadi orang yang paling berilmu.

Namun kita masih bisa menjadi orang yang paling bersih hatinya.

Mulailah dengan memaafkan.

Hilangkan iri hati.

Berhenti membenci.

Doakan kebaikan untuk orang lain.

Ikhlaskan setiap amal.

Karena Allah lebih dahulu melihat isi hati daripada penampilan lahir.

Kunci

Hati yang bersih adalah bekal paling berharga ketika menghadap Allah. Keindahan wajah akan pudar, tetapi keikhlasan hati akan terus bersinar hingga Hari Kiamat.

Baca Juga:

Hidup yang Berkah Bukan yang Paling Lama, Tetapi yang Paling Bermanfaat

 

Aksi Hari Ini

Periksa kembali isi hatimu

Apakah masih ada iri, dengki, atau kebencian kepada seseorang?

Maafkan orang yang pernah menyakitimu

Bukan karena mereka pantas dimaafkan, tetapi karena engkau ingin memperoleh ridha Allah.

Perbanyak dzikir dan istighfar

Karena hati menjadi tenang dengan mengingat Allah.

Luruskan niat dalam setiap amal

Jangan mencari pujian manusia.

Muhasabah sebelum tidur

Tanyakan kepada diri sendiri, “Jika malam ini aku menghadap Allah, apakah aku telah membawa hati yang bersih?”

Hati yang dipenuhi keikhlasan lebih berharga di sisi Allah daripada penampilan yang indah tetapi dipenuhi kesombongan dan riya’.

Penutup

Jika hari ini engkau ingin mempercantik sesuatu,

perindahlah hatimu.

Jika hari ini engkau ingin menjadi mulia,

bersihkanlah niatmu.

Jika hari ini engkau ingin dicintai Allah,

hilangkan penyakit-penyakit hati yang selama ini mengotorinya.

Sebagaimana sahabat Anshar yang dijamin surga karena kebersihan hatinya, marilah kita menjadikan hati sebagai tempat bersemayamnya iman, kasih sayang, dan keikhlasan.

Karena pada hari ketika seluruh manusia berdiri di hadapan Allah.

Tidak ada lagi kebanggaan atas harta.

Tidak ada lagi kebanggaan atas wajah.

Tidak ada lagi kebanggaan atas kedudukan.

Yang tersisa hanyalah hati yang datang kepada Allah dalam keadaan bersih.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’, ujub, hasad, dan kesombongan, memenuhi hati kita dengan iman, keikhlasan, kasih sayang, dan ketakwaan, serta mempertemukan kita dengan-Nya dalam keadaan membawa qalbun salīm—hati yang bersih.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *