Hari 20 – 10 Hari Terakhir: Momentum Kesungguhan

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu fa lā muḍilla lah, wa man yuḍlil fa lā hādiya lah. Wa asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

الحمد لله ربِّ العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيِّئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صلِّ وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+). Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.

Ramadan kini memasuki fase yang sangat penting, yaitu sepuluh hari terakhir. Inilah waktu yang oleh Rasulullah SAW dipenuhi dengan kesungguhan ibadah yang jauh lebih besar dibandingkan hari-hari sebelumnya.

Sepuluh malam terakhir bukan sekadar penutup Ramadan. Justru di sinilah puncak kesempatan meraih rahmat, ampunan, dan keberkahan Allah. Pada malam-malam ini pula terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar.

Karena itu, seorang Muslim yang memahami keutamaan Ramadan akan memanfaatkan sepuluh hari terakhir ini dengan penuh kesungguhan.

Teladan Rasulullah dalam 10 Hari Terakhir Ramadan

Dalam sebuah hadis disebutkan:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

Artinya:

“Apabila memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan, Nabi SAW menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah meningkatkan ibadahnya secara maksimal pada sepuluh malam terakhir.

Beliau tidak menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Malam-malam dihidupkan dengan shalat, doa, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026

Mengapa 10 Hari Terakhir Sangat Istimewa

Ada beberapa alasan mengapa sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki kedudukan yang sangat istimewa.

1. Di Dalamnya Ada Lailatul Qadar

Allah berfirman:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Artinya:

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Ibadah pada malam tersebut nilainya lebih baik daripada ibadah selama lebih dari 83 tahun.

2. Momentum Pengampunan Dosa

Banyak ulama menjelaskan bahwa sepuluh malam terakhir adalah waktu yang sangat besar peluangnya bagi seorang hamba mendapatkan ampunan Allah.

3. Penutup Ramadan Menentukan Kualitas Ibadah

Dalam Islam dikenal sebuah prinsip bahwa akhir amal sering menjadi penentu nilainya. Karena itu, memperbaiki ibadah di penghujung Ramadan sangat penting.

Amalan yang Dianjurkan pada 10 Hari Terakhir

Agar sepuluh hari terakhir Ramadan benar-benar menjadi momentum kesungguhan, ada beberapa amalan yang dianjurkan.

Menghidupkan Malam dengan Shalat

Perbanyak shalat malam, seperti qiyamul lail dan tarawih, karena malam Ramadan adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Memperbanyak Doa

Salah satu doa yang sangat dianjurkan pada malam-malam ini adalah:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Artinya:

“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
(HR. Tirmidzi)

Yayasan Khalifah Alfitama membuka program beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di Alifa Institute

Membaca Al-Qur’an

Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Membaca, memahami, dan mentadabburi Al-Qur’an menjadi amalan yang sangat dianjurkan.

Memperbanyak Sedekah

Bersedekah di akhir Ramadan juga merupakan amalan yang sangat dianjurkan, karena pahalanya dilipatgandakan oleh Allah.

Penutup

Sepuluh hari terakhir Ramadan adalah saat ketika seorang hamba seharusnya semakin mendekat kepada Allah dengan hati yang penuh harap. Jika di awal Ramadan kita masih lalai, masih banyak kekurangan dalam ibadah, maka di penghujung bulan yang mulia ini Allah masih membuka pintu kesempatan untuk memperbaiki diri. Tidak ada kata terlambat bagi seorang hamba yang ingin kembali kepada Tuhannya.

Bayangkanlah, mungkin ini adalah Ramadan terakhir dalam hidup kita. Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih akan bertemu dengan Ramadan di tahun berikutnya. Karena itu, setiap malam yang tersisa hendaknya kita isi dengan shalat, doa, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak amal kebaikan. Jangan sampai Ramadan berlalu begitu saja tanpa meninggalkan perubahan dalam hati dan kehidupan kita.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk memaksimalkan ibadah pada sepuluh hari terakhir ini, mempertemukan kita dengan malam Lailatul Qadar, serta menerima seluruh amal yang kita lakukan dengan penuh keikhlasan. Semoga Ramadan benar-benar menjadi momentum perubahan yang membawa kita lebih dekat kepada Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *