4 TANGISAN YANG BISA MENIPU HATI: BENARKAH SEMUA AIR MATA DICINTAI ALLAH?

Jangan tertipu oleh air mata. Sebab yang dinilai Allah bukan sekadar berapa banyak kita menangis, tetapi mengapa hati kita menangis.


KABAR NEGERI PLUS — RENUNGAN ISLAMI
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Ada air mata yang menjadi tanda kelembutan hati.
Namun ada pula air mata yang justru menjadi ujian bagi keikhlasan.


Tidak semua tangisan otomatis menunjukkan seseorang semakin dekat kepada Allah. Sebab air mata bisa muncul karena takut kepada Allah, tetapi bisa pula lahir karena ingin dipuji, terbawa suasana, kecewa terhadap dunia, atau sekadar menjadi kebiasaan tanpa kehadiran hati.


Dalam pembahasan tentang penyakit hati, keikhlasan, riya, dan kondisi batin manusia, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah banyak mengingatkan bahwa ukuran amal bukan hanya sesuatu yang tampak di mata manusia, tetapi juga apa yang tersembunyi di dalam hati.


Dari prinsip-prinsip tersebut, kita dapat mengambil pelajaran penting: jangan sampai air mata yang terlihat indah di hadapan manusia ternyata tidak membawa perubahan apa pun dalam diri kita.
Berikut empat bentuk tangisan yang patut kita waspadai.

 

  1. MENANGIS KARENA IKUT-IKUTAN
    Pernahkah kita berada di sebuah majelis ketika orang-orang mulai menangis, lalu tanpa sadar kita ikut meneteskan air mata?
    Menangis karena tersentuh tentu bukan masalah.
    Yang perlu direnungkan adalah: apakah hati kita benar-benar tersentuh atau kita hanya takut terlihat berbeda dari orang lain?
    Kadang seseorang menangis bukan karena memahami pesan ayat yang dibacakan, bukan pula karena mengingat dosa-dosanya, melainkan karena suasana di sekitarnya sedang haru.
    Inilah pentingnya kejujuran kepada diri sendiri.
    Tidak perlu memaksakan air mata hanya agar dianggap khusyuk.
    Lebih baik mata belum mampu menangis tetapi hati sedang belajar tunduk kepada Allah, daripada air mata mengalir deras sementara hati sibuk memikirkan pandangan manusia.
    Allah SWT berfirman:
    وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
    “Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”
    QS. Al-Bayyinah: 5.
  2. MENANGIS AGAR DIPUJI MANUSIA
    Inilah yang jauh lebih berbahaya: ketika air mata menjadi bagian dari pencitraan kesalehan.
    Seseorang menangis ketika menjadi imam, berceramah, membaca Al-Qur’an, atau membuat konten keagamaan—tetapi di dalam hatinya muncul keinginan agar orang lain berkata:
    “MasyaAllah, lembut sekali hatinya.”
    Di sinilah riya menjadi sesuatu yang harus ditakuti.
    Rasulullah SAW memperingatkan tentang syirik kecil berupa riya.
    إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ
    “Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil.”
    Ketika ditanya apa yang dimaksud, beliau menjawab:
    الرِّيَاءُ
    “Riya.”
    HR. Ahmad.
    Air mata yang seharusnya menjadi rahasia antara seorang hamba dengan Allah bisa berubah menjadi sarana mencari pengakuan manusia.
    Karena itu, jangan terlalu sibuk menunjukkan tangisan.
    Sibukkan diri memperbaiki hati.
    Sebab manusia hanya melihat air mata, sedangkan Allah mengetahui niat yang berada di baliknya.
  3. MENANGIS KARENA KEHILANGAN DUNIA
    Ada tangisan yang sangat deras ketika bisnis gagal.
    Ada air mata ketika rezeki terasa sempit.
    Ada tangisan ketika kehilangan jabatan, harta, pasangan, popularitas, atau sesuatu yang sangat dicintai.
    Kesedihan seperti itu manusiawi.
    Islam tidak melarang manusia bersedih.
    Namun yang perlu kita tanyakan adalah:
    Apakah kesedihan itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru membuat kita semakin terikat kepada dunia?
    Sebab seseorang bisa menangis karena kehilangan sesuatu yang fana, tetapi hampir tidak pernah menangis karena dosa yang telah dilakukan.
    Kita bisa sangat takut kehilangan harta, tetapi tidak takut kehilangan keberkahan.
    Kita bisa gelisah ketika kehilangan pekerjaan, tetapi tidak gelisah ketika kehilangan waktu untuk beribadah.
    Allah SWT berfirman:
    فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
    “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak sebagai balasan terhadap apa yang selalu mereka kerjakan.”
    QS. At-Taubah: 82.
    Bukan berarti setiap kesedihan dunia adalah dosa.
    Yang perlu diperiksa adalah ke mana kesedihan itu membawa hati kita.
    Jika kehilangan dunia membuat kita semakin dekat kepada Allah, maka musibah itu bisa menjadi jalan kebaikan.
    Tetapi jika kehilangan dunia membuat kita semakin jauh dari Allah, di situlah kita perlu berhenti dan melakukan introspeksi.
  4. MENANGIS KARENA KEBIASAAN, TETAPI HATI TIDAK HADIR
    Ini bentuk yang paling halus.
    Seseorang sudah terbiasa membaca ayat-ayat tentang azab, surga, neraka, kematian, dan hari kiamat.
    Matanya bahkan mudah berair.
    Tetapi setelah Al-Qur’an ditutup, tidak ada perubahan dalam perilaku.
    Lidahnya membaca.
    Matanya menangis.
    Namun hati tidak benar-benar hadir.
    Tangisan akhirnya hanya menjadi kebiasaan, sementara pesan yang dibaca tidak mengubah amal.
    Karena itu, ketika membaca Al-Qur’an, jangan hanya mengejar air mata.
    Kejar pemahaman. Kejar ketundukan. Kejar perubahan.
    Berhenti sejenak ketika membaca ayat.
    Pahami maknanya.
    Tanyakan kepada diri sendiri:
    “Apa yang Allah sedang sampaikan kepadaku melalui ayat ini?”
    Sebab boleh jadi air mata belum jatuh, tetapi hati sedang mengalami perubahan besar.
    Dan boleh jadi air mata jatuh deras, tetapi setelah itu hidup tetap sama.BUKAN SEBERAPA BANYAK AIR MATA, TETAPI SEBERAPA DALAM PENGARUHNYARasulullah SAW bersabda:
    عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ، وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
    “Ada dua mata yang tidak akan disentuh api neraka: mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga di jalan Allah.”
    HR. Tirmidzi No. 1639.
    Hadis ini menunjukkan kemuliaan tangisan yang lahir dari khasy-yah, yaitu rasa takut dan tunduk kepada Allah.
    Maka persoalannya bukan apakah kita menangis atau tidak.
    Persoalannya adalah:
    Untuk siapa air mata itu jatuh?
    RENUNGAN UNTUK DIRI SENDIRI
    Tulisan ini bukan untuk menghakimi orang lain.
    Justru sebaliknya.
    Ini adalah cermin untuk diri sendiri.
    Sebab kita semua bisa terjebak.
    Kadang kita ingin terlihat baik.
    Kadang kita terbawa suasana.
    Kadang kita terlalu mencintai dunia.
    Kadang kita melakukan sesuatu karena sudah terbiasa, tetapi hati kita tidak lagi benar-benar hadir.
    Bahkan dalam perkara menangis sekalipun, manusia bisa tertipu oleh dirinya sendiri.
    Setan tidak selalu menggoda manusia dengan membuatnya tertawa dalam kemaksiatan. Godaan juga dapat hadir ketika manusia merasa sedang melakukan kebaikan, tetapi niatnya perlahan bergeser dari Allah kepada penilaian manusia.
    Karena itu, jangan hanya bertanya:
    “Mengapa aku menangis?”
    Tetapi tanyakan pula:
    “Setelah aku menangis, apakah aku berubah?”
    Apakah dosa mulai ditinggalkan?
    Apakah ibadah semakin dijaga?
    Apakah hati semakin rendah?
    Apakah kita semakin takut kepada Allah?
    Jika jawabannya iya, semoga air mata itu menjadi rahmat. PENUTUP
    Jangan bangga hanya karena mampu menangis.
    Jangan pula merasa lebih suci hanya karena air mata mudah jatuh.
    Satu tetes air mata yang lahir dari keikhlasan bisa jauh lebih berharga daripada tangisan panjang yang hanya mengejar pandangan manusia.
    Maka mari kita meminta kepada Allah:
    Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya.
    Jauhkan kami dari ujub dan cinta pujian.
    Jadikan air mata kami sebagai tanda takut dan tunduk kepada-Mu.
    Hadirkan hati kami ketika membaca Al-Qur’an.
    Dan jadikan setiap amal yang kami lakukan semata-mata karena mencari ridha-Mu.
    Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita hati yang hidup, mata yang mampu menangis karena takut kepada-Nya, dan amal yang tetap ikhlas meskipun tidak diketahui manusia.
    Wallahu a’lam bish-shawab.
    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.(Dok. KN+ Jakfar Sidik)

 

Ilustrasi seorang Muslim menangis dalam doa sebagai renungan tentang empat jenis tangisan yang perlu diwaspadai

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *