
Jangan Berhenti Memohon Ampunan Kepada Allah
Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian 13 | 13 September 2026
Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Alhamdulillāh, pagi kembali menyapa kita.
Masih diberi kesempatan untuk bernapas.
Masih diberi kesempatan untuk melihat dunia.
Masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Dan yang paling penting, masih diberi kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Sebab tidak ada manusia yang hidup tanpa pernah melakukan kesalahan.
Ada dosa yang dilakukan karena kelemahan.
Ada kesalahan karena kelalaian.
Ada ucapan yang melukai orang lain.
Ada janji yang tidak ditepati.
Ada kewajiban yang pernah ditinggalkan.
Ada dosa yang bahkan kita sembunyikan rapat-rapat agar tidak diketahui manusia.
Namun ada satu hal yang jangan pernah kita lakukan:
Jangan sampai dosa membuat kita berhenti mendekat kepada Allah.
Justru ketika menyadari kesalahan, saat itulah kita harus lebih dekat kepada-Nya.
Allah Membuka Pintu Ampunan
Allah SWT berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini memberikan harapan yang begitu besar.
Allah tidak mengatakan bahwa manusia tidak pernah berdosa.
Allah justru berbicara kepada hamba-hamba yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri.
Tetapi mereka tetap dipanggil:
“Wahai hamba-hamba-Ku.”
Betapa luas rahmat Allah.
Dosa tidak membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk kembali.
Selama hidup masih ada, pintu taubat masih terbuka.
Jangan Biarkan Setan Membisikkan Keputusasaan
Salah satu bahaya setelah melakukan dosa adalah munculnya rasa malu yang berlebihan kepada Allah.
Seseorang berkata dalam hatinya:
“Dosaku terlalu banyak.”
“Aku sudah terlalu jauh.”
“Bagaimana mungkin Allah mengampuniku?”
“Tidak mungkin aku menjadi orang baik lagi.”
Pikiran seperti itu dapat membuat seseorang semakin jauh dari Allah.
Padahal yang kita butuhkan bukan menjauh.
Kita membutuhkan taubat.
Jangan menunggu menjadi manusia sempurna untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah sekarang.
Dengan keadaan kita yang masih penuh kekurangan.
Dengan air mata yang mungkin belum mampu keluar.
Dengan hati yang masih berat.
Dengan dosa yang masih kita sesali.
Datanglah kepada Allah.
Istighfar Bukan Sekadar Ucapan
Kita sering mengucapkan:
Astaghfirullāh.
Tetapi sudahkah hati kita memahami maknanya?
Istighfar berarti memohon ampun kepada Allah.
Namun istighfar bukan sekadar gerakan lisan.
Ia seharusnya diikuti kesadaran bahwa kita telah melakukan kesalahan dan keinginan untuk memperbaiki diri.
Jika seseorang menyadari bahwa ia berbuat salah kepada manusia, maka ia juga perlu memperbaiki hubungan dengan orang tersebut.
Jika ia meninggalkan kewajiban, ia perlu berusaha memperbaikinya sesuai kemampuannya.
Jika ia melakukan maksiat, ia perlu meninggalkannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
Taubat bukan hanya mengatakan “maaf”, tetapi juga berusaha berubah.
Taubat Tidak Harus Menunggu Tua
Ada manusia yang berkata:
“Nanti saja saya bertaubat kalau sudah tua.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi siapa yang menjamin kita akan sampai pada usia tua?
Kematian tidak menunggu seseorang menyelesaikan semua rencananya.
Karena itu, jangan menunda taubat.
Jika hari ini sadar telah melakukan kesalahan, maka hari ini pula perbaikilah.
Jika malam tadi kita melakukan kesalahan, jangan biarkan pagi ini berlalu tanpa istighfar.
Jika kemarin kita lalai, jangan ulangi kelalaian itu hari ini.
Kesempatan terbaik untuk bertaubat adalah ketika hati masih diberi kesadaran.
Sebuah Kisah tentang Kesempatan Kedua
Bayangkan seorang laki-laki yang bertahun-tahun menjalani hidup tanpa banyak memikirkan akhirat.
Ia mengejar pekerjaan.
Mengejar uang.
Mengejar pengakuan.
Waktu untuk keluarga sedikit.
Waktu untuk ibadah sering ditunda.
Suatu hari ia duduk sendirian setelah salat.
Tidak ada orang yang menegurnya.
Tidak ada yang memarahinya.
Tetapi tiba-tiba ia teringat begitu banyak waktu yang telah berlalu.
Ia menundukkan kepala.
Kemudian perlahan mengucapkan:
“Astaghfirullāh.”
Hanya satu kalimat.
Namun hari itu menjadi titik awal perubahan dalam hidupnya.
Ia mulai memperbaiki salat.
Meminta maaf kepada keluarganya.
Mengurangi kebiasaan buruk.
Lebih berhati-hati dalam berbicara.
Tidak langsung menjadi manusia sempurna.
Tetapi ia mulai berubah.
Kisah tersebut merupakan ilustrasi, bukan kisah sejarah tertentu.
Pesannya sederhana:
Taubat tidak menuntut kita langsung menjadi sempurna. Taubat menuntut kita mau kembali dan terus memperbaiki diri.
Jangan Menunggu Hati Bersih untuk Berdzikir
Ada orang yang merasa dirinya terlalu kotor untuk banyak berdzikir.
Padahal justru hati yang kotor membutuhkan dzikir.
Ada yang merasa terlalu banyak dosa untuk membaca Al-Qur’an.
Padahal Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia.
Ada yang malu datang ke masjid karena merasa dirinya penuh kesalahan.
Padahal rumah Allah bukan tempat khusus bagi manusia yang merasa dirinya sudah sempurna.
Jangan tunggu hati bersih untuk mendekat kepada Allah.
Dekatilah Allah agar hati kita dibersihkan dan diperbaiki.
Rasulullah SAW Juga Banyak Beristighfar
Rasulullah SAW adalah manusia pilihan Allah.
Namun beliau tetap memperbanyak istighfar.
Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau beristighfar kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.
Dalam riwayat lain disebutkan seratus kali sehari.
Pelajaran bagi kita sangat besar.
Jika Rasulullah SAW yang telah dijaga Allah dari dosa masih memperbanyak istighfar, bagaimana dengan kita yang begitu banyak kekurangan?
Maka jangan merasa istighfar tidak penting.
Jangan merasa istighfar hanya untuk orang yang baru melakukan dosa besar.
Istighfar adalah kebutuhan hati setiap hari.
Memohon Ampunan Juga Mengajarkan Kerendahan Hati
Orang yang terbiasa beristighfar akan belajar mengakui bahwa dirinya tidak sempurna.
Ia tidak mudah merasa paling benar.
Ia tidak mudah menghakimi orang lain.
Sebab ia sadar:
Dirinya sendiri masih membutuhkan ampunan Allah.
Karena itu, istighfar bukan hanya membersihkan hubungan kita dengan Allah.
Istighfar juga dapat mendidik hati agar lebih rendah hati terhadap sesama manusia.
Sebelum sibuk menghitung kesalahan orang lain, mari menghitung kesalahan diri sendiri.
Sebelum merasa lebih baik dari orang lain, mari bertanya:
“Sudahkah aku benar-benar memperbaiki diriku?”
Jika Pernah Jatuh, Bangkitlah
Saudaraku,
Mungkin ada di antara kita yang pernah jatuh berkali-kali.
Sudah bertaubat, kemudian tergelincir lagi.
Sudah berjanji meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi kembali mengulanginya.
Jangan menjadikan kegagalan itu alasan untuk berhenti bertaubat.
Jika jatuh, bangkit.
Jika salah, perbaiki.
Jika tergelincir, kembali.
Jangan bosan mengetuk pintu ampunan Allah.
Namun taubat juga bukan alasan untuk sengaja terus melakukan dosa dengan pikiran, “Nanti tinggal bertaubat.”
Taubat yang benar harus disertai penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Jika dosa berkaitan dengan hak manusia, hak tersebut juga harus diselesaikan sesuai kemampuan dan ketentuannya.
Jangan bermain-main dengan dosa. Tetapi jangan pula berputus asa dari rahmat Allah.
Renungan Subuh Hari Ini
Pagi ini, sebelum memulai kesibukan, mari berhenti sejenak.
Tarik napas.
Tenangkan hati.
Lalu tanyakan kepada diri sendiri:
Kesalahan apa yang selama ini belum sungguh-sungguh aku tinggalkan?
Siapa yang pernah terluka karena perkataan atau perbuatanku?
Kewajiban apa yang masih sering aku abaikan?
Dan yang paling penting:
Kapan terakhir kali aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dengan hati yang menyesal?
Jangan hanya mengucapkan istighfar dengan lisan.
Biarkan istighfar menjadi awal perubahan.
Baca Juga:
Perbaiki Niat Sebelum Memulai Setiap Amal
Aksi Hari Ini
Hari ini, biasakan memperbanyak istighfar.
Ucapkan dengan sadar:
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
Astaghfirullāh.
“Aku memohon ampun kepada Allah.”
Luangkan waktu setelah salat untuk merenungkan kesalahan diri.
Jika ada kesalahan kepada orang tua, mintalah maaf.
Jika ada ucapan yang menyakiti pasangan atau keluarga, perbaiki.
Jika ada amanah yang belum diselesaikan, tunaikan.
Jika ada kebiasaan buruk yang ingin ditinggalkan, mulai hari ini ambil satu langkah nyata.
Dan jangan lupa berdoa:
“Ya Allah, ampuni aku dan bantu aku agar tidak kembali kepada kesalahan yang sama.”
Jangan Pernah Berhenti Kembali
Saudaraku,
Kita tidak tahu berapa banyak waktu yang masih Allah berikan.
Karena itu, jangan habiskan sisa umur hanya untuk menyesali masa lalu.
Gunakan hari ini untuk memperbaikinya.
Masa lalu tidak dapat diulang.
Tetapi taubat dapat mengubah arah kehidupan kita.
Jangan biarkan dosa membuat kita merasa tidak layak mendekat kepada Allah.
Justru dosa seharusnya membuat kita semakin membutuhkan ampunan-Nya.
Selama Allah masih memberikan kita kehidupan, berarti masih ada kesempatan untuk kembali.
Maka perbanyaklah istighfar.
Perbaiki diri.
Tinggalkan maksiat.
Kembalikan hak orang lain.
Perbaiki ibadah.
Dan jangan pernah berhenti berharap kepada rahmat Allah.
Semoga setiap Astaghfirullāh yang kita ucapkan hari ini bukan hanya menjadi suara di bibir, tetapi menjadi awal perubahan di dalam hati.
Ya Allah, kami memohon ampun atas dosa-dosa kami.
Ampuni kesalahan yang kami lakukan dengan sengaja maupun karena kelalaian. Ampuni dosa yang kami ketahui dan yang tidak kami sadari.
Ya Allah, jangan biarkan dosa membuat hati kami jauh dari-Mu.
Berikan kami kekuatan untuk meninggalkan keburukan, keberanian untuk memperbaiki kesalahan, dan kerendahan hati untuk meminta maaf kepada mereka yang pernah kami sakiti.
Jika kami jatuh, tuntun kami untuk bangkit. Jika kami tersesat, kembalikan kami ke jalan-Mu. Jika hati kami keras, lembutkan dengan dzikir dan ketaatan.
Terimalah taubat kami sebelum ajal datang. Teguhkan iman kami sampai akhir kehidupan dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Dok. KN+ Zea Safitri

