
Hati yang Mudah Tergoda: Saat Dunia Terlihat Lebih Menarik dari Akhirat
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian – 9 Mei 2026)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan satu kejujuran yang paling dalam: sering kali bukan karena kita tidak tahu akhirat itu penting, tetapi karena dunia terasa lebih menarik.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
“Tetapi kamu lebih memilih kehidupan dunia, padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”
(QS Al-A‘la [87]: 16–17)
Inti Pesan
Masalah terbesar kita bukan pada pengetahuan.
Kita tahu akhirat itu lebih baik.
Kita tahu dunia ini sementara.
Namun tetap saja, hati sering condong ke dunia.
Karena dunia terlihat sekarang.
Terasa cepat.
Memberi hasil langsung.
Sementara akhirat terasa jauh.
Di sinilah ujian sebenarnya.
Bukan memilih antara benar dan salah,
tetapi memilih antara yang cepat terasa dan yang kekal.
Semakin hati terpikat dunia, semakin ringan kita meninggalkan ibadah.
Dan semakin hati sadar akhirat, semakin ringan kita meninggalkan dunia.
Baca Juga:
Rezeki Sudah Diatur: Mengapa Kita Masih Terlalu Cemas?
Aksi Hari Ini
Latih hati agar tidak dikuasai dunia:
- Sadari bahwa tidak semua yang menarik itu baik
Contoh: hal yang menyenangkan belum tentu membawa kebaikan. Jangan langsung diikuti, tapi ditimbang. - Kurangi keterikatan berlebihan pada dunia
Tidak harus meninggalkan, tapi jangan sampai hati bergantung. Gunakan dunia, jangan dikuasai olehnya. - Ingat tujuan akhir secara sadar
Contoh: sebelum mengambil keputusan, tanya—“Ini mendekatkan saya ke Allah atau menjauhkan?” - Perbanyak mengingat kematian dan akhirat
Bukan untuk menakutkan, tetapi untuk meluruskan arah hati. - Seimbangkan kenikmatan dengan kesadaran
Nikmati yang halal, tapi tetap ingat bahwa semua ini tidak akan dibawa.
Banyak orang tidak tersesat karena tidak tahu jalan, tetapi karena terlalu menikmati perjalanan yang salah arah. Dunia tidak salah, tetapi ketika hati terlalu melekat, di situlah masalah dimulai. Karena hati yang penuh dunia akan sulit diisi dengan akhirat.
Kunci: masalahnya bukan pada dunia, tetapi pada hati yang terlalu mencintainya.
Ketika dunia berada di tangan, itu aman. Tetapi ketika dunia masuk ke hati, itu berbahaya. Dari sinilah semua harus dikembalikan—bukan meninggalkan dunia, tetapi menempatkannya pada posisi yang benar.
Penutup
Dunia boleh kita miliki, tapi jangan sampai kita dimiliki oleh dunia.
Arahkan hati pada yang kekal, bukan yang sementara.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

