Jangan Tinggalkan Al-Qur’an Di Tengah Kesibukan

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN

Rubrik Dakwah Harian 9 | 9 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, Allah kembali memberikan kita kesempatan untuk menikmati pagi dan memperbaiki diri.

Setiap hari kita memiliki kesibukan.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang harus diperhatikan, urusan usaha yang harus dipikirkan, pesan yang harus dibalas, dan berbagai tanggung jawab yang seolah tidak pernah selesai.

Kita sering berkata:

“Nanti saja membaca Al-Qur’an kalau sudah senggang.”

Tetapi masalahnya, kapan sebenarnya kita benar-benar senggang?

Hari berganti hari.

Kesibukan terus datang.

Waktu terasa semakin cepat.

Tanpa disadari, Al-Qur’an yang dahulu sering kita baca mulai jarang disentuh.

Bukan karena kita tidak mencintai Al-Qur’an.

Tetapi karena kita terlalu sibuk dengan dunia.

Padahal, bisa jadi justru di tengah kesibukan itulah hati kita paling membutuhkan petunjuk Al-Qur’an.

Al-Qur’an Adalah Petunjuk bagi Kehidupan

Allah SWT berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil.”

(QS. Al-Baqarah: 185)

Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang kita simpan dengan baik.

Ia adalah petunjuk.

Ia mengajarkan bagaimana kita menjalani kehidupan.

Bagaimana menghadapi kesulitan.

Bagaimana bersikap kepada orang tua.

Bagaimana memperlakukan keluarga.

Bagaimana mencari rezeki.

Bagaimana menjaga lisan.

Bagaimana menghadapi kesedihan.

Bagaimana bersabar ketika diuji.

Dan bagaimana tetap berada di jalan Allah ketika dunia menawarkan begitu banyak godaan.

Karena itu, membaca Al-Qur’an seharusnya bukan aktivitas yang hanya dilakukan ketika memiliki banyak waktu.

Al-Qur’an justru perlu hadir dalam kehidupan kita setiap hari.

Jangan Menunggu Senggang untuk Membaca Al-Qur’an

Sering kali kita mengatur waktu untuk banyak hal.

Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam melihat layar.

Kita bisa meluangkan waktu untuk media sosial.

Kita bisa mengikuti berbagai informasi yang sebenarnya tidak semuanya penting.

Tetapi ketika lima atau sepuluh menit digunakan untuk membaca Al-Qur’an, kita merasa tidak punya waktu.

Ini bukan semata-mata persoalan waktu.

Kadang persoalannya adalah prioritas.

Sesuatu yang kita anggap penting akan kita usahakan waktunya.

Maka mari bertanya kepada diri sendiri:

Apakah Al-Qur’an benar-benar menjadi bagian penting dalam kehidupan kita?

Ataukah kita hanya membacanya ketika ada waktu luang?

Jika selalu menunggu senggang, mungkin kita akan terus menunggu.

Sebab kesibukan tidak pernah benar-benar habis.

Sedikit tetapi Istiqamah

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten, meskipun sedikit.

Prinsip ini sangat relevan dalam membaca Al-Qur’an.

Tidak harus langsung membaca banyak halaman.

Tidak harus menunggu satu jam kosong.

Mulailah dengan kemampuan yang kita miliki.

Satu halaman.

Beberapa ayat.

Sepuluh menit.

Yang penting dilakukan dengan kesungguhan dan terus dijaga.

Karena tujuan kita bukan sekadar menyelesaikan banyak halaman.

Tujuan kita adalah membangun hubungan dengan Al-Qur’an.

Sebuah Kebiasaan Kecil yang Mengubah Hari

Bayangkan seorang pekerja yang setiap pagi harus berangkat sebelum matahari terlalu tinggi.

Rutinitasnya padat.

Bangun, bersiap, salat, sarapan, lalu berangkat bekerja.

Ia merasa tidak memiliki waktu untuk membaca Al-Qur’an.

Suatu hari ia mencoba mengubah kebiasaannya.

Setelah salat Subuh, sebelum membuka telepon genggam dan memulai aktivitas, ia membaca Al-Qur’an selama sepuluh menit.

Tidak banyak.

Hanya beberapa ayat.

Hari pertama terasa biasa.

Hari kedua ia mengulanginya.

Hari ketiga mulai terbiasa.

Beberapa minggu kemudian, sepuluh menit itu menjadi bagian dari paginya.

Kisah ini merupakan ilustrasi sederhana, tetapi pesannya penting:

Kebiasaan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil yang dilakukan berulang-ulang.

Mungkin kita tidak mampu membaca banyak.

Tidak masalah.

Yang penting jangan sampai hari kita berlalu tanpa sedikit pun berinteraksi dengan Al-Qur’an.

Al-Qur’an Bukan Hanya untuk Dibaca

Membaca Al-Qur’an adalah ibadah.

Tetapi hubungan kita dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada membaca.

Kita juga perlu berusaha memahami pesan yang Allah sampaikan.

Ketika membaca tentang kesabaran, tanyakan:

“Apakah aku sudah belajar bersabar?”

Ketika membaca tentang memaafkan, tanyakan:

“Apakah aku masih menyimpan dendam?”

Ketika membaca tentang kejujuran, tanyakan:

“Apakah aku sudah jujur dalam pekerjaanku?”

Ketika membaca tentang sedekah, tanyakan:

“Apakah aku sudah mau berbagi?”

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berada di tangan.

Al-Qur’an mulai masuk ke dalam kehidupan.

Ketika Dunia Terlalu Ramai, Kembalilah kepada Al-Qur’an

Ada hari ketika pikiran kita penuh.

Berita datang silih berganti.

Pekerjaan menumpuk.

Masalah keluarga membuat pikiran tidak tenang.

Target hidup terasa berat.

Kita membuka berbagai aplikasi untuk mencari hiburan.

Tetapi terkadang hati justru semakin lelah.

Pada saat seperti itu, cobalah berhenti sejenak.

Letakkan telepon.

Ambil wudu.

Buka Al-Qur’an.

Baca perlahan.

Tidak perlu terburu-buru.

Renungkan ayat yang kita baca.

Mungkin masalah belum langsung selesai.

Tetapi hati bisa mendapatkan arah.

Sebab Al-Qur’an bukan sekadar memberikan informasi.

Ia mengingatkan hati kepada Allah.

Renungan Subuh Hari Ini

Pagi ini, mari kita melihat kembali hubungan kita dengan Al-Qur’an.

Kapan terakhir kali kita membaca Al-Qur’an bukan karena kewajiban, tetapi karena benar-benar ingin mendekat kepada Allah?

Berapa hari kita pernah melewati pagi tanpa membacanya?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk dunia dibandingkan dengan beberapa menit bersama Al-Qur’an?

Dan yang paling penting:

Apakah ayat-ayat yang kita baca sudah mulai mengubah cara kita menjalani kehidupan?

Jangan merasa terlambat.

Selama Allah masih memberikan umur, pintu untuk kembali selalu terbuka.

Ambil kembali Al-Qur’an.

Buka kembali halamannya.

Baca kembali ayat-ayatnya.

Dan mulailah lagi.

Baca Juga:

Ibadah Itu Ringan: Tapi Mengapa Kita Terasa Berat Melakukannya?

Aksi Hari Ini

Hari ini, jangan menunggu waktu senggang.

Sediakan waktu khusus untuk Al-Qur’an.

Jika memiliki waktu sepuluh menit, gunakan sepuluh menit.

Jika mampu satu halaman, bacalah satu halaman.

Jika baru mampu beberapa ayat, mulailah dari beberapa ayat.

Kemudian lakukan satu hal tambahan:

Pahami satu pesan dari ayat yang kita baca dan usahakan menerapkannya hari ini.

Misalnya membaca tentang menjaga lisan.

Maka hari ini kita berusaha tidak menyakiti orang dengan perkataan.

Membaca tentang sedekah.

Maka hari ini kita berbagi.

Membaca tentang sabar.

Maka ketika menghadapi masalah, kita menahan diri dan mengingat Allah.

Dengan cara itu, membaca Al-Qur’an tidak berhenti sebagai rutinitas.

Ia menjadi perubahan.

Jangan Biarkan Kesibukan Menjauhkan Kita dari Al-Qur’an

Saudaraku,

Kesibukan adalah bagian dari kehidupan.

Kita memang harus bekerja.

Kita harus mencari nafkah.

Kita harus mengurus keluarga.

Kita memiliki tanggung jawab.

Tetapi jangan sampai kesibukan dunia membuat kita kehilangan hubungan dengan Al-Qur’an.

Sebab kita membutuhkan petunjuk Allah justru ketika menjalani semua kesibukan itu.

Jangan menunggu kaya untuk dekat dengan Al-Qur’an.

Jangan menunggu tua.

Jangan menunggu pensiun.

Jangan menunggu hati tenang.

Dekatilah Al-Qur’an sekarang, di tengah kehidupan yang sedang kita jalani.

Semoga setiap ayat yang kita baca menjadi cahaya bagi hati.

Semoga setiap huruf yang kita baca menjadi amal.

Semoga setiap pesan yang kita pahami menjadi perubahan dalam kehidupan.

Dan semoga Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab yang kita baca, tetapi menjadi petunjuk yang kita cintai dan kita amalkan.

Ya Allah, dekatkan hati kami kepada Al-Qur’an.

Jadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam hati kami, petunjuk dalam kehidupan kami, dan penguat ketika kami menghadapi kesulitan.

Berikan kami keistiqamahan untuk membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan ayat-ayat-Mu.

Jangan biarkan kesibukan dunia membuat kami jauh dari kitab-Mu.

Lembutkan hati kami ketika membaca ayat-ayat-Mu dan jadikan setiap ayat yang kami baca sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.

Ampuni kelalaian kami dan bimbing kami agar terus memperbaiki diri hingga akhir hayat.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *