
Tawakal Bukan Berarti Berhenti Berusaha
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 9 Juli 2026 | Hari 9 Minggu II)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus kembali mengajak kita mengawali hari dengan memperkuat keyakinan kepada Allah.
Kemarin kita belajar bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Hari ini kita akan memahami salah satu bentuk keimanan yang sering kali disalahpahami, yaitu tawakal.
Sebagian orang menganggap tawakal berarti pasrah tanpa berusaha.
Ada yang berkata, “Kalau Allah menghendaki, pasti terjadi,” tetapi ia tidak mau bekerja.
Ada yang berharap rezeki datang, tetapi enggan berikhtiar.
Ada yang ingin doanya dikabulkan, tetapi tidak memperbaiki dirinya.
Padahal Islam mengajarkan bahwa tawakal bukan alasan untuk bermalas-malasan.
Tawakal adalah menyempurnakan ikhtiar, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Seorang mukmin bekerja sebaik mungkin.
Berdoa dengan sungguh-sungguh.
Lalu menerima apa pun keputusan Allah dengan hati yang ridha.
Itulah tawakal yang sebenarnya.
Dalil
فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 159)
Inti Pesan
Perhatikan urutan dalam ayat tersebut.
Allah terlebih dahulu memerintahkan untuk memiliki tekad.
Artinya, ada usaha.
Ada perencanaan.
Ada kerja keras.
Setelah itu, barulah Allah memerintahkan untuk bertawakal.
Jadi, tawakal bukan pengganti usaha.
Tawakal adalah penyempurna usaha.
Kita tidak dapat mengendalikan hasil.
Tetapi kita dapat mengendalikan kesungguhan dalam berikhtiar.
Jika hasil sesuai harapan, kita bersyukur.
Jika hasil belum sesuai harapan, kita bersabar dan yakin bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.
Karena seorang mukmin tidak pernah rugi.
Ia selalu memperoleh pelajaran, kedewasaan, dan pahala dari setiap ikhtiarnya.
Kisah Teladan
Ketika Nabi Muhammad ﷺ berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau memberikan contoh tawakal yang sangat sempurna.
Beliau tidak hanya berdoa agar Allah menyelamatkannya.
Beliau juga menyusun strategi dengan sangat matang.
Beliau memilih waktu keberangkatan yang tepat.
Menunjuk Abdullah bin Abu Bakar untuk membawa informasi.
Meminta Asma binti Abu Bakar menyiapkan bekal.
Menggunakan Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang terpercaya, untuk menunjukkan rute yang tidak biasa.
Beliau bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq juga bersembunyi terlebih dahulu di Gua Tsur selama beberapa hari.
Ketika kaum Quraisy telah berada sangat dekat dengan mulut gua, Abu Bakar merasa khawatir.
Namun Rasulullah ﷺ berkata:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
(QS At-Taubah [9]: 40)
Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ menggabungkan ikhtiar yang maksimal dengan tawakal yang sempurna.
Beliau tidak hanya berusaha.
Beliau juga tidak hanya berdoa.
Beliau melakukan keduanya secara seimbang.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus demikian.
Jika ingin berhasil dalam pekerjaan, bekerjalah dengan sungguh-sungguh.
Jika ingin lulus ujian, belajarlah dengan tekun.
Jika ingin keluarga harmonis, bangunlah komunikasi yang baik.
Jika sedang sakit, berobatlah kepada ahlinya.
Setelah semua ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.
Jangan kecewa berlebihan jika hasil belum sesuai harapan.
Karena Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Terkadang kegagalan hari ini adalah jalan menuju keberhasilan yang lebih besar di masa depan.
Kunci
Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, tetapi memberikan usaha terbaik lalu mempercayakan hasil akhirnya kepada Allah Yang Maha Bijaksana.
Baca Juga:
Hati yang Bersih: Jalan Menuju Ketenangan dan Kedekatan dengan Allah
Aksi Hari Ini
Lakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya
Jangan menunda atau bermalas-malasan.
Perbanyak doa sebelum memulai setiap ikhtiar
Mohonlah pertolongan dan petunjuk kepada Allah.
Terimalah hasil dengan lapang dada
Karena setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah.
Jangan menyerah ketika gagal
Perbaiki ikhtiar, lalu bangun kembali dengan tawakal yang lebih kuat.
Biasakan mengucapkan “Hasbunallāhu wa ni’mal wakīl”
Sebagai pengingat bahwa Allah adalah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Sering kali kita terlalu sibuk mengkhawatirkan hasil hingga lupa menikmati proses yang sedang Allah ajarkan. Padahal di dalam proses itulah Allah membentuk kesabaran, kedewasaan, dan kekuatan iman seorang hamba.
Penutup
Jika hari ini engkau sedang berjuang,
teruslah berusaha.
Jika hari ini engkau sedang menunggu hasil,
teruslah berdoa.
Jika hari ini engkau menghadapi kegagalan,
jangan berhenti melangkah.
Karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha yang dilakukan dengan ikhlas.
Berusahalah seolah semuanya bergantung pada ikhtiarmu.
Lalu bertawakallah seolah semuanya bergantung kepada Allah.
Karena memang demikianlah seorang mukmin menjalani hidupnya.
Ia bekerja dengan sungguh-sungguh.
Ia berdoa dengan sepenuh hati.
Dan ia ridha atas setiap keputusan Rabb-nya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang kuat dalam ikhtiar, kokoh dalam tawakal, sabar ketika diuji, bersyukur ketika diberi nikmat, dan selalu yakin bahwa setiap ketetapan Allah adalah yang terbaik.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

