
Jika Hari Ini Adalah Hari Terakhir Kita
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 28 Juni 2026 | Hari 28 Minggu IV – Klimaks Minggu IV)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita memasuki puncak perenungan Minggu Keempat.
Selama beberapa hari terakhir kita telah diajak merenungkan waktu yang terus berkurang, pentingnya tidak menunda kebaikan, hakikat dunia yang hanya sementara, kematian yang pasti datang, dan bekal yang akan dibawa menghadap Allah.
Hari ini semua renungan itu bermuara pada satu pertanyaan yang sangat mendalam.
Sebuah pertanyaan yang mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.
Bagaimana jika hari ini adalah hari terakhir kita?
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti.
Bukan untuk membuat hidup terasa suram.
Tetapi untuk membangunkan hati yang mulai lalai.
Karena sering kali manusia hidup seolah masih memiliki waktu yang sangat panjang.
Padahal tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan perjalanan hidupnya akan berakhir.
Dalil
وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ
“Dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan dikerjakannya besok, dan tidak seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.”
(QS Luqman [31]: 34)
Inti Pesan
Coba bayangkan sejenak.
Jika Allah menetapkan bahwa hari ini adalah hari terakhir kita hidup di dunia.
Apa yang akan kita lakukan?
Apakah masih ada salat yang ingin kita perbaiki?
Apakah masih ada dosa yang ingin kita taubati?
Apakah masih ada orang yang ingin kita mintai maaf?
Apakah masih ada orang tua yang ingin kita bahagiakan?
Apakah masih ada kebaikan yang selama ini terus kita tunda?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali membuka kesadaran yang selama ini tertutup oleh kesibukan dunia.
Karena ketika seseorang menyadari bahwa hidup bisa berakhir kapan saja, prioritas hidupnya akan berubah.
Hal-hal yang dahulu dianggap sangat penting mulai terlihat kecil.
Sedangkan hal-hal yang selama ini diabaikan justru terlihat sangat berharga.
Kita akan lebih menghargai waktu.
Lebih menghargai keluarga.
Lebih menghargai ibadah.
Lebih menghargai kesempatan berbuat baik.
Dan lebih menghargai hubungan dengan Allah.
Masalahnya, banyak manusia baru menyesal ketika kesempatan itu telah berakhir.
Padahal Allah masih memberikan kita waktu hari ini.
Masih memberikan napas.
Masih memberikan kesempatan memperbaiki diri.
Masih memberikan kesempatan untuk kembali.
Karena itu, seorang mukmin yang cerdas bukanlah yang menunggu tanda-tanda kematian.
Melainkan yang mempersiapkan diri setiap hari seolah hari itu bisa menjadi hari terakhirnya.
Bukan dengan ketakutan yang berlebihan.
Tetapi dengan kesadaran bahwa setiap hari adalah kesempatan berharga yang tidak boleh disia-siakan.
Kunci
Orang yang siap menghadapi kematian adalah orang yang memanfaatkan hidupnya untuk memperbaiki diri setiap hari.
Baca Juga:
Kematian Tidak Pernah Menunggu Kita Siap
Aksi Hari Ini
Lakukan muhasabah sebelum tidur
Tanyakan kepada diri sendiri apa yang akan disesali jika hari ini adalah hari terakhir.
Perbaiki hubungan dengan Allah
Melalui salat, doa, dan istighfar yang lebih sungguh-sungguh.
Selesaikan kesalahan yang masih bisa diperbaiki
Jangan menunda meminta maaf atau memaafkan.
Perbanyak amal saleh
Karena tidak ada yang tahu kapan kesempatan berakhir.
Syukuri setiap hari yang masih diberikan Allah
Karena setiap hari adalah kesempatan tambahan untuk memperbaiki diri.
Banyak orang merencanakan masa depan bertahun-tahun ke depan. Namun sedikit yang benar-benar mempersiapkan diri jika hidupnya berakhir hari ini. Padahal kesadaran akan kematian bukan untuk menghentikan kehidupan, melainkan untuk membuat hidup lebih bermakna.
Penutup
Jika hari ini adalah hari terakhir kita,
apakah kita siap?
Apakah hati kita sudah tenang?
Apakah salat kita sudah terjaga?
Apakah hubungan kita dengan Allah sudah baik?
Apakah hubungan kita dengan sesama sudah selesai?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan kata-kata.
Jawablah dengan perubahan.
Jawablah dengan amal.
Jawablah dengan perbaikan diri.
Karena selama kita masih hidup,
Allah masih memberi kesempatan.
Selama napas masih berhembus,
pintu taubat masih terbuka.
Dan selama matahari masih terbit untuk kita,
kesempatan menjadi hamba yang lebih baik masih tersedia.
Maka jangan tunggu esok.
Jangan tunggu nanti.
Mulailah hari ini.
Karena tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah masih akan bertemu dengan hari berikutnya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

