Arus Globalisasi Kian Deras, Iman Harus Menjadi Benteng Kehidupan

Kabar Negeri Plus | subuh menguatkan iman
Arus globalisasi kian deras, iman harus menjadi benteng kehidupan


Rubrik Dakwah Harian | Sabtu, 17 Oktober 2026


Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan untuk kembali menghirup udara pagi.

Semoga setiap langkah kita hari ini senantiasa berada dalam lindungan dan rida-Nya.

Handaitolan yang dirahmati Allah SWT,

Pagi tidak selalu datang dengan cerita yang sama.

Ada yang bangun di rumah yang nyaman, tetapi ada pula yang terjaga dengan pikiran penuh beban.

Ada yang menikmati sarapan dengan cukup, sementara sebagian lainnya harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan.

Ada yang bekerja dengan penghasilan memadai, tetapi tidak sedikit yang masih berjuang demi memenuhi kebutuhan keluarganya.

Di tengah perbedaan keadaan itu, ada satu hal yang harus tetap kita jaga: iman kepada Allah SWT.

Sebab, tidak semua persoalan hidup dapat diselesaikan dengan harta, jabatan, kecerdasan, atau teknologi. Ada masalah yang membutuhkan kesabaran, ada ujian yang menuntut keteguhan hati, dan ada keadaan yang hanya dapat kita hadapi dengan doa, ikhtiar, serta tawakal kepada Allah SWT.

Karena itu, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan senantiasa memperbaiki diri dalam setiap keadaan.

Globalisasi membawa kemudahan, tetapi juga menghadirkan ujian
Handaitolan yang dirahmati Allah,

Kita hidup pada zaman ketika dunia bergerak begitu cepat.

Teknologi semakin canggih, informasi datang tanpa mengenal waktu, dan berbagai peristiwa di belahan dunia lain dapat kita saksikan hanya melalui layar telepon genggam.

Globalisasi membuka banyak peluang. Ilmu pengetahuan semakin mudah diakses, komunikasi semakin cepat, dan kesempatan usaha semakin luas.

Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan yang tidak boleh kita abaikan.

Informasi yang benar bercampur dengan kabar yang belum terverifikasi.

Nasihat yang bermanfaat berdampingan dengan ujaran kebencian.

Konten pendidikan hadir bersama tayangan yang dapat merusak akhlak.

Bahkan, perdebatan di ruang digital terkadang membuat orang lebih sibuk memenangkan pertengkaran daripada mencari kebenaran.

Ketika informasi datang lebih cepat daripada kemampuan kita memeriksa kebenarannya, iman, akal sehat, dan akhlak harus menjadi penyaring utama.

Kita juga menyaksikan berbagai polemik publik, termasuk perdebatan mengenai keaslian dokumen dan ijazah yang beredar di ruang informasi.

Dalam menghadapi persoalan seperti ini, seorang Muslim hendaknya tidak mudah terpancing, apalagi ikut menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.

Kebenaran harus dicari melalui bukti, tabayun, dan mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai jari kita lebih cepat menyebarkan kabar daripada hati kita mengingat Allah.

Jangan sampai teknologi maju, tetapi akhlak justru mundur.

Handaitolan yang dirahmati Allah,

Kemajuan zaman semestinya membuat manusia semakin berilmu, bijaksana, dan beradab.

Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik akhlaknya.

Kita perlu waspada ketika sopan santun mulai diabaikan, perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan, fitnah dianggap sebagai hiburan, dan pembelaan terhadap seseorang dilakukan tanpa mempertimbangkan kebenaran.

Jangan sampai kita begitu mudah menghakimi orang lain, tetapi lupa mengoreksi diri sendiri.

Jangan sampai kita lantang berbicara tentang kejujuran, tetapi mengabaikan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Islam mengajarkan agar setiap perkataan dan tindakan dipertanggungjawabkan.

Karena itu, sebelum membagikan informasi, tanyakan kepada diri sendiri: apakah berita ini benar? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah menyebarkannya membawa manfaat atau justru menimbulkan kerugian bagi orang lain?

Sikap berhati-hati bukan berarti takut terhadap kebenaran.

Sebaliknya, kehati-hatian merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

Tabayun adalah benteng dari fitnah dan kesesatan informasi
Allah SWT mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar orang-orang beriman memeriksa dengan teliti berita yang datang, sehingga tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan dan akhirnya menyesali perbuatannya.

Pesan ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang.

Di era media sosial, satu kabar yang belum jelas dapat menyebar kepada ribuan orang hanya dalam hitungan menit.

Namun, ketika kabar itu ternyata keliru, dampaknya bisa merusak nama baik, memecah persaudaraan, dan menimbulkan persoalan yang panjang.

Karena itu, mari membiasakan diri melakukan tabayun.

Periksa sumber informasi, pahami konteksnya, bedakan fakta dari opini, dan jangan menjadikan potongan video atau pesan berantai sebagai satu-satunya dasar untuk mengambil kesimpulan.

Ingatlah, tidak semua yang ramai dibicarakan merupakan kebenaran, dan tidak semua yang viral layak untuk disebarluaskan.

Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman menghadapi perubahan zaman.

Handaitolan yang dirahmati Allah SWT,

Di tengah berbagai ujian kehidupan, umat Islam memiliki pedoman yang menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan, yaitu Al-Qur’an dan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW.

Al-Qur’an mengajarkan kejujuran, keadilan, kesabaran, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Sunnah Rasulullah memberikan teladan tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Berpegang teguh pada ajaran Islam bukan berarti menolak kemajuan teknologi atau menutup diri dari perubahan zaman.

Justru, kita harus mampu memanfaatkan kemajuan untuk kebaikan, mencari ilmu, memperkuat persaudaraan, membantu sesama, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat.

Namun, kemajuan harus tetap berada dalam kendali nilai-nilai agama.

Jangan sampai teknologi menguasai hati, popularitas mengalahkan kejujuran, atau kepentingan pribadi membuat kita mengabaikan halal dan haram.

Dalam urusan usaha, mari mencari rezeki dengan cara yang halal.

Dalam pergaulan, jagalah adab dan kehormatan sesama. Dalam menerima informasi, utamakan kebenaran.

Dalam menghadapi masalah, perbanyak istigfar, berdoa, berikhtiar, dan bertawakal kepada Allah SWT.

Perkuat iman, perbaiki akhlak, dan bijak menghadapi dunia.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Kita memang tidak dapat menghentikan perubahan zaman.

Kita juga tidak selalu mampu mengendalikan apa yang muncul di layar telepon genggam.

Namun, kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan sikap, menjaga hati, mengendalikan ucapan, dan memilih informasi yang layak dipercaya.

Mari jadikan rumah sebagai tempat menanamkan nilai-nilai agama, keluarga sebagai ruang belajar tentang kejujuran, dan media sosial sebagai sarana menyebarkan manfaat.

Jangan hanya sibuk memperbarui informasi, tetapi lupa memperbarui iman.

Jangan hanya mengejar kecanggihan teknologi, tetapi melupakan keluhuran budi pekerti.

Jangan hanya ingin terlihat benar di hadapan manusia, tetapi lupa mempertanggungjawabkan perbuatan di hadapan Allah SWT.

Sebab, benteng terkuat menghadapi derasnya arus globalisasi bukan sekadar kecanggihan teknologi, melainkan iman yang kokoh, ilmu yang benar, akhlak yang mulia, dan hati yang senantiasa mengingat Allah.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu membedakan yang benar dan yang keliru, menjaga diri dari fitnah, menjauhkan keluarga kita dari pengaruh buruk, serta menjadikan kemajuan zaman sebagai jalan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbanyak amal kebaikan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.


(Dok. KN+ Jakfar Sidik)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *