
Qiyamul Lail: Bangun di Sepertiga Malam
Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruhu, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu falā muḍilla lah, wa man yuḍlil falā hādiya lah. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.
الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+), saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.
Kabar Negeri Plus – Qiyamul Lail atau shalat malam adalah salah satu ibadah yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Terlebih lagi pada bulan Ramadan, ketika umat Islam dianjurkan untuk menghidupkan malam dengan ibadah, doa, dan zikir. Bangun di sepertiga malam bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi merupakan bentuk kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT.
Keutamaan Qiyamul Lail
Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang bangun pada malam hari untuk beribadah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
Artinya:
“Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun kepada Allah.”
(QS. Adz-Dzariyat: 17–18)
Ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa tidak menyia-nyiakan malam mereka. Mereka memanfaatkan waktu sunyi tersebut untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat, doa, dan istighfar.

Waktu Terbaik Berdoa kepada Allah
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang sangat istimewa. Pada saat itu Allah membuka pintu rahmat-Nya dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Rabb kita turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkannya; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku akan memberinya; dan siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Pada saat manusia lain terlelap tidur, Allah memberikan kesempatan bagi orang-orang yang bangun malam untuk bermunajat kepada-Nya.
Amalan dalam Qiyamul Lail
Qiyamul Lail dapat diisi dengan berbagai bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.
1. Shalat Tahajud
Shalat tahajud adalah inti dari qiyamul lail. Dilakukan setelah tidur dan menjadi ibadah yang sangat dianjurkan.
2. Membaca Al-Qur’an
Malam yang sunyi adalah waktu yang sangat baik untuk membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.
3. Zikir dan istighfar
Memohon ampun kepada Allah pada waktu sahur memiliki keutamaan besar.
4. Memperbanyak doa
Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang mustajab untuk memohon berbagai kebaikan kepada Allah.

Refleksi Ruhani: Keheningan yang Mendekatkan Hati kepada Allah
Malam memiliki ketenangan yang tidak dimiliki oleh waktu-waktu lainnya. Ketika dunia terlelap dan suara kehidupan mereda, hati manusia menjadi lebih mudah untuk merasakan kehadiran Allah.
Dalam keheningan itulah seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya. Tidak ada yang ia bawa selain doa, harapan, dan pengakuan atas kelemahannya sebagai manusia.
Qiyamul lail mengajarkan kerendahan hati. Seorang mukmin menyadari bahwa segala kekuatan, rezeki, dan keberhasilan yang ia miliki berasal dari Allah semata.
Mereka yang terbiasa bangun malam biasanya memiliki hati yang lebih lembut dan jiwa yang lebih tenang. Sebab mereka memiliki waktu khusus untuk berbicara dengan Allah, mencurahkan isi hati, dan memohon petunjuk dalam hidupnya.
Dari sinilah lahir kekuatan spiritual yang tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat nyata dalam kehidupan seorang mukmin.
Penutup
Qiyamul lail adalah ibadah yang menghidupkan hati dan mendekatkan seorang hamba kepada Allah SWT. Dalam kesunyian malam, seorang mukmin dapat bermunajat dengan penuh keikhlasan tanpa gangguan dari kesibukan dunia.
Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, adalah kesempatan terbaik untuk membiasakan diri bangun malam. Dari kebiasaan inilah lahir kedekatan dengan Allah yang akan membawa ketenangan dalam kehidupan.
Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menghidupkan malam-malam Ramadan dengan qiyamul lail, doa, dan istighfar.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.

