
Presiden Turun ke Lampung, Konsolidasi Dikebut: Dari Rencana Kunjungan hingga Instruksi “Jemput Bola” ke Unit Kerja
LAMPUNG — Waktu terus berjalan. Tanggal 22 semakin dekat. Rencana kunjungan Presiden bersama tim ke Lampung kini bukan lagi sekadar agenda di atas kertas. Konsolidasi organisasi mulai dipacu, persiapan anggaran dihitung, konsumsi disiapkan, hingga pengurus diminta turun langsung dari wilayah, konsulat cabang, pimpinan cabang, sampai ke unit kerja.
Pesannya tegas: jangan sampai informasi hanya berhenti di ruang rapat.
Hasil komunikasi dengan DPP melahirkan sejumlah perkembangan terbaru terkait rencana kunjungan Presiden bersama tim ke Lampung. Rombongan dijadwalkan berangkat dari Jakarta menggunakan transportasi darat pada Sabtu tanggal 22 sekitar pukul 06.00 WIB.
Dengan perjalanan tersebut, rombongan diperkirakan tiba di kantor DPW Lampung sekitar pukul 10.30–11.00 WIB.
Agenda utama kemudian dijadwalkan berlangsung mulai sekitar pukul 13.00 WIB hingga pukul 18.00 WIB, meski pelaksanaannya masih memungkinkan berlangsung lebih cepat menyesuaikan kondisi di lapangan.
Sebelum kegiatan dimulai, Presiden bersama tim dijadwalkan mengikuti makan siang bersama di DPW.
Untuk kebutuhan konsumsi, berdasarkan hasil komunikasi dengan DPP, fasilitas konsumsi akan mendapat dukungan dari pusat. Sementara kebutuhan lain, khususnya tempat apabila kegiatan digelar di hotel, menjadi bagian yang harus dikoordinasikan dan disiapkan oleh wilayah.
Karena itu, proposal dan estimasi kebutuhan anggaran mulai disusun sebagai acuan pembiayaan. Jumlah peserta juga menjadi faktor penting karena harus dihitung secara realistis.
Pertanyaannya sederhana: berapa sebenarnya anggota yang akan hadir? 150? 250? Atau lebih?
Data itulah yang kini harus dipastikan.
Bukan Sekadar Seremonial, Pengurus Menjadi Prioritas
Kunjungan pada Sabtu tersebut diprioritaskan untuk jajaran pengurus, meliputi DPW, konsulat cabang, pimpinan cabang, serta pimpinan unit kerja.
Sementara agenda berikutnya berlanjut pada Minggu.
Pada Minggu, kegiatan diarahkan kepada anggota unit kerja dari berbagai sektor di Lampung. Agenda berupa pendidikan, pembekalan, serta penguatan organisasi tersebut direncanakan berlangsung mulai pukul 08.30 WIB hingga sekitar pukul 13.00 WIB.
Setelah agenda selesai, tim dijadwalkan langsung kembali menuju Jakarta.
Dengan demikian, rangkaian kegiatan selama dua hari tersebut dirancang dalam format yang relatif padat: Sabtu konsolidasi dan kunjungan Presiden bersama tim, Minggu pendidikan dan pembekalan anggota.
Materi pendidikan sendiri masih akan disinkronkan oleh tim yang ditunjuk. Detail materi belum sepenuhnya dipastikan karena pihak yang berkomunikasi terkait agenda tersebut masih menjalankan kegiatan di Batam.
Instruksi: Jangan Tunggu Pengurus Datang, Jemput Bola!
Bagian paling krusial justru berada setelah rapat.
DPW bersama jajaran terkait diminta segera menyampaikan informasi kunjungan tersebut kepada pimpinan cabang, sektor, hingga unit kerja yang belum hadir dalam rapat.
Sebab, tidak semua pengurus dapat hadir karena masih menjalankan pekerjaan.
Namun kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan informasi berhenti.
Langkah yang disiapkan adalah komunikasi secara personal, melalui surat, telepon, bahkan kunjungan langsung apabila diperlukan.
Prinsipnya sederhana:
kalau tidak bisa datang ke kantor, pengurus yang harus datang menemui mereka.
Bahkan pola komunikasi digambarkan seperti minum obat: bukan sekali disampaikan lalu selesai, tetapi harus terus dilakukan sampai pesan benar-benar diterima.
Targetnya jelas.
Sebelum tanggal 22, seluruh unit kerja yang menjadi prioritas harus sudah mengetahui rencana kunjungan tersebut dan memastikan kesiapan mereka.
Tim Kecil atau Langsung Turun ke Sektor?
Rapat juga membahas apakah persiapan akan ditangani langsung oleh wilayah bersama konsulat cabang dan pimpinan cabang, atau dibentuk tim kecil khusus.
Namun satu hal yang menjadi kesimpulan: persiapan tidak boleh menunggu terlalu lama.
Sekretaris diminta mulai menyiapkan langkah teknis. Sementara wilayah diproyeksikan segera turun ke sektor-sektor yang memiliki pimpinan unit kerja.
Prioritas pertama adalah unit kerja yang memungkinkan hadir dalam agenda tanggal 22.
Bahkan agenda turun lapangan direncanakan mulai dalam waktu dekat.
Organisasi Tak Bisa Hanya Menunggu
Dalam rapat, muncul pula sorotan mengenai persoalan komunikasi dan keaktifan anggota.
Ada kegelisahan bahwa komunikasi secara daring belum berjalan optimal. Sebagian anggota disebut hanya menunggu perkembangan tanpa mengetahui secara utuh program yang sedang dijalankan.
Karena itu, agenda kunjungan Presiden dipandang sebagai momentum untuk kembali mengaktifkan jaringan organisasi dari tingkat wilayah hingga unit kerja.
Sejumlah pihak yang sebelumnya belum aktif juga akan kembali diajak terlibat.
Pesannya bukan hanya soal menghadirkan orang sebanyak-banyaknya pada tanggal 22.
Lebih jauh dari itu, kunjungan tersebut harus menjadi momentum membangun kembali komunikasi, konsolidasi dan kekuatan organisasi di Lampung.
“Janji” Harus Diubah Menjadi Kepastian
Dalam rapat, persoalan jumlah peserta menjadi perhatian serius.
Sebab, kesiapan konsumsi dan anggaran tidak mungkin dihitung berdasarkan perkiraan semata.
Jumlah anggota yang benar-benar berpotensi hadir harus diverifikasi.
Bukan sekadar mengatakan siap datang.
“Kalau cuma janji manis, kita mau siap datang. Tapi kita mau pastikan,” menjadi salah satu penekanan dalam pembahasan.
Karena itu, pendataan anggota kembali menjadi pekerjaan penting.
Dari data tersebut, baru bisa dihitung kebutuhan konsumsi, estimasi biaya, serta kebutuhan teknis lainnya.
Ketua Tegaskan: Tidak Ada Sekat, Semua Harus Bergerak
Dalam pembahasan berikutnya, muncul pula penegasan dari pimpinan wilayah agar tidak terjadi salah persepsi dalam menjalankan program.
Hubungan antara pimpinan dan jajaran di bawahnya ditegaskan bukan untuk saling berhadapan, melainkan untuk membangun organisasi bersama.
Bahkan ditegaskan bahwa seluruh jajaran harus diberdayakan dan diberikan ruang untuk berkontribusi.
Rencana pembentukan tim yang turun langsung ke sektor-sektor pun diarahkan agar dipimpin oleh wilayah, dengan melibatkan unsur terkait untuk mendampingi proses tersebut.
Tujuannya satu:
organisasi harus bergerak dari bawah, bukan hanya ramai ketika ada agenda besar.
Tanggal 22 Bukan Sekadar Angka di Kalender
Pada akhirnya, rapat tersebut menghasilkan satu kesimpulan besar.
Tanggal 22 bukan sekadar agenda kunjungan.
Itu menjadi momentum untuk menguji sejauh mana konsolidasi organisasi berjalan.
Presiden bersama tim datang ke Lampung. Tetapi pekerjaan terbesar justru berada di tangan jajaran organisasi di Lampung: memastikan informasi sampai, anggota terdata, pengurus bergerak, kebutuhan dihitung, dan seluruh unit kerja siap.
Waktu tidak banyak.
Karena itu, instruksinya jelas:
turun ke lapangan, temui unit kerja, pastikan anggota, hitung kebutuhan, dan jangan biarkan satu pun informasi berhenti di meja rapat.
Sebab ketika rombongan tiba pada tanggal 22, tidak ada lagi waktu untuk bertanya, “Siapa yang sudah diberi tahu?”
Semua harus sudah siap.
Lampung harus menyambut dengan kesiapan, bukan sekadar janji.
(Dok.KN +/Admin)

