
HIJRAH BUKAN SEKADAR PINDAH TEMPAT, TAPI REVOLUSI JIWA! Saat Manusia Berani Keluar dari Penjara Ego Menuju Ridha Allah.
KABAR NEGERI PLUS | RUANG INSPIRASI l 18-06-2026.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang dipenuhi ambisi, persaingan, dan pencarian identitas, makna hijrah kerap dipersempit hanya sebagai perpindahan fisik atau perubahan penampilan semata.
Padahal, Islam mengajarkan bahwa hijrah yang paling berat sekaligus paling mulia adalah hijrah dari dalam diri sendiri.
Pesan mendalam itulah yang disampaikan oleh Dr. Didi Junaedi, M.A., Dosen Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, dalam refleksinya tentang makna hijrah yang sesungguhnya.
Allah SWT telah menjanjikan kemuliaan bagi setiap orang yang berhijrah di jalan-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat 100:
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak…”
Ayat tersebut tidak hanya berbicara tentang perpindahan geografis, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengubah manusia dari keadaan buruk menuju keadaan yang lebih baik.
Secara bahasa, hijrah berarti berpindah, meninggalkan, atau menjauhkan diri. Namun dalam makna yang lebih luas, hijrah adalah keberanian meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan manusia dari Allah SWT.
Rasulullah SAW bahkan menegaskan bahwa hakikat seorang muhajir bukanlah sekadar orang yang berpindah tempat, melainkan mereka yang mampu meninggalkan segala bentuk perbuatan yang dilarang Allah.
Dalam konteks kehidupan saat ini, hijrah menjadi semakin relevan. Bukan hanya meninggalkan lingkungan yang buruk, tetapi juga meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mengakar dalam diri. Kesombongan, iri hati, prasangka buruk, kemarahan yang tak terkendali, sifat kikir, hingga keputusasaan merupakan “penjara batin” yang sering kali lebih sulit ditinggalkan daripada sebuah rumah atau kampung halaman.
Ulama besar Mahmud Syaltout membagi hijrah menjadi dua bentuk. Pertama, Hijrah Badaniyah, yaitu perpindahan fisik dari lingkungan yang tidak memberikan harapan menuju tempat yang lebih baik dan aman.
Kedua, Hijrah Qalbiyah, yakni perpindahan hati dari gelapnya kemaksiatan menuju cahaya ketaatan.
Hijrah qalbiyah inilah yang dinilai sebagai inti dari seluruh perjalanan manusia menuju Allah SWT.
Para ulama tasawuf bahkan memberikan makna yang lebih mendalam terhadap firman Allah tentang orang yang “keluar dari rumahnya untuk berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya”.
Menurut mereka, rumah yang dimaksud tidak hanya bangunan tempat tinggal, tetapi juga “rumah ego” yang bersemayam dalam diri manusia.
Artinya, seseorang baru benar-benar berhijrah ketika ia mampu keluar dari kungkungan hawa nafsu, kesombongan, dan kepentingan dirinya sendiri menuju ketundukan total kepada Allah SWT.
Di era digital saat ini, ketika manusia begitu mudah terjebak dalam pencitraan, keserakahan, dan perlombaan mencari pengakuan, pesan hijrah menjadi semakin penting.
Sebab musuh terbesar manusia sering kali bukan orang lain, melainkan egonya sendiri.
Hijrah sejati bukan tentang mengubah alamat, melainkan mengubah akhlak. Bukan sekadar mengganti pakaian, melainkan mengganti cara pandang terhadap kehidupan.
Bukan hanya berpindah tempat, tetapi berpindah dari keburukan menuju kebaikan, dari kemaksiatan menuju ketakwaan, dan dari keakuan menuju keridhaan Allah.
Momentum tahun baru Hijriah hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan ucapan semata. Ia harus menjadi titik awal revolusi spiritual, saat setiap manusia berani melakukan perjalanan paling berat dalam hidupnya: keluar dari dirinya sendiri.
Karena sesungguhnya, hijrah terbesar bukanlah perjalanan melintasi bumi, melainkan perjalanan menaklukkan ego menuju ridha Ilahi.
Ruang Inspirasi | Kabar Negeri Plus Rabu, 18 Juni 2026.
(Dok.KN +/Admin)

