
Bukan Sekadar Datang, Bicara, Lalu Pulang! Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung Gebrak Lapangan, Sosialisasikan Program Dewan Tani untuk Angkat Kesejahteraan Petani dan Nelayan
LAMPUNG — KABAR NEGERI PLUS — Petani tidak membutuhkan janji yang hanya terdengar manis di atas podium. Nelayan tidak membutuhkan slogan yang berhenti di spanduk. Yang mereka butuhkan adalah program yang benar-benar sampai ke lapangan dan mampu mengubah persoalan menjadi solusi.
Di tengah berbagai persoalan yang masih menghimpit sektor pertanian dan perikanan, Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung mulai mengambil langkah yang lebih konkret. Organisasi ini mendorong penguatan komunikasi langsung dengan petani dan nelayan melalui pensosialisasian berbagai program Dewan Tani Merdeka Indonesia, dengan satu tujuan utama: mendorong peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat tani dan nelayan.
Langkah tersebut bukan sekadar agenda organisasi.
Ini adalah upaya untuk memastikan bahwa program yang dirancang bagi petani dan nelayan tidak berhenti sebagai dokumen, wacana, atau pembahasan di ruang rapat.
Petani Jangan Hanya Dijadikan Angka Statistik
Selama bertahun-tahun, persoalan petani kerap muncul dalam berbagai forum ketika berbicara mengenai ketahanan dan swasembada pangan.
Namun pertanyaan yang jauh lebih penting adalah:
Seberapa besar kesejahteraan petani benar-benar ikut meningkat?
Harga hasil panen, ketersediaan pupuk, akses permodalan, biaya produksi, teknologi, distribusi hasil pertanian, akses pasar hingga persoalan regenerasi petani merupakan tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan seremonial.
Begitu pula dengan nelayan.
Persoalan bahan bakar, alat tangkap, akses permodalan, pemasaran hasil tangkapan, fasilitas penyimpanan, perlindungan usaha hingga kepastian pasar merupakan realitas yang membutuhkan keberpihakan dan kerja nyata.
Karena itu, Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung menilai sosialisasi program harus dilakukan secara langsung dan menyentuh kebutuhan masyarakat.
Bukan sekadar memperkenalkan nama program, tetapi menjelaskan bagaimana program tersebut dapat dimanfaatkan dan diperjuangkan agar benar-benar memberikan manfaat.
Dari Ruang Rapat ke Tengah Sawah dan Pesisir
Gebrakan DPW Lampung ini menjadi penting karena keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh bagusnya konsep.
Program akan kehilangan makna apabila tidak dipahami oleh masyarakat yang menjadi sasaran.
Petani harus mengetahui apa yang menjadi hak, peluang, akses dan fasilitas yang dapat mereka manfaatkan.
Nelayan juga harus mengetahui jalur program, peluang pengembangan usaha, penguatan kelembagaan serta ruang perjuangan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kehidupan mereka.
Di titik inilah Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung ingin mengambil peran.
Membawa informasi dari tingkat kebijakan menuju masyarakat bawah.
Dan sebaliknya, membawa suara masyarakat tani dan nelayan dari lapangan untuk menjadi bahan perjuangan organisasi.
Jangan Sampai Program Bagus Hanya Berhenti di Atas Kertas
Ada satu persoalan yang tidak boleh diabaikan.
Program pemerintah maupun program organisasi akan sulit menghasilkan perubahan apabila masyarakat tidak mendapatkan informasi yang utuh.
Karena itu, sosialisasi menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran dan kekuatan masyarakat tani serta nelayan.
Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung diharapkan tidak hanya menjadi organisasi yang hadir ketika ada momentum besar, tetapi mampu membangun konsolidasi secara berkelanjutan.
Mulai dari tingkat wilayah hingga menyentuh kelompok-kelompok petani dan nelayan di lapangan.
Dengan pola tersebut, organisasi dapat mengetahui secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.
Apa yang menjadi masalah? Apa yang dibutuhkan? Program apa yang bisa dimanfaatkan? Dan siapa yang harus didorong untuk memberikan solusi?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting agar perjuangan terhadap kesejahteraan petani dan nelayan tidak kehilangan arah.
Kesejahteraan Petani Harus Menjadi Ukuran Keberhasilan
Swasembada pangan tidak boleh hanya dimaknai sebagai kemampuan menghasilkan pangan dalam jumlah besar.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah petani yang menghasilkan pangan tersebut hidup lebih sejahtera?
Jika produksi meningkat tetapi biaya produksi semakin berat, harga hasil panen tidak memberikan keuntungan yang layak, akses pasar sulit dan petani terus bergantung pada berbagai pihak, maka perjuangan belum selesai.
Demikian pula dengan nelayan.
Jika hasil laut melimpah tetapi pendapatan nelayan tetap tidak stabil, maka persoalan kesejahteraan masih membutuhkan perhatian serius.
Karena itu, Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung membawa pesan bahwa petani dan nelayan harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan.
Gebrakan Ini Harus Dikawal Sampai Terlihat Hasilnya
Sosialisasi program merupakan langkah awal.
Tantangan berikutnya justru jauh lebih berat: pengawalan.
Program harus dipastikan benar-benar dipahami, dapat diakses, tepat sasaran dan memberikan manfaat.
Di sinilah masyarakat dapat melihat apakah sebuah gerakan benar-benar memiliki keberpihakan atau hanya berhenti pada retorika.
Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung kini mempunyai ruang besar untuk membangun kekuatan tersebut.
Dengan memperkuat konsolidasi petani dan nelayan, memperluas sosialisasi program Dewan Tani Merdeka Indonesia serta membuka ruang komunikasi langsung dengan masyarakat, organisasi ini dapat menjadi salah satu simpul penting dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat tani dan nelayan di Lampung.
Sebab pada akhirnya, ukuran perjuangan bukan seberapa keras sebuah organisasi berbicara, tetapi seberapa nyata perubahan yang dirasakan masyarakat.
Dan bagi petani serta nelayan, perubahan itu sederhana:
penghasilan meningkat, biaya usaha lebih terkendali, akses pasar terbuka, usaha lebih kuat, dan kehidupan keluarga menjadi lebih layak.
Kalau program benar-benar untuk petani dan nelayan, maka program itu harus sampai kepada mereka. Bukan berhenti di atas kertas. Bukan berhenti di ruang rapat. Dan bukan berhenti menjadi slogan.
Tani Merdeka Indonesia DPW Lampung kini ditantang membuktikannya di lapangan.
(Dok.KN +/Admin)

