Menjaga Nyala Literasi di Bawah Bayang-Bayang Erupsi

LAMPUNG BARAT, Kabar Negeri Plus — Ketika langit berubah kelabu dan abu vulkanik mulai menjadi bagian dari keseharian, ada satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: haruskah pendidikan ikut berhenti ketika alam sedang memberi peringatan?
Pertanyaan itu kini menjadi ujian nyata bagi dunia pendidikan di Lampung.


Erupsi dan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah Lampung menempatkan pemerintah, sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik pada situasi yang tidak sederhana. Keselamatan harus menjadi prioritas, tetapi pada saat yang sama proses pendidikan tidak boleh kehilangan arah.


Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah dengan mempertahankan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka mulai 9 September 2026, dengan penekanan pada penerapan protokol kesehatan dan pembatasan aktivitas luar ruangan.


Kebijakan ini bukan sekadar pilihan antara membuka atau menutup sekolah. Ini adalah upaya mencari titik keseimbangan antara hak anak untuk memperoleh pendidikan dan hak mereka untuk mendapatkan perlindungan kesehatan.
Sekolah harus tetap hidup. Namun, keselamatan peserta didik dan tenaga pendidik tidak boleh menjadi taruhan.


Guru Bukan Sekadar Pengajar, tetapi Garda Terdepan
Dalam situasi normal, guru berfokus pada proses pembelajaran, pencapaian kompetensi, pembentukan karakter, dan perkembangan peserta didik.
Namun, dalam kondisi darurat lingkungan seperti sekarang, tugas tersebut menjadi jauh lebih kompleks.


Guru dituntut memastikan peserta didik menggunakan masker dengan benar, menjaga kebersihan, membatasi aktivitas yang berpotensi meningkatkan paparan abu, serta segera berkoordinasi dengan pihak sekolah dan orang tua apabila terdapat peserta didik yang mengalami keluhan kesehatan.


Di sinilah peran guru sebagai garda terdepan pendidikan benar-benar diuji.
Guru tidak boleh berubah menjadi tenaga medis. Tetapi guru harus menjadi orang pertama yang peka terhadap kondisi peserta didik di ruang kelas.


Karena itu, sekolah juga perlu memastikan guru memiliki panduan yang jelas: kapan pembelajaran dapat dilanjutkan, kapan aktivitas harus dihentikan, dan kapan peserta didik perlu dipulangkan atau mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Jangan Samakan Anak SD dengan Remaja SMA
Satu hal yang tidak boleh dilupakan: kemampuan anak memahami risiko bencana berbeda-beda.


Menuntut tingkat kepatuhan yang sama antara anak sekolah dasar dengan peserta didik SMP atau SMA jelas tidak sepenuhnya adil.
Karena itu, edukasi mitigasi harus disesuaikan dengan usia.


Ada sedikitnya tiga langkah yang dapat diperkuat sekolah selama kondisi darurat ini.
Pertama, edukasi praktis sebelum KBM.


Lima menit sebelum pembelajaran dimulai dapat dimanfaatkan untuk mengingatkan peserta didik mengenai penggunaan masker, kebersihan tangan, larangan menyentuh wajah dengan tangan kotor, serta pentingnya segera melapor kepada guru apabila merasa tidak nyaman atau mengalami gangguan kesehatan.


Bukan ceramah panjang yang dibutuhkan, melainkan pesan sederhana yang disampaikan berulang-ulang hingga menjadi kebiasaan.
Kedua, mengubah metode pembelajaran secara adaptif.


Aktivitas yang membutuhkan waktu lama di luar ruangan, olahraga, praktik lapangan, maupun kegiatan lain yang meningkatkan paparan udara luar perlu dievaluasi dan, bila kondisi tidak memungkinkan, ditunda sementara.


Pembelajaran tetap dapat berlangsung melalui diskusi, praktik di dalam ruangan, proyek kelas, literasi digital, maupun metode kreatif lainnya.
Ketiga, memperkuat penyaring pertama: keluarga.
Orang tua memiliki peran yang tidak kalah penting.


Jika anak menunjukkan keluhan kesehatan, seperti batuk, sesak napas, mata terasa perih, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, orang tua perlu segera berkomunikasi dengan pihak sekolah.


Dalam kondisi seperti ini, keselamatan anak harus lebih dahulu daripada kehadiran fisik di ruang kelas.
Jangan Biarkan Abu Mengalahkan Masa Depan


Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya persoalan vulkanologi. Dampaknya juga menyentuh kehidupan sosial, ekonomi, kesehatan, dan pendidikan masyarakat.
Karena itu, respons terhadap situasi ini tidak cukup hanya dengan mengandalkan satu pihak.


Pemerintah menetapkan kebijakan. Sekolah menerjemahkannya menjadi prosedur. Guru menjalankannya di ruang kelas. Orang tua mengawalnya dari rumah. Sementara masyarakat ikut menjaga agar informasi yang beredar tetap akurat dan tidak menimbulkan kepanikan.


Inilah makna gotong royong menghadapi ujian alam.
Kita tidak pernah bisa memastikan kapan alam berhenti memberi peringatan. Tetapi kita bisa menentukan bagaimana pendidikan meresponsnya.


Jika sekolah harus beradaptasi, maka beradaptasilah. Jika metode belajar harus berubah, ubahlah. Jika aktivitas luar ruang harus dikurangi, kurangi. Tetapi jangan biarkan keadaan darurat membuat anak-anak kehilangan hak mereka untuk terus belajar.


Sebab pendidikan bukan sekadar aktivitas di dalam ruang kelas.
Pendidikan adalah cara sebuah generasi mempersiapkan dirinya menghadapi masa depan.


Di bawah bayang-bayang abu vulkanik, nyala literasi generasi masa depan Lampung harus tetap menyala—dengan satu syarat utama: keselamatan tetap menjadi fondasinya.


(Dok. KN+ Jakfar/Junaidi)

 

KBM siswa Lampung di tengah dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *