Orang Bijak Selalu Mengingat Hari Akhir

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian 29 | Sabtu, 29 Agustus 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Dengan izin Allah Subḥānahu wa Ta’ālā, pagi ini kita kembali diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan.

Kita bangun, masih diberi kesehatan, masih bisa bekerja, masih bisa berkumpul bersama keluarga, dan masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.

Tetapi pernahkah kita berhenti sejenak dan menyadari bahwa setiap pagi yang kita lalui sebenarnya membawa kita semakin dekat kepada satu kepastian?

Hari akhir.

Kita sering memikirkan masa depan dunia.

Pendidikan.

Pekerjaan.

Rumah.

Tabungan.

Keluarga.

Usaha.

Semua itu penting untuk dipersiapkan.

Namun seorang yang bijak tidak hanya mempersiapkan masa depan dunia.

Ia juga mempersiapkan kehidupan setelah dunia berakhir.

Sebab kehidupan dunia memiliki batas.

Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal.

Orang yang cerdas bukan hanya tahu bagaimana mendapatkan dunia, tetapi juga tahu bagaimana mempersiapkan perjumpaan dengan Allah.

Mengingat Hari Akhir Membuat Hati Lebih Sadar

Allah SWT berfirman:

وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”

QS. Al-A’la: 17

Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

Dunia hanya tempat sementara.

Kita datang ke dunia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa.

Kemudian kita tumbuh, bekerja, mengumpulkan harta, membangun kehidupan, dan mengejar berbagai keinginan.

Tetapi pada akhirnya, semua itu akan kita tinggalkan.

Karena itu, jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa kepada kehidupan yang lebih panjang.

Mengingat akhirat bukan berarti meninggalkan dunia.

Kita tetap bekerja.

Tetap mencari rezeki.

Tetap membangun keluarga.

Tetap mengejar cita-cita.

Tetapi semuanya dilakukan dengan kesadaran bahwa dunia hanyalah sementara.

Mengingat Kematian Bukan untuk Membuat Kita Putus Asa

Ada orang yang merasa bahwa membicarakan kematian selalu membuat suasana menjadi menakutkan.

Padahal mengingat kematian seharusnya bukan membuat kita kehilangan semangat hidup.

Justru sebaliknya.

Mengingat kematian membuat kita lebih menghargai kehidupan.

Kita menjadi lebih bersyukur.

Lebih menghargai keluarga.

Lebih berhati-hati dalam berbicara.

Lebih serius menjalankan ibadah.

Lebih mudah memaafkan.

Lebih cepat bertaubat.

Dan lebih terdorong melakukan kebaikan.

Sebab kita sadar bahwa waktu kita terbatas.

Jika kita tahu bahwa setiap hari mungkin menjadi kesempatan terakhir, tentu kita akan lebih berhati-hati dalam menggunakannya.

Mengingat akhirat bukan membuat hidup menjadi gelap.

Justru ia membuat kita tahu untuk apa kehidupan ini digunakan.

Orang Bijak Tidak Menunda Taubat

Salah satu tanda seseorang memahami kehidupan akhirat adalah ia tidak terlalu berani bermain-main dengan dosa.

Ia tahu bahwa manusia bisa mati kapan saja.

Karena itu, ketika melakukan kesalahan, ia segera memperbaiki diri.

Ketika berdosa, ia bertaubat.

Ketika menyakiti orang lain, ia meminta maaf.

Ketika mendapatkan rezeki, ia bersyukur.

Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar.

Ia tidak merasa hidupnya akan berlangsung selamanya.

Karena ia memahami bahwa setiap hari adalah bagian dari perjalanan menuju akhirat.

Berbeda dengan orang yang terlalu terlena.

Ia berkata:

“Nanti saja bertaubat.”

“Masih muda.”

“Masih banyak waktu.”

“Besok saya perbaiki.”

Padahal tidak ada manusia yang tahu apakah kesempatan itu masih diberikan sampai besok.

Jangan menunda kebaikan hanya karena merasa waktu masih panjang.

Sebuah Renungan tentang Perjalanan

Bayangkan seseorang sedang berada di sebuah stasiun.

Ia tahu keretanya akan berangkat.

Ia sudah mengetahui tujuan akhirnya.

Tetapi ia terlalu sibuk bermain di ruang tunggu.

Ia membeli banyak barang.

Berbicara dengan banyak orang.

Menikmati berbagai hal.

Sampai akhirnya pengumuman keberangkatan terdengar.

Ia baru sadar bahwa waktunya hampir habis.

Begitulah manusia dalam kehidupan dunia.

Kita tahu bahwa dunia memiliki akhir.

Kita tahu bahwa kematian akan datang.

Kita tahu bahwa ada kehidupan setelahnya.

Tetapi terkadang kita terlalu sibuk dengan kehidupan sementara hingga lupa mempersiapkan perjalanan berikutnya.

Padahal waktu terus berjalan.

Setiap hari usia kita berkurang.

Setiap malam yang kita lewati tidak akan kembali.

Karena itu, orang yang bijak akan menggunakan waktu tunggunya untuk mempersiapkan diri.

Ia tidak lupa menikmati kehidupan, tetapi ia tidak pernah lupa kepada tujuan akhirnya.

Dunia Boleh di Tangan, Jangan Sampai di Hati

Islam tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia.

Kita boleh memiliki harta.

Kita boleh memiliki rumah.

Kita boleh memiliki usaha.

Kita boleh mengejar pendidikan.

Kita boleh memiliki cita-cita.

Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa kepada Allah.

Harta seharusnya menjadi alat.

Bukan tujuan akhir.

Jabatan seharusnya menjadi amanah.

Bukan alasan untuk sombong.

Ilmu seharusnya menjadi manfaat.

Bukan alat untuk merendahkan orang lain.

Kekuatan seharusnya digunakan untuk membantu.

Bukan menindas.

Ketika seseorang mengingat akhirat, ia akan lebih berhati-hati menggunakan apa yang Allah titipkan kepadanya.

Sebab ia tahu bahwa suatu saat semua amanah itu akan dipertanggungjawabkan.

Renungan Subuh

Setelah Subuh, luangkan waktu sejenak untuk melihat kembali kehidupan kita.

Tanyakan:

Apakah saya lebih banyak memikirkan dunia atau akhirat?

Apakah kesibukan saya membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin jauh?

Jika Allah memanggil saya hari ini, apakah saya sudah siap?

Apakah masih ada dosa yang sengaja saya pertahankan?

Apakah masih ada kewajiban yang saya abaikan?

Apakah masih ada orang yang perlu saya mintai maaf?

Dan tanyakan dengan jujur:

Jika kehidupan dunia ini berakhir hari ini, apa yang akan saya bawa?

Jangan takut melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.

Justru orang yang mau mengoreksi dirinya adalah orang yang masih memiliki kesempatan untuk berubah.

Baca Juga:

Menguatkan Saudara adalah Jalan Menuju Surga

 

Aksi Hari Ini

Hari ini, lakukan beberapa hal sederhana.

Luangkan waktu untuk mengingat kematian.

Bukan untuk takut berlebihan, tetapi untuk menyadari bahwa hidup ini terbatas.

Perbaiki satu ibadah yang selama ini masih kurang.

Jika shalat masih sering terburu-buru, perbaiki kekhusyukannya.

Jika jarang membaca Al-Qur’an, mulailah kembali.

Tinggalkan satu dosa yang selama ini sering diulang.

Jangan mencari alasan.

Hubungi seseorang yang selama ini ingin Anda mintai maaf.

Jika ada hak orang lain yang belum ditunaikan, berusahalah menyelesaikannya.

Dan lakukan satu amal baik yang tidak perlu diketahui orang lain.

Kemudian katakan kepada diri sendiri:

“Saya tidak tahu berapa lama lagi hidup saya. Karena itu, saya ingin hari ini lebih dekat kepada Allah daripada kemarin.”

Jangan Sampai Kita Terlalu Sibuk dengan Dunia

Dunia memang menarik.

Ia menawarkan banyak hal.

Harta.

Kedudukan.

Popularitas.

Kenyamanan.

Keindahan.

Tetapi semua itu sementara.

Hari ini kita memiliki sesuatu.

Besok mungkin sudah tidak lagi.

Hari ini kita kuat.

Suatu saat tubuh akan melemah.

Hari ini kita berkumpul bersama keluarga.

Suatu saat kita akan berpisah.

Hari ini kita memiliki kesempatan.

Suatu saat kesempatan itu akan berakhir.

Karena itu, jangan biarkan dunia membuat kita lupa kepada akhirat.

Nikmati dunia secukupnya, tetapi persiapkan akhirat sebaik-baiknya.

Orang bijak bukan orang yang selalu berbicara tentang kematian.

Orang bijak adalah orang yang mengingat kematian sehingga kehidupannya menjadi lebih bermakna.

Ia bekerja dengan jujur.

Beribadah dengan sungguh-sungguh.

Menjaga amanah.

Membantu sesama.

Memaafkan.

Bertaubat.

Dan berusaha meninggalkan kebaikan sebelum meninggalkan dunia.

Semoga Kita Termasuk Orang yang Tidak Lalai

Tidak ada seorang pun yang tahu kapan hari akhirnya tiba.

Karena itu, jangan menunggu tanda-tanda kematian untuk mulai berubah.

Berubah sekarang.

Bertaubat sekarang.

Berbuat baik sekarang.

Perbaiki hubungan dengan Allah sekarang.

Perbaiki hubungan dengan manusia sekarang.

Karena mungkin saja kesempatan yang kita miliki pagi ini adalah kesempatan yang sangat berharga.

Mengingat akhirat bukan berarti berhenti menjalani kehidupan.

Justru karena kita mengingat akhirat, kita belajar menjalani kehidupan dengan lebih bertanggung jawab.

Kita sadar bahwa setiap ucapan dicatat.

Setiap perbuatan memiliki konsekuensi.

Setiap amanah akan dipertanggungjawabkan.

Dan setiap waktu adalah kesempatan untuk menambah bekal.

Maka hari ini, mari kita hidup dengan satu kesadaran:

Dunia ini sementara, tetapi perjalanan kita belum selesai.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membangun kehidupan dunia hingga lupa mempersiapkan tempat kembali.

Orang bijak selalu mengingat hari akhir, bukan karena ia membenci kehidupan, tetapi karena ia tahu ke mana kehidupan ini akan berakhir.


Doa

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَاجْعَلِ الْآخِرَةَ خَيْرَ لَنَا

“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai perhatian terbesar kami dan batas pengetahuan kami, serta jadikan akhirat sebagai kebaikan bagi kami.”

Ya Allah, jangan biarkan hati kami terlalu mencintai dunia hingga melupakan-Mu.

Berikan kami kemampuan untuk menikmati nikmat dunia dengan penuh syukur tanpa menjadikannya tujuan akhir.

Ingatkan kami ketika lalai.

Tegur kami ketika salah.

Bimbing kami ketika tersesat.

Berikan kami kekuatan untuk meninggalkan dosa.

Berikan kami kesempatan untuk bertaubat sebelum terlambat.

Jadikan kami hamba yang mengingat hari akhir dan mempersiapkan diri dengan amal saleh.

Ketika kami mendapatkan dunia, jangan biarkan kami sombong.

Ketika kami kehilangan dunia, jangan biarkan kami putus asa.

Dan ketika tiba saatnya kami kembali kepada-Mu, terimalah kami dalam keadaan beriman, bertaubat, dan membawa amal yang Engkau ridai.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *