
DARAH TUMPAH DI KOTA METRO!” — Direktur Kabar Negeri Plus Murka, Desak Polisi Bongkar Tuntas Jaringan Bank Keliling dan Senjata Api Penagih Utang.
Kabar Negeri Plus | Metro — Insiden penembakan yang mengguncang Kota Metro beberapa waktu terakhir terus menuai kemarahan publik. Peristiwa yang diduga dipicu persoalan utang piutang itu kini menjadi sorotan tajam berbagai pihak, termasuk Direktur Media Kabar Negeri Plus, Dangs Yuli Fransyah.
Dalam pernyataannya, Dangs Yuli Fransyah mengecam keras aksi brutal yang menewaskan seorang warga tersebut. Ia menilai kejadian itu sebagai bentuk nyata dari semakin liarnya praktik penagihan utang di lapangan yang diduga sudah melampaui batas kemanusiaan.
“Ini tindakan biadab dan tidak bisa ditoleransi. Kota Metro tidak boleh dibiarkan menjadi tempat tumbuhnya aksi premanisme berkedok penagihan utang. Aparat harus bertindak tegas dan membongkar semuanya sampai ke akar,” tegasnya.
Menurut Dangs, kasus ini tidak cukup hanya berhenti pada pelaku penembakan. Ia meminta aparat penegak hukum menelusuri seluruh rantai yang berkaitan dengan aktivitas bank keliling maupun pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik penagihan di lapangan.
Ia mempertanyakan legalitas usaha pinjaman yang dijalankan, sistem penagihan yang digunakan, hingga kepemilikan senjata api yang diduga dipakai dalam aksi berdarah tersebut.
“Bagaimana mungkin seorang penagih bisa membawa senjata api? Dari mana asal senjata itu? Apakah legal atau ilegal? Ini harus dibuka terang-benderang di depan publik,” lanjutnya.
Tak hanya itu, Dangs Yuli Fransyah juga mendesak pihak Otoritas Jasa Keuangan untuk turun tangan secara serius melakukan penertiban terhadap seluruh pelaku usaha pinjaman berbunga tinggi, baik yang resmi maupun yang diduga ilegal dan tidak terdaftar.
Menurutnya, maraknya praktik pinjaman dengan bunga tinggi telah menimbulkan tekanan besar bagi masyarakat kecil dan berpotensi memicu konflik sosial di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Saya meminta OJK jangan hanya diam melihat praktik pinjaman berbunga tinggi menjamur di tengah masyarakat. Semua harus ditertibkan, baik yang resmi maupun yang tidak resmi. Jangan sampai rakyat terus menjadi korban sistem pinjaman yang mencekik,” ujar Dangs.
Ia menilai pengawasan terhadap usaha pinjaman dan pola penagihannya harus diperketat agar tidak berkembang menjadi aksi intimidasi, kekerasan, hingga teror terhadap masyarakat.
“Kalau ada usaha pinjaman yang melanggar aturan, melakukan tekanan, ancaman, atau praktik tidak manusiawi kepada nasabah, maka harus ditindak tegas. Negara tidak boleh kalah dengan praktik-praktik seperti ini,” katanya.
Dangs juga menyoroti keresahan masyarakat terhadap praktik pinjaman berbunga tinggi yang marak menyasar warga kecil. Menurutnya, banyak masyarakat yang awalnya mencari jalan keluar dari tekanan ekonomi justru terjebak dalam lingkaran intimidasi dan ancaman.
“Rakyat kecil sering kali tidak punya pilihan. Saat ekonomi sulit, mereka meminjam untuk bertahan hidup. Tapi jangan sampai kesulitan ekonomi dibalas dengan teror dan kekerasan,” katanya lagi.
Ia meminta aparat kepolisian bergerak cepat mengusut seluruh fakta di lapangan, termasuk kemungkinan adanya jaringan yang lebih besar di balik praktik penagihan tersebut.
Dangs menegaskan bahwa penegakan hukum harus dilakukan secara transparan agar kepercayaan masyarakat tidak runtuh.
“Kami mendukung penuh aparat untuk menindak tegas siapa pun yang terlibat. Jangan ada yang dilindungi. Jika ada unsur pidana, tangkap. Jika ada usaha ilegal, tutup. Jika ada kepemilikan senjata tanpa izin, proses sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya.
Hingga kini, suasana duka dan ketakutan masih menyelimuti sebagian masyarakat pasca peristiwa penembakan tersebut.
Warga berharap aparat dapat segera mengungkap motif, pelaku, serta seluruh pihak yang diduga terkait agar kejadian serupa tidak kembali terulang di Kota Metro.
(Dok.KN +/Admin)

