
Menahan Amarah: Ujian Takwa dalam Kehidupan Sehari-hari
Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman
(Rubrik Dakwah Harian)
Assalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Kabar Negeri Plus mengajak kita mengawali hari dengan menguatkan iman, karena kekuatan seorang Muslim tidak diukur dari emosinya yang meledak, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri.
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruh, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā.
Dalil
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ
“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 134)
Inti Pesan
Menahan amarah bukan hal mudah. Justru di situlah letak ujian yang paling sering kita hadapi setiap hari—di rumah, di tempat kerja, di jalan, bahkan dalam hal-hal kecil yang memicu emosi.
Banyak orang merasa kuat ketika bisa berbicara keras atau meluapkan emosi. Padahal, dalam pandangan Islam, kekuatan sejati adalah ketika mampu menahan diri.
Baca Juga:
Amarah yang tidak terkendali bisa merusak hubungan, melukai hati orang lain, bahkan menghancurkan amal yang telah dibangun.
Sebaliknya, menahan amarah adalah tanda kedewasaan iman. Ia tidak hanya menjaga diri, tetapi juga menjaga orang lain dari dampak buruknya.
Aksi Hari Ini
Latih diri untuk mengendalikan emosi:
-
- Tahan reaksi saat emosi muncul
Jangan langsung merespons. Diam sejenak bisa menyelamatkan banyak hal.
- Tahan reaksi saat emosi muncul
-
- Ambil jeda dan tarik napas
Memberi ruang bagi akal untuk mengendalikan perasaan.
- Ambil jeda dan tarik napas
-
- Biasakan memaafkan
Memaafkan bukan berarti lemah, tetapi bentuk kekuatan hati.
- Biasakan memaafkan
Kunci: kendalikan emosi sebelum emosi mengendalikan kita.
Penutup
Amarah bisa datang kapan saja, tetapi mengendalikannya adalah pilihan.
Siapa yang mampu menahan amarahnya, ia sedang menjaga imannya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Wassalāmu‘alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
(Dok. KN+ Zea Safitri)

