
“MENJELANG RAMADHAN,TRADISI ZIARAH MENGHIDUPKAN TPU SUKABUMI:DOA,KENANGAN,DAN REZEKI MUSIMAN BERBAUR JADI SATU”
Menjelang bulan suci Ramadan, denyut kehidupan di Tempat Pemakaman Umum Jl. Tirtayasa, Gg. Salam, Sukabumi, Kecamatan Sukabumi, Bandar Lampung kembali terasa kuat. Dari kejauhan, derap langkah para peziarah terdengar beriringan dengan desau angin yang menyentuh nisan–seperti mengabarkan bahwa tradisi tahunan ini belum kehilangan maknanya.
Sejak pagi, warga datang membawa bunga tabur, air doa, dan raut wajah yang menyimpan kisah masing-masing. Ada yang menunduk haru di depan pusara orang tua, ada yang menabur bunga dengan tangan bergetar, dan ada pula yang menggelar sajadah kecil sambil melantunkan doa. Suasana religi ini menjelma menjadi mozaik kebersamaan yang memperlihatkan betapa dalamnya hubungan masyarakat dengan tradisi ziarah menjelang Ramadan.
Di sisi lain, aktivitas ekonomi rakyat kecil juga bergerak. Di sepanjang area makam, pedagang bunga memenuhi jalur setapak. Diah, salah satu pedagang, menyambut pelanggan tanpa jeda. Baginya, momen ini adalah rezeki musiman yang terus dinanti. Bunga mawar, kenanga, melati—semuanya tersusun rapi, seakan menjadi penanda bahwa Ramadan sudah di ambang pintu.
Tidak jauh dari para pedagang, para pemuda lingkungan dibantu pamong setempat mengelola lahan parkir untuk peziarah. Mereka tidak menetapkan tarif; cukup seikhlasnya. Bagi mereka, mengatur arus kendaraan bukan sekadar tugas, tetapi bagian dari gotong-royong menjaga kenyamanan warga yang datang untuk mendoakan keluarga yang telah tiada.
Di tengah ramainya aktivitas, nuansa khidmat tetap terjaga. TPU Sukabumi bukan sekadar tempat peristirahatan terakhir, melainkan ruang perjumpaan antara tradisi, ekonomi kecil, dan solidaritas warga. Setiap langkah peziarah, setiap kelopak bunga yang jatuh, dan setiap doa yang dipanjatkan menjadi saksi bagaimana masyarakat menjaga ritual lama ini tetap hidup dan relevan.
Menjelang Ramadan, TPU ini kembali membuktikan satu hal: bahwa ingatan terhadap mereka yang telah pergi selalu menemukan jalannya untuk pulang—melalui ziarah, melalui doa, dan melalui tradisi yang terus diwariskan lintas generasi.
(Dok.KN + Ndinn)

