Jaga Lisan, Karena Setiap Perkataan Akan Dipertanggungjawabkan

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian Hari 22 | 22 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan belajar menjadi hamba yang lebih baik.

Salah satu perkara yang sering dianggap kecil, tetapi dapat membawa akibat besar, adalah lisan.

Satu kalimat bisa membuat seseorang tersenyum. Namun satu kalimat pula bisa membuat hati terluka, persahabatan rusak, keluarga bertengkar, bahkan menimbulkan persoalan yang panjang.

Karena itu, menjaga lisan bukan sekadar persoalan sopan santun. Bagi seorang Muslim, menjaga perkataan merupakan bagian dari menjaga amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Setiap Perkataan Ada Catatannya

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
QS. Qaf: 18

Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada perkataan yang benar-benar hilang begitu saja.

Apa yang kita ucapkan kepada pasangan, anak, orang tua, teman, rekan kerja, tetangga, bahkan orang yang tidak kita kenal, semuanya harus kita pertimbangkan.

Lebih jauh lagi, pada zaman ketika komunikasi tidak hanya dilakukan dengan mulut, jari juga bisa menjadi lisan.

Komentar di media sosial, pesan WhatsApp, unggahan, balasan, dan informasi yang kita teruskan kepada orang lain juga harus dijaga.

Jangan sampai kita berhati-hati ketika berbicara langsung, tetapi begitu berada di balik layar, kita merasa bebas mengatakan apa saja.

Berkata Baik atau Diam

Rasulullah SAW mengajarkan:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
HR. Bukhari dan Muslim

Pesannya sederhana, tetapi sangat dalam.

Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua informasi harus diteruskan. Tidak semua kesalahan orang lain harus dibicarakan.

Kadang-kadang, diam bukan berarti kita tidak peduli.

Diam bisa menjadi bentuk kehati-hatian agar kita tidak mengatakan sesuatu yang kelak kita sesali.

Sebaliknya, ketika memang perlu berbicara, pilihlah kata-kata yang benar, bermanfaat, dan tidak merendahkan orang lain.

Jangan Sampai Benar, tetapi Cara Menyampaikannya Salah

Ada kalanya seseorang merasa sedang menyampaikan kebenaran. Namun cara menyampaikannya justru membuat orang lain terluka.

Nasihat yang baik tidak harus disampaikan dengan penghinaan.

Kritik tidak harus disertai merendahkan.

Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan.

Kita boleh tidak setuju dengan seseorang, tetapi tetap menjaga adab dalam menyampaikan ketidaksetujuan.

Sebab, menjadi benar bukan alasan untuk kehilangan akhlak.

Sebuah Kisah Sederhana

Bayangkan seorang pekerja muda yang menerima pesan dari rekan kerjanya. Pesan itu membuatnya tersinggung karena dianggap tidak menghargai pekerjaannya.

Dalam keadaan emosi, ia hampir membalas dengan kalimat keras.

Namun sebelum menekan tombol kirim, ia meletakkan teleponnya.

Ia mengambil waktu untuk menenangkan diri, membaca kembali pesan tersebut, kemudian memilih bertanya dengan baik mengenai maksud sebenarnya.

Ternyata, rekan kerjanya tidak bermaksud merendahkan. Ada kesalahpahaman dalam komunikasi.

Kisah tersebut adalah ilustrasi sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Berapa banyak pertengkaran sebenarnya dapat dicegah hanya karena seseorang mau berhenti sejenak sebelum berbicara atau mengirim pesan?

Lisan yang Dijaga, Hati yang Terpelihara

Menjaga lisan bukan berarti kita harus menjadi orang yang selalu diam.

Justru seorang Muslim dituntut untuk mampu menggunakan perkataannya untuk menghadirkan kebaikan.

Mengucapkan terima kasih.

Meminta maaf.

Mendoakan orang lain.

Menenangkan orang yang sedang sedih.

Memberikan nasihat dengan cara yang baik.

Menyampaikan kebenaran dengan bijaksana.

Semua itu dapat menjadi kebaikan.

Sebaliknya, perkataan yang merendahkan, fitnah, kebohongan, penghinaan, dan ucapan yang sengaja melukai hati orang lain harus kita jauhi.

Karena terkadang luka akibat perkataan tidak terlihat, tetapi bisa bertahan sangat lama di dalam hati seseorang.

Renungan Pagi

Sebelum hari ini berjalan lebih jauh, mari bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana lisan kita selama ini?

Apakah lebih banyak menghadirkan ketenangan atau justru pertengkaran?

Apakah perkataan kita membuat orang lain merasa dihargai atau direndahkan?

Apakah kita sering berbicara sebelum berpikir?

Dan apakah kita pernah menyakiti seseorang dengan perkataan, lalu menganggapnya sebagai hal biasa?

Tidak ada manusia yang sempurna.

Tetapi orang yang baik bukanlah orang yang tidak pernah salah. Orang yang baik adalah orang yang mau menyadari kesalahannya dan berusaha memperbaikinya.

Jika hari ini pernah ada perkataan kita yang melukai seseorang, jangan terlalu berat untuk meminta maaf.

Jika ada informasi yang pernah kita sebarkan tanpa memastikan kebenarannya, berhentilah meneruskannya.

Dan jika kita sedang marah, belajarlah memberi waktu kepada diri sendiri sebelum membuka mulut atau mengetik sesuatu.

Baca Juga:

Jangan Berhenti Memohon Ampunan Kepada Allah

 

Aksi Hari Ini

Hari ini, mari membuat satu komitmen sederhana:

“Saya akan berpikir sebelum berbicara dan berpikir lebih panjang sebelum mengirim sesuatu.”

Sebelum mengucapkan atau mengirim sebuah kalimat, tanyakan:

Apakah ini benar?

Apakah ini perlu?

Apakah cara menyampaikannya baik?

Jika jawabannya tidak, mungkin diam adalah pilihan yang lebih selamat.

Mari jadikan lisan sebagai jalan menghadirkan kedamaian, bukan sumber pertengkaran.

Penutup

Saudaraku,

Kita mungkin lupa banyak perkataan yang pernah kita ucapkan. Tetapi bisa jadi, orang lain masih mengingatnya.

Karena itu, jangan meremehkan satu kalimat.

Jaga lisan ketika sedang marah.
Jaga lisan ketika sedang bercanda.
Jaga lisan ketika berbicara tentang orang lain.
Jaga lisan ketika menggunakan media sosial.
Dan jaga lisan ketika merasa diri kita berada di pihak yang paling benar.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar setiap perkataan yang keluar dari mulut maupun tulisan yang keluar dari tangan menjadi sesuatu yang bernilai kebaikan.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Doa

Allāhumma ihfaz lisānanā, wa thahhir qulūbanā, waj‘al kalāmanā khairan wa barakatan.

Ya Allah, jagalah lisan kami, bersihkan hati kami, dan jadikan perkataan kami sebagai perkataan yang baik dan membawa keberkahan.

Jauhkan kami dari kebohongan, fitnah, ghibah, penghinaan, dan perkataan yang menyakiti hati orang lain.

Ajarkan kami untuk berkata benar dengan cara yang baik, diam ketika diam lebih selamat, serta berani meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *