Ramadan 1447 H: Menjaga Lisan, Perilaku, dan Hawa Nafsu Demi Meraih Rida Ilahi

Kabar Negeri Plus, Bandar Lampung, 27 Februari 2026

Ramadan kembali menyapa dengan kelembutan yang tak selalu mampu diucapkan kata-kata. Ia hadir seperti embusan angin yang menyejukkan hati, mengetuk kesadaran yang lama terlelap, dan mengajak setiap jiwa untuk pulang-pulang kepada fitrah, kepada kesabaran, kepada Allah SWT.

Di bulan yang mulia ini, bukan hanya perut yang belajar menahan lapar, tetapi hati yang belajar tunduk, lisan yang belajar santun, serta pikiran yang belajar jernih. Ramadan adalah madrasah kehidupan, tempat manusia ditempa menjadi pribadi yang lebih bertakwa.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi membentuk insan yang mampu mengendalikan hawa nafsu, menjaga lisan dari ucapan yang melukai, menahan amarah, serta menjauhkan diri dari kebiasaan buruk yang merusak akhlak.

Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama Republik Indonesia telah mengumumkan bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. dengan memadukan metode hisab dan rukyat.

Perbedaan metode penetapan awal Ramadan yang mungkin terjadi di tengah masyarakat hendaknya disikapi dengan kebijaksanaan. Perbedaan bukanlah jurang pemisah, melainkan warna dalam keberagaman umat. Ramadan justru menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, menyatukan saf, dan meneguhkan persaudaraan-baik di lingkungan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, maupun seluruh elemen umat Islam. Jangan biarkan perbedaan teknis mengalahkan persatuan hati.

Di Bandar Lampung dan berbagai daerah lainnya, masyarakat diimbau menjaga suasana yang kondusif selama bulan suci. Penyesuaian operasional warung makan dan tempat hiburan adalah bentuk penghormatan terhadap kekhusyukan ibadah. Namun lebih dari itu, Ramadan mengajarkan disiplin batin-disiplin dalam bertindak, berbicara, dan bersikap.

Di era digital saat ini, ujian puasa tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga di layar gawai. Jempol yang mudah berkomentar, mata yang bebas memilih tontonan, dan pikiran yang cepat terprovokasi menjadi bagian dari latihan spiritual kita. Ramadan mengajarkan “puasa digital”: menahan diri dari menyebar hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan konten yang merusak nilai moral. Sebab sejatinya, menjaga kehormatan sesama adalah bagian dari ibadah.

Melalui momentum Ramadan 1447 Hijriah ini, awak media Kabar Negeri Plus mengajak seluruh masyarakat Provinsi Lampung dan sekitarnya untuk memperkuat kesiapan fisik dan mental, meningkatkan kualitas ibadah, serta menjadikan bulan suci ini sebagai titik balik perbaikan diri. Jadikan Ramadan sebagai ruang introspeksi, tempat membersihkan hati dari kesombongan dan dendam, serta menumbuhkan empati kepada mereka yang membutuhkan.

Semoga Ramadan 1447 H menjadi cahaya yang menerangi langkah kita, melembutkan hati yang keras, mendamaikan jiwa yang gelisah, serta menyatukan kembali tali persaudaraan di tengah masyarakat.

Ya Allah, jadikanlah puasa kami bukan sekadar menahan lapar, tetapi jalan menuju ketakwaan. Ampuni dosa-dosa kami, kuatkan persatuan kami, dan pertemukan kami kembali dengan Ramadan berikutnya dalam keadaan yang lebih baik.

(Dok. KN+ Jakfar Sidik)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *