Remaja di Tengah Ancaman Tawuran, Narkoba, dan Judi Online: Keluarga Harus Hadir

Kabar Negeri Plus | subuh menguatkan iman.

Rubrik dakwah harian | kamis, 15 oktober 2026.

Ketika orang tua lengah, pergaulan bisa mengambil alih pendidikan anak.

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita nikmat iman, kesehatan, kesempatan, dan kehidupan sehingga kita kembali dipertemukan dengan pagi yang penuh harapan.

Melalui rubrik Subuh Menguatkan Iman, Kabar Negeri Plus mengajak seluruh handaitolan untuk senantiasa menebarkan kebaikan, memperkuat ketakwaan, serta menjauhi segala larangan Allah SWT.

Handaitolan yang dirahmati Allah,

Pagi hari tidak selalu disambut oleh setiap orang dengan keadaan yang sama.

Ada yang bangun di rumah yang nyaman, tetapi ada pula yang membuka mata dengan memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarganya.

Ada yang menikmati sarapan dengan cukup, sementara yang lain harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan pokok.

Namun, di balik perbedaan keadaan tersebut, ada satu tanggung jawab yang tidak boleh kita abaikan: menjaga iman, membangun akhlak, dan menyelamatkan masa depan generasi muda.

Hari ini, kita tidak cukup hanya bertanya apakah anak-anak kita sudah bersekolah, sudah makan, atau sudah memiliki telepon genggam untuk belajar.

Kita juga perlu bertanya: apakah mereka sudah mendapatkan pendidikan agama yang memadai?

Apakah kita mengetahui dengan siapa mereka bergaul?

Dan apakah mereka masih menjadikan orang tua sebagai tempat bercerita ketika menghadapi persoalan?

Sebab, anak yang terlihat baik-baik saja belum tentu sedang baik-baik saja dalam perjalanan hidupnya.

Kenakalan remaja bukan sekadar persoalan anak.

Handaitolan yang dirahmati Allah,

Belakangan ini, persoalan kenakalan remaja terus menjadi perhatian masyarakat.

Tawuran, kelompok bermotor yang terlibat tindakan melanggar hukum, penyalahgunaan narkoba, perundungan, judi online, hingga paparan konten pornografi merupakan sejumlah risiko yang dapat mengancam perkembangan anak dan remaja.

Kita perlu menyikapinya dengan serius, tetapi tetap bijaksana. Tidak semua remaja bermasalah, dan tidak setiap anak yang melakukan kesalahan akan tumbuh menjadi pribadi yang buruk.

Justru karena masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter, mereka membutuhkan bimbingan, keteladanan, perhatian, dan pengawasan yang tepat.

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa, yakni menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Pada kesempatan yang mulia ini, izinkan kami menyampaikan beberapa mauizhah atau nasihat tentang tanggung jawab bersama dalam membimbing generasi muda.

Pertama: tanamkan nilai agama sejak dini
Pendidikan akhlak tidak seharusnya baru diberikan ketika anak mulai beranjak remaja atau setelah mereka terlibat masalah.

Nilai agama, kejujuran, tanggung jawab, kesopanan, dan kepedulian harus ditanamkan sejak usia dini.

Pendidikan tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah atau guru agama.

Keluarga, lingkungan masyarakat, lembaga pendidikan, dan tempat ibadah perlu saling mendukung agar anak tumbuh dengan pegangan moral yang kuat.

Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengingatkan kita tentang besarnya pengaruh lingkungan dan pendidikan orang tua terhadap perkembangan anak.

Mengajarkan agama bukan sekadar menyuruh anak beribadah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kejujuran diterapkan, bagaimana orang lain dihormati, bagaimana kemarahan dikendalikan, serta bagaimana kesalahan diakui dan diperbaiki.

Anak tidak cukup hanya mendengar nasihat tentang kebaikan. Mereka perlu melihat dan merasakan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua: jadilah teladan, bukan sekadar pemberi perintah
Ayah dan ibu merupakan figur penting dalam kehidupan anak. Perkataan, kebiasaan, cara menyelesaikan masalah, dan sikap orang tua sering menjadi contoh yang diamati anak, bahkan ketika orang tua merasa tidak sedang mengajarinya.

Jangan sampai kita melarang anak berkata kasar, tetapi mereka justru mendengar kata-kata kasar dari rumah. Jangan sampai kita menasihati anak agar jujur, tetapi mereka melihat kebohongan dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

Jangan pula kita menuntut anak menghormati orang lain, sementara kita sendiri merendahkan orang yang berbeda pendapat.

Orang tua memang tidak dituntut menjadi manusia yang sempurna. Namun, mereka perlu bersedia belajar, memperbaiki diri, dan berani mengakui kesalahan di hadapan anak.

Keteladanan yang baik akan membuat nasihat lebih mudah diterima. Sebaliknya, nasihat yang tidak sejalan dengan perilaku dapat kehilangan kekuatannya.

Jangan hanya ingin anak menjadi saleh dan berakhlak mulia. Jadilah bagian dari contoh yang membuat mereka ingin tumbuh menjadi pribadi seperti itu.

Ketiga: awasi pergaulan tanpa mematikan kepercayaan
Memasuki masa remaja, anak mulai mencari jati diri, membangun pertemanan, dan ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungannya.

Pada fase ini, pengaruh teman sebaya dapat menjadi sangat kuat, baik ke arah positif maupun negatif.

Karena itu, orang tua perlu mengenal lingkungan pergaulan anak, mengetahui kegiatan mereka, serta membangun komunikasi yang terbuka.

Pengawasan tidak berarti mencurigai setiap langkah anak, apalagi membatasi seluruh ruang geraknya tanpa penjelasan.

Sebaliknya, pengawasan yang sehat harus disertai kepercayaan, aturan yang jelas, dan kesediaan mendengarkan.

Ketika anak mulai menggunakan bahasa kasar, menunjukkan perubahan perilaku, menarik diri, atau terlibat dalam pergaulan yang berisiko, jangan terburu-buru menghakimi.

Ajak mereka berbicara, cari tahu penyebabnya, lalu bimbing dengan tegas dan penuh kasih sayang.

Kita perlu memahami bahwa perilaku anak tidak hanya dibentuk oleh keluarga, tetapi juga oleh teman sebaya, sekolah, lingkungan masyarakat, dan pengalaman yang mereka hadapi.

Karena itu, mendampingi remaja berarti membantu mereka belajar memilih pergaulan yang sehat sekaligus memiliki keberanian untuk menolak ajakan yang merugikan.

Keempat: dampingi anak menghadapi dunia digital
Handaitolan yang dirahmati Allah,
Di era teknologi informasi, tantangan pendidikan anak tidak berhenti ketika mereka keluar dari rumah.

Dunia digital hadir di dalam genggaman melalui telepon pintar atau smartphone.
Internet dapat menjadi sarana belajar, memperluas wawasan, dan mengembangkan kreativitas.

Namun, tanpa pendampingan yang memadai, anak juga dapat terpapar konten pornografi, kekerasan, perundungan digital, penipuan, perjudian online, serta berbagai materi yang belum sesuai dengan usia mereka.

Permainan digital pun perlu diperhatikan apabila penggunaannya berlebihan hingga mengganggu waktu belajar, istirahat, ibadah, dan interaksi keluarga.

Oleh sebab itu, orang tua perlu menetapkan aturan penggunaan gawai sesuai usia, mengaktifkan fitur keamanan yang tersedia, mendampingi anak ketika mengakses internet, serta memberi pemahaman tentang privasi dan bahaya berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal.

Namun, jangan hanya mengandalkan larangan. Anak juga perlu memahami alasan di balik setiap aturan agar tumbuh kesadaran untuk melindungi dirinya sendiri.

Luangkan waktu untuk berbicara dengan mereka tentang apa yang ditonton, permainan yang dimainkan, dan pengalaman yang diperoleh di dunia maya.

Jangan sampai kita mengetahui setiap perkembangan di dalam telepon genggam, tetapi tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di dalam hati anak kita.

Kelima: bangun kerja sama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat
Membimbing generasi muda bukan pekerjaan satu pihak.

Orang tua tidak dapat menyerahkan seluruh pendidikan karakter kepada guru. Sekolah juga tidak dapat bekerja sendiri ketika anak menghadapi persoalan di rumah atau lingkungan pergaulannya.

Diperlukan kerja sama yang baik antara keluarga, guru, tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, dan pemerintah sesuai peran masing-masing.

Anak-anak perlu diberikan ruang untuk melakukan kegiatan positif, seperti olahraga, kegiatan keagamaan, seni, literasi, organisasi, dan aktivitas sosial.

Mereka juga perlu memperoleh kesempatan menyampaikan pendapat, mengembangkan kemampuan, serta merasa dihargai sebagai bagian dari masyarakat.

Ketika remaja melakukan kesalahan, tindakan tegas tetap diperlukan sesuai tingkat pelanggaran.

Namun, pendekatan pembinaan dan pemulihan juga penting agar mereka dapat memahami akibat perbuatannya, memperbaiki perilaku, dan tidak terus-menerus terjebak dalam kesalahan yang sama.

Kita tidak boleh membiarkan pelanggaran dianggap sepele.

Akan tetapi, kita juga tidak seharusnya menutup pintu perubahan bagi anak-anak yang masih membutuhkan bimbingan.

Handaitolan, masa depan generasi muda dimulai dari hari ini.

Generasi muda adalah bagian penting dari masa depan keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Karena itu, jangan menunggu anak terlibat tawuran, terjerat narkoba, kecanduan judi online, atau menghadapi persoalan serius lainnya untuk mulai memberikan perhatian.

Mulailah dari rumah. Bangun komunikasi yang hangat. Hidupkan ibadah bersama. Berikan teladan yang baik. Kenali teman-temannya.

Dampingi aktivitas digitalnya. Dan yang tidak kalah penting, dengarkan isi hati mereka tanpa langsung menghakimi.

Jika kita menginginkan anak-anak tumbuh dengan akhlak yang baik, maka lingkungan tempat mereka tumbuh juga harus memberikan contoh yang baik.

Mari kita renungkan: jangan sampai kita terlalu sibuk mencari nafkah hingga lupa memberikan perhatian, terlalu mudah menyalahkan anak hingga lupa bercermin, atau terlalu cepat menghakimi hingga kehilangan kesempatan untuk membimbing.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menjadi orang tua, pendidik, dan anggota masyarakat yang bertanggung jawab dalam menjaga amanah generasi muda.

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, sehat, mandiri, serta mampu menggunakan kemajuan teknologi untuk kebaikan.

Sebab, menjaga masa depan anak bukan hanya tentang memberi mereka kehidupan yang layak, melainkan juga membekali mereka dengan iman, akhlak, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.


(Dok. KN+ Jakfar Sidik)


Kabar Negeri Plus — Subuh Menguatkan Iman

 

Orang tua mendampingi remaja untuk membangun akhlak dan mencegah kenakalan remaja di era digital.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *