
Niat Ikut Sunatan Gratis Berujung Batal: Tangis Peserta Bikin 2 Anak Ciut, 1 Absen di Kedaton
Bandar Lampung – Aksi sosial yang digelar Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) Provinsi Lampung dalam rangka May Day 2026 menyisakan momen tak terduga. Di balik semangat “Solidaritas Buruh, Aksi Nyata untuk Rakyat Lampung”, program khitanan massal gratis justru diwarnai insiden yang membuat sebagian peserta mundur.
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 1 Mei 2026, sejak pukul 07.30 WIB di Jl. Tupai/Bakti No. 62, Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Kedaton, Kota Bandar Lampung ini awalnya berjalan lancar dengan antusiasme masyarakat yang tinggi.
MPBI tidak hanya menghadirkan seremoni, tetapi langsung turun dengan program konkret yang berdampak luas bagi masyarakat. Ratusan warga memanfaatkan layanan cek kesehatan gratis yang menyasar sekitar 300 orang, sementara aksi donor darah digelar bekerja sama dengan PMI. Di sisi lain, khitanan massal yang ditargetkan untuk sekitar 100 anak menjadi salah satu program unggulan yang paling menyedot perhatian warga.

Kegiatan ini melibatkan kekuatan besar lintas sektor. Mulai dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga tenaga medis turun langsung ke lapangan. Terlihat hadir jajaran Polda Lampung, instansi pemerintah, Dinas Ketenagakerjaan, Kesbangpol, BPJS, tenaga dokter, hingga Lurah dan puskesmas setempat. Kolaborasi ini menjadi tulang punggung utama agar kegiatan berjalan aman, tertib, dan tepat sasaran.
Rangkaian acara dibuka secara resmi dengan susunan yang tertib dan penuh khidmat. Dimulai dari pembukaan, pembacaan doa, hingga sambutan dari Ketua MPBI Lampung. Selanjutnya, perwakilan Polda Lampung, BPJS Kesehatan, dan BPJS Ketenagakerjaan turut memberikan sambutan. Puncaknya, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung secara resmi membuka kegiatan, menandai dimulainya AKSI SOSIAL May Day 2026.
Presidium MPBI Lampung, Sulaiman Ibrahim, S.H., menegaskan bahwa peringatan May Day tahun ini membawa pesan kuat yang berbeda dari biasanya.
“Hari Buruh bukan sekadar hari libur nasional, tetapi momentum krusial untuk menyuarakan aspirasi pekerja sekaligus menunjukkan kontribusi nyata kepada masyarakat,” tegasnya.
Namun, suasana berubah drastis di ruang tindakan khitan. Tangisan dan teriakan dari peserta yang sedang menjalani proses sunat terdengar cukup jelas, menciptakan tekanan psikologis bagi anak-anak lain yang masih menunggu giliran. Situasi itu memicu kepanikan dan membuat atmosfer ruangan terasa tegang.
Baca Juga:
May Day Lampung 2026 Meledak! Buruh Turun Tangan: Cek Kesehatan, Donor Darah, hingga Sunatan Massal Gratis
Dua anak peserta, masing-masing berasal dari Natar (N) dan Kota Bandar Lampung (K), akhirnya memilih mundur di detik-detik pelaksanaan. Keduanya diliputi ketakutan hebat, histeris, dan sulit ditenangkan meski sudah dibujuk oleh orang tua, tim medis, maupun panitia di lokasi. Tangisan yang terus pecah di dalam ruangan memperparah kondisi, menciptakan tekanan emosional yang membuat keduanya kehilangan keberanian. Dalam situasi yang semakin tegang dan penuh kepanikan itu, mereka dinilai belum siap secara mental untuk melanjutkan prosedur khitan.
Kondisi tersebut memicu efek domino, di mana anak-anak lain yang belum menjalani tindakan ikut dilanda kecemasan. Tekanan psikologis yang muncul secara mendadak membuat sebagian peserta kehilangan kesiapan mental.
Sementara itu, satu peserta lainnya tercatat tidak hadir tanpa keterangan, sehingga total tiga anak tidak mengikuti proses khitan dalam kegiatan tersebut.
Di sisi lain, MPBI Lampung juga memainkan langkah strategis di luar aksi sosial. Audiensi dengan Pemerintah Provinsi Lampung dijadwalkan pada Senin, 4 Mei 2026, sebagai jalur resmi penyampaian aspirasi buruh. Pendekatan ganda—turun langsung membantu masyarakat sekaligus mendorong dialog kebijakan—menjadi sinyal kuat bahwa gerakan buruh kini tidak hanya vokal, tetapi juga solutif dan berorientasi hasil.
Meski diwarnai insiden, kegiatan ini tetap memberi dampak nyata dan menjadi bukti bahwa buruh hadir bukan hanya untuk menuntut, tetapi juga untuk memberi.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

