
Sakitnya Budaya Menjilat dan Fanatisme Buta pada Pimpinan.
LAMPUNG, Kabar Negeri Plus — Jum’at 2 Oktober 2026. Harga diri manusia tidak seharusnya ditukar dengan jabatan, pujian, fasilitas, atau sekadar rasa aman di lingkaran kekuasaan.
Seorang manusia diciptakan Allah SWT dalam keadaan mulia dan dibekali akal untuk membedakan yang benar dari yang salah.
Bagi seorang mukmin, kehormatan tertinggi bukanlah ketika ia berdiri paling dekat dengan seorang pemimpin, melainkan ketika ia mampu tetap tegak di atas kebenaran dan merendahkan diri hanya kepada Allah SWT.
Namun, dalam kehidupan sosial, organisasi maupun dunia kerja, ada penyakit yang kerap tumbuh secara perlahan: budaya menjilat dan fanatisme buta terhadap pimpinan.
Awalnya mungkin hanya berupa pujian berlebihan. Lama-kelamaan berubah menjadi pembenaran. Ketika sudah menjadi budaya, kritik dianggap sebagai ancaman, kesalahan ditutup-tutupi, sementara orang yang selalu berkata “iya” justru dianggap paling loyal.
Di titik inilah loyalitas dapat kehilangan maknanya.
Sebab loyalitas yang sehat bukan berarti membenarkan semua tindakan pimpinan.
Loyalitas yang sehat adalah berani berdiri bersama kebenaran, termasuk ketika kebenaran itu mengharuskan seseorang mengingatkan atas sebuah kekeliruan.
Ketika pujian berubah menjadi racun.
Rasulullah SAW memberikan peringatan keras terhadap pujian yang berlebihan.
Dalam hadis sahih riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika kalian melihat orang-orang yang suka memuji secara berlebihan, maka taburkanlah debu ke wajah mereka.”
(HR. Muslim).
Hadis tersebut berkaitan dengan larangan terhadap al-maddāhūn, yakni orang-orang yang memberikan pujian secara berlebihan.
Dalam riwayat yang sama, konteksnya menunjukkan kekhawatiran bahwa pujian berlebihan dapat menjadi fitnah bagi orang yang dipuji.
Artinya, persoalannya bukan sekadar memuji, melainkan ketika pujian kehilangan objektivitas dan berubah menjadi alat untuk mencari keuntungan, membangun kultus pribadi, atau membuat seseorang merasa tidak pernah salah.
Rasulullah SAW juga memperingatkan tentang bahaya pujian yang berlebihan dengan ungkapan yang sangat keras:
seseorang yang dipuji secara berlebihan disebut seperti sedang “dipotong lehernya”.
Pesannya jelas: pujian tanpa batas dapat menghancurkan orang yang dipuji.
Seorang pemimpin yang terus-menerus dikelilingi orang yang hanya mengatakan apa yang ingin didengarnya berisiko kehilangan cermin untuk melihat kekurangannya sendiri.
Ketika semua orang berkata “benar”, sementara tidak ada seorang pun berani berkata “periksa kembali”, maka ruang koreksi perlahan menghilang.
Dan ketika ruang koreksi hilang, kesalahan dapat tumbuh menjadi kebiasaan.
Pemimpin bukan untuk dipuja, tetapi diingatkan.
Al-Qur’an memerintahkan orang-orang beriman untuk menaati Allah, Rasul, dan ulil amri sebagaimana disebut dalam QS. An-Nisa ayat 59.
Namun, ayat tersebut tidak semestinya dipahami sebagai alasan untuk memberikan ketaatan tanpa batas kepada seorang pemimpin.
Ketaatan kepada manusia tidak boleh menjadi pembenaran untuk mengikuti kebatilan, kezhaliman, atau perbuatan yang bertentangan dengan prinsip agama dan kebenaran.
Karena itu, seorang pemimpin justru membutuhkan orang-orang di sekelilingnya yang mampu memberikan masukan secara jujur dan santun.
Ungkapan yang sering dinisbatkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq saat awal kepemimpinannya sangat relevan untuk direnungkan:
“Jika aku berbuat baik, bantulah aku. Jika aku menyimpang, luruskanlah aku.”
Pesan tersebut menggambarkan bahwa kepemimpinan yang sehat membutuhkan kontrol moral dan keberanian untuk saling mengingatkan.
Jangan sampai kepentingan membuat mata hati tertutup
Bahaya terbesar fanatisme bukan sekadar membuat seseorang kehilangan objektivitas.
Lebih jauh, fanatisme dapat membuat seseorang membenarkan sesuatu yang sebenarnya ia tahu salah, hanya karena takut kehilangan posisi, jabatan, penghasilan, kedekatan, atau keuntungan tertentu.
Di sinilah prinsip mulai dikorbankan sedikit demi sedikit.
Hari ini membenarkan ucapan yang keliru.
Besok menutupi kesalahan.
Lusa ikut membela tindakan yang merugikan orang lain.
Pada akhirnya, seseorang bukan lagi mempertahankan kebenaran, melainkan mempertahankan kepentingannya sendiri.
Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras terhadap orang yang mendatangi penguasa, kemudian membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezhaliman mereka.
Dalam riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa orang yang melakukan hal tersebut mendapat ancaman berat dan dinyatakan tidak termasuk golongan Rasulullah SAW dalam konteks peringatan tersebut.
Pesannya bukan sekadar tentang hubungan dengan seorang penguasa. Pesan moralnya jauh lebih luas: jangan menjadikan kedekatan dengan kekuasaan sebagai alasan untuk menggadaikan kebenaran.
Kritik bukan berarti membenci.
Dalam sebuah organisasi, perusahaan, lembaga, komunitas, maupun pemerintahan, kritik yang disampaikan dengan niat baik bukanlah bentuk permusuhan.
Justru kritik yang objektif dapat menjadi alarm sebelum sebuah persoalan berkembang menjadi lebih besar.
Sebaliknya, budaya “asal bapak senang” dapat menciptakan ruang yang berbahaya.
Yang salah dibenarkan.
Yang keliru disembunyikan.
Yang mengingatkan justru disingkirkan.
Sementara mereka yang terus memberikan pujian mendapatkan tempat paling dekat.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan, yang rusak bukan hanya bawahan atau anggota organisasi.
Pemimpin pun dapat kehilangan kesempatan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Karena itu, menghormati pemimpin tidak harus dilakukan dengan menjilat.
Loyalitas tidak harus diwujudkan dengan membenarkan semua keputusan.
Dan keberanian mengingatkan tidak otomatis berarti pembangkangan.
Jadilah orang yang menjaga, bukan orang yang menjilat
Kita boleh menghormati pemimpin.
Kita boleh memberikan apresiasi.
Kita boleh mendukung program yang baik.
Tetapi jangan sampai penghormatan berubah menjadi pengkultusan dan dukungan berubah menjadi pembenaran terhadap kesalahan.
Jadilah orang yang loyal kepada kebaikan, profesional dalam menjalankan tugas, objektif dalam menilai persoalan, dan santun ketika menyampaikan kritik.
Sebab pemimpin yang kuat bukanlah pemimpin yang selalu mendengar pujian.
Pemimpin yang kuat adalah pemimpin yang masih mau mendengar kebenaran meskipun kebenaran itu tidak selalu menyenangkan.
Dan orang-orang terbaik di sekelilingnya bukanlah mereka yang selalu berkata “iya”, melainkan mereka yang dengan cara yang santun berani berkata:
“Jika langkah kita benar, mari kita lanjutkan. Jika ada yang keliru, mari kita luruskan.”
Menjaga harga diri jauh lebih mulia daripada mengejar kedekatan.
Menjaga kebenaran jauh lebih berharga daripada mempertahankan posisi.
Sebab jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan pujian manusia akan hilang.
Tetapi integritas akan menjadi pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Jangan menjadi penjilat karena takut kehilangan jabatan. Jadilah manusia yang tetap tegak karena takut kehilangan kebenaran.
Dok. KN+ Jakfar/Junaidi

