Seandainya Salat Masih Diwajibkan 50 Kali Sehari, Sanggupkah Kita?

Kabar Negeri Plus, Bandar Lampung, 13 Agustus 2026 — Pernahkah kita membayangkan bagaimana jika salat masih diwajibkan 50 kali dalam sehari?
Pertanyaan tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan renungan yang dalam. Di tengah kesibukan bekerja, berdagang, belajar, mengurus keluarga, dan berbagai aktivitas lainnya, lima waktu salat saja terkadang masih terasa berat bagi sebagian orang.


Padahal, dalam ajaran Islam, salat merupakan kewajiban utama bagi umat Muslim. Lima waktu yang kita jalankan hari ini sesungguhnya merupakan bagian dari perintah salat yang memiliki sejarah penting dalam peristiwa Isra Mikraj.


Dalam kisah tersebut, pada awalnya umat Nabi Muhammad SAW mendapat kewajiban salat sebanyak 50 kali dalam sehari. Atas kehendak Allah SWT dan setelah proses yang dikenal dalam riwayat Isra Mikraj, kewajiban tersebut menjadi lima waktu. Namun, pahala yang dijanjikan tetap seperti 50 kali.
Pesan tersebut seharusnya tidak hanya dibaca sebagai sebuah angka, tetapi menjadi bahan introspeksi bagi setiap Muslim.


Jika lima waktu saja masih sering kita tinggalkan, bagaimana jika kewajibannya benar-benar 50 kali sehari?
Kesibukan sering kali menjadi alasan. Ada yang menunda salat karena pekerjaan, perjalanan, pertemuan, rasa lelah, atau bahkan karena terlalu larut dengan telepon genggam dan media sosial.


Padahal, lima waktu salat tidak membutuhkan seluruh waktu dalam satu hari. Salat hadir pada waktu-waktu tertentu sebagai pengingat agar manusia tidak terlalu larut mengejar urusan dunia dan melupakan kewajibannya kepada Allah SWT.
Salat bukan sekadar rutinitas gerakan dan bacaan. Bagi seorang Muslim, salat merupakan bentuk penghambaan, komunikasi spiritual, sekaligus momentum untuk kembali mengingat Allah SWT.


Karena itu, ketika mendengar nasihat tentang “50 kali sehari”, yang paling penting bukan sekadar menghitung betapa beratnya kewajiban tersebut, tetapi menyadari betapa besar kemudahan yang telah diberikan kepada umat Islam.
Lima waktu bukanlah beban yang harus ditakuti, melainkan amanah yang seharusnya dijaga.


Renungan ini juga menjadi pengingat bahwa waktu terus berjalan. Kesempatan untuk memperbaiki salat tidak selalu datang dalam keadaan yang sama. Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk mendengar azan, mengambil wudu, menggelar sajadah, lalu menghadap Allah SWT.


Maka, jangan sampai kesibukan dunia membuat kita kehilangan sesuatu yang justru menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.
Mari bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah lima waktu yang diwajibkan itu benar-benar kita jaga?.


Sebab, jika kita membayangkan beratnya salat 50 kali sehari, seharusnya kita semakin bersyukur bahwa Allah SWT memberikan kewajiban lima waktu dengan keutamaan dan pahala yang begitu besar.


Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah salat itu berat atau ringan. Yang lebih penting adalah seberapa besar kesungguhan kita menghargai kewajiban yang telah Allah SWT mudahkan bagi kita.

#Dok KN+

#By Indak Supandi.

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *