“Satu Huruf Bernilai Cahaya!” — Di Tengah Padatnya Ibadah Haji, Lantunan Al-Qur’an Jadi Penyejuk Jiwa Jamaah di Tanah Suci.

Makkah | Kabar Negeri Plus — Di tengah lautan manusia yang memadati Tanah Suci, ada satu pemandangan yang selalu menggetarkan hati: jamaah haji duduk bersimpuh dengan mushaf Al-Qur’an di tangan, melantunkan ayat demi ayat dengan mata berkaca-kaca.

Di sela tawaf, usai salat berjamaah, hingga menunggu waktu keberangkatan menuju Arafah, lantunan ayat suci terdengar dari berbagai sudut Masjidil Haram.

Bagi banyak jamaah, membaca Al-Qur’an saat menunaikan ibadah haji bukan sekadar amalan tambahan, melainkan sumber kekuatan spiritual yang menenangkan hati di tengah perjalanan ibadah yang penuh perjuangan.

Ibadah haji merupakan momentum paling istimewa bagi umat Islam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dalam suasana yang penuh keberkahan di Kota Suci Makkah dan Madinah, setiap amal ibadah diyakini memiliki nilai pahala yang berlipat, termasuk membaca Al-Qur’an.

Tak sedikit jamaah yang menargetkan khatam Al-Qur’an selama berada di Tanah Suci.

Mereka memanfaatkan setiap waktu luang untuk tilawah, karena meyakini bahwa ayat-ayat suci yang dibaca di depan Ka’bah menghadirkan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Air mata haru pun kerap tumpah saat ayat demi ayat dilantunkan.

Banyak jamaah mengaku hati mereka terasa lebih lembut, dosa-dosa seperti diingatkan kembali, dan doa-doa terasa lebih dekat untuk dikabulkan.
Selain menjadi sumber pahala, membaca Al-Qur’an saat haji juga membantu jamaah menjaga fokus ibadah dan memperkuat kesabaran.

Di tengah cuaca panas, antrean panjang, hingga padatnya aktivitas ibadah, Al-Qur’an menjadi penyejuk hati sekaligus pengingat tujuan utama perjalanan suci tersebut.

Para pembimbing ibadah juga terus mengingatkan jamaah agar memperbanyak tilawah selama di Tanah Suci.

Sebab, haji bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan hati untuk memperbaiki diri dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Di Masjidil Haram, pemandangan jamaah yang membaca Al-Qur’an hampir tak pernah berhenti selama 24 jam.

Ada yang membaca dengan suara lirih, ada pula yang meneteskan air mata saat memahami makna ayat yang dibaca. Suasana itu menghadirkan keteduhan spiritual yang begitu mendalam.

Bagi umat Islam, membaca Al-Qur’an di Tanah Suci menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

Setiap huruf yang dilantunkan bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup sepulang dari haji.

Karena pada akhirnya, haji bukan sekadar tentang sampai di Makkah — melainkan tentang bagaimana hati pulang dalam keadaan lebih dekat kepada Allah SWT.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *