
Dari Desa Karang Anom Menembus Senayan, Chusnunia Chalim dan Jejak Perempuan Lampung di Panggung Politik Nasional
LAMPUNG TIMUR — KABAR NEGERI PLUS — Tidak semua perjalanan menuju panggung politik nasional dimulai dari pusat kekuasaan. Ada yang justru berangkat dari sebuah desa kecil, tumbuh dalam kesederhanaan, ditempa pendidikan, lalu perlahan membangun jalan hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis.
Kisah itu salah satunya datang dari Chusnunia Chalim, sosok perempuan asal Lampung Timur yang lebih akrab disapa Mbak Nunik.
Lahir di Desa Karang Anom, Kecamatan Waway Karya, Lampung Timur, pada 12 Juli 1982, Nunik tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ia merupakan putri KH Abdul Halim dan Kholisoh. Nilai-nilai keislaman, pendidikan, serta kepedulian terhadap kehidupan sosial menjadi bagian dari lingkungan yang membentuk karakter dirinya sejak masa kanak-kanak.
Dari desa itulah perjalanan panjangnya dimulai.
Pendidikan Menjadi Tangga Pertama
Perjalanan Nunik tidak berhenti pada pendidikan dasar. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 2 Sumber Rejo, kemudian SMP Negeri 3 Jabung dan SMA Negeri Mayong, Jepara.
Langkah berikutnya membawanya ke IAIN Walisongo Semarang. Pada 2005, ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum Ekonomi Syariah.
Namun bagi Nunik, pendidikan bukan garis akhir.
Ia kembali melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar S2 Ilmu Politik di Universitas Nasional pada 2011 dan S2 Kenotariatan di Universitas Indonesia pada 2014. Perjalanan akademiknya bahkan berlanjut hingga jenjang doktoral di Universitas Malaya, Kuala Lumpur.
Tidak berhenti di sana, ia juga meraih gelar Sarjana Hukum dari Universitas Sang Bumi Rawa Jurai pada 2020.
Deretan pendidikan tersebut menjadi modal intelektual yang kemudian mengiringi langkahnya memasuki dunia politik.
Dari Senayan, Berlanjut Memimpin Lampung Timur
Karier politik Nunik mulai mendapatkan panggung besar ketika dirinya terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2009–2014 melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
Di Senayan, ia dikenal sebagai politisi muda yang aktif menyuarakan berbagai persoalan, termasuk isu perempuan dan lingkungan.
Namun perjalanan politiknya tidak berhenti di gedung parlemen.
Pada 2016, sebuah catatan sejarah tercipta.
Chusnunia Chalim menjadi perempuan pertama yang dipercaya memimpin Kabupaten Lampung Timur sebagai bupati.
Posisi tersebut bukan sekadar jabatan, tetapi juga menjadi simbol bahwa perempuan Lampung mampu mengambil peran di ruang kepemimpinan daerah.
Dalam menjalankan pemerintahan, sejumlah perhatian diarahkan pada pembangunan infrastruktur desa, pemberdayaan perempuan hingga pengembangan sektor pariwisata.
Salah satu yang mendapat perhatian adalah Taman Nasional Way Kambas. Nunik turut mendorong kawasan konservasi tersebut agar semakin dikenal sebagai destinasi wisata, bukan hanya di tingkat nasional, tetapi juga internasional.
Way Kambas pun menjadi bagian penting dari perjalanan kepemimpinannya. Bahkan, kelahiran sejumlah anak gajah di kawasan konservasi tersebut menjadi salah satu cerita yang turut mewarnai masa kepemimpinannya.
Dari Bupati ke Kursi Wakil Gubernur
Karier politik Nunik kembali menanjak.
Pada 2019, ia terpilih sebagai Wakil Gubernur Lampung mendampingi Arinal Djunaidi.
Posisi tersebut kembali menempatkan perempuan asal Lampung Timur itu pada level kepemimpinan yang lebih luas.
Gaya kepemimpinannya pun kerap digambarkan membumi. Ia tidak selalu hadir dengan jarak formal seorang pejabat, tetapi berusaha membangun kedekatan dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan rakyat dan budaya.
Festival masyarakat, kegiatan olahraga unik hingga perlombaan tradisional menjadi warna tersendiri dalam pendekatan politiknya.
Di balik panggung kekuasaan, ada upaya membangun komunikasi dengan masyarakat melalui cara yang lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Kembali ke Panggung Nasional
Setelah melalui perjalanan panjang dari legislatif, kepala daerah hingga wakil gubernur, Nunik kembali dipercaya masyarakat.
Pada periode 2024–2029, ia kembali duduk sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Lampung II.
Sebuah perjalanan yang jika ditarik ke belakang menunjukkan satu garis panjang:
dari desa kecil di Lampung Timur, menuju Senayan, kembali memimpin daerah, naik ke tingkat provinsi, lalu kembali ke panggung politik nasional.
Kiprahnya pun tidak hanya tercatat di tingkat lokal dan nasional.
Pada 2012, Nunik pernah menjadi delegasi DPR RI dalam forum ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA), membawa kiprah Indonesia ke ruang parlemen regional Asia Tenggara.
Perempuan, Politik dan Sebuah Perjalanan Panjang
Kisah Chusnunia Chalim bukan semata tentang jabatan.
Lebih dari itu, perjalanan tersebut menggambarkan bagaimana seorang perempuan dari daerah dapat membangun karier politik melalui pendidikan, pengalaman organisasi, perjuangan politik dan kepercayaan masyarakat.
Dari Karang Anom, Waway Karya, namanya kemudian dikenal di Lampung, Jakarta hingga forum regional.
Jejaknya menjadi salah satu gambaran tentang semakin terbukanya ruang bagi perempuan untuk mengambil bagian dalam politik dan pemerintahan.
Tetapi perjalanan politik selalu membawa konsekuensi: semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula harapan dan sorotan publik yang mengikutinya.
Karena itu, sejarah perjalanan seorang tokoh politik pada akhirnya bukan hanya diukur dari berapa banyak jabatan yang pernah diduduki, melainkan dari seberapa besar keberadaannya mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat yang pernah memberikan kepercayaan.
Chusnunia Chalim telah melewati perjalanan panjang itu—dari seorang anak perempuan di desa kecil Lampung Timur, menjadi legislator, bupati, wakil gubernur, hingga kembali dipercaya duduk di parlemen nasional.
Sebuah perjalanan yang menunjukkan bahwa panggung politik nasional tidak selalu harus dimulai dari kota besar.
Kadang, ia justru berawal dari sebuah desa kecil, dari mimpi yang dirawat, pendidikan yang diperjuangkan, dan keberanian seorang perempuan untuk melangkah lebih jauh.
(Dok.KN +/Admin)

