surat al-humazah: ketika lisan dan jari kita bisa menjadi jalan menuju kehancuran

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Pernakah kita menertawakan kekurangan seseorang, membicarakan aibnya, memberi julukan yang menyakitkan, atau merasa lebih tinggi hanya karena memiliki harta dan kedudukan?


Hati-hati.
Bisa jadi sesuatu yang kita anggap hanya candaan, bagi orang lain adalah luka. Bisa jadi kalimat yang keluar begitu saja dari lisan, atau komentar yang kita tulis di media sosial, justru menjadi sesuatu yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.


Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras tentang perilaku tersebut melalui Surat Al-Humazah, surat ke-104 dalam Al-Qur’an yang terdiri dari sembilan ayat dan termasuk golongan surat Makkiyah.
ancaman keras bagi pengumpat dan pencela
Allah SWT berfirman:


“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya.”
(QS. Al-Humazah: 1–2)


Ayat ini langsung mengetuk hati kita.
Allah memperingatkan orang yang gemar mencela dan merendahkan orang lain, sekaligus memperingatkan manusia yang begitu mencintai harta hingga terus menghitung dan membanggakannya.
Apa yang sebenarnya membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain?


Harta?
Jabatan?
Kecantikan?
Pendidikan?
Kekuasaan?
Pengikut yang banyak?


Semua itu tidak menjadikan manusia lebih mulia di hadapan Allah jika tidak disertai ketakwaan.


apa arti al-humazah dan al-lumazah?
Secara umum, istilah humazah dan lumazah berkaitan dengan perilaku mencela, merendahkan, menggunjing, atau menyakiti kehormatan orang lain, baik melalui perkataan, isyarat, maupun sikap.


Perilaku itu terkadang muncul dalam bentuk yang dianggap sepele.
Menertawakan kekurangan fisik seseorang.


Membicarakan aibnya ketika ia tidak ada.
Memberikan julukan yang membuatnya malu.
Mengejek pekerjaan dan kondisi ekonominya.
Merendahkan orang karena penampilannya.


Atau merasa diri lebih hebat karena memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Padahal, luka akibat ucapan terkadang tidak terlihat, tetapi bekasnya bisa bertahan sangat lama.


jangan sampai jari menjadi perpanjangan lisan
Di zaman media sosial, bentuk penghinaan tidak lagi hanya dilakukan secara langsung.


Jari kita bisa menjadi “lisan” yang berbicara.
Satu komentar bisa merendahkan.
Satu unggahan bisa mempermalukan.
Satu potongan video bisa disebarkan tanpa konteks.


Satu kalimat bisa membuat seseorang menjadi bahan tertawaan ribuan orang.
Karena itu, pesan Surat Al-Humazah terasa begitu dekat dengan kehidupan kita hari ini.


Sebelum mengetik, pikirkan.
Sebelum membagikan, periksa.
Sebelum mencela, berkacalah.


Jangan sampai sesuatu yang kita tulis dalam hitungan detik menjadi penyesalan yang panjang.
jangan merasa harta akan membuat kita kekal
Allah SWT melanjutkan:


“Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya.”
(QS. Al-Humazah: 3)


Inilah salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya.
Ketika harta semakin banyak, seseorang bisa lupa bahwa semua yang dimilikinya hanyalah titipan Allah.


Ia mulai merasa aman.
Ia merasa memiliki kekuatan.
Ia merasa lebih tinggi daripada orang lain.


Bahkan, tanpa sadar ia menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan manusia.
Padahal, sebanyak apa pun harta yang dikumpulkan, kematian tetap akan datang.
Rumah yang megah tidak ikut masuk ke dalam kubur.


Jabatan tidak ikut menjadi teman di alam kubur.
Pengikut dan popularitas tidak bisa menahan kematian.
Harta yang selama ini dihitung tidak dapat membuat manusia hidup selamanya.
al-huthamah: peringatan yang tidak boleh dianggap ringan
Allah SWT kemudian memberikan peringatan:


“Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Huthamah.”
(QS. Al-Humazah: 4)


Al-Qur’an menggambarkan Al-Huthamah sebagai neraka yang apinya dinyalakan oleh Allah dan menjalar sampai ke hati.
Peringatan ini menunjukkan bahwa merendahkan dan mencela manusia bukan perkara yang pantas dianggap remeh.
Sebab yang disakiti bukan hanya perasaan manusia, tetapi juga kehormatan yang harus dijaga.
surat al-humazah adalah cermin untuk diri kita


Surat ini bukan sekadar kisah tentang orang-orang pada masa lalu.
Ia adalah cermin untuk kita hari ini.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:


Apakah kita pernah menertawakan kekurangan orang lain?
Apakah kita pernah membicarakan aib seseorang?
Apakah kita pernah merasa lebih tinggi karena harta?
Apakah kita pernah merendahkan pekerjaan orang lain?
Apakah kita pernah menulis komentar yang menyakitkan hanya karena berbeda pendapat?


Atau jangan-jangan kita sibuk melihat kesalahan orang lain, sementara lupa membersihkan hati sendiri?
Inilah saatnya berhenti sejenak dan bercermin.
Sebab orang yang benar-benar memahami kehidupan tidak akan sibuk mencari kehormatan dengan menjatuhkan orang lain.


jangan bangun harga diri dengan merendahkan orang lain
Kemuliaan tidak lahir dari kemampuan menghina.
Kekuatan tidak terlihat dari keberanian mempermalukan orang lain.


Kekayaan tidak menjadikan seseorang kekal.
Dan jabatan tidak membuat manusia lebih tinggi di hadapan Allah.
Maka, sebelum lisan mencela, tahanlah.


Sebelum jari mengetik sesuatu yang menyakitkan, berhentilah.
Sebelum menyebarkan aib seseorang, pikirkan akibatnya.
Dan sebelum merasa lebih tinggi dari orang lain, ingatlah bahwa kita semua akan kembali kepada Allah.


Surat Al-Humazah mengajarkan satu pesan yang sangat dalam:
Jangan mencari kemuliaan dengan merendahkan manusia. Jangan menjadikan harta sebagai alasan untuk menyombongkan diri. Dan jangan biarkan lisan maupun jari kita menjadi sebab orang lain terluka.


Karena pada akhirnya, yang menentukan keselamatan kita bukan seberapa banyak orang yang berhasil kita rendahkan, tetapi seberapa baik kita menjaga lisan, hati, perbuatan, dan amanah yang Allah titipkan.


Mari bercermin sebelum mencela.
Mari menjaga lisan sebelum terlambat.
Mari merendahkan hati sebelum kematian datang.

Wassalam.

(Dok. KN+ By Admin.)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *