JANGAN BIARKAN DUNIA MENGUASAI HATIMU

 

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian 2 | Rabu, 2 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Pagi ini Allah kembali memberi kita kesempatan untuk membuka mata, menghirup udara, dan menjalani satu hari lagi.

Kemarin kita memulai September dengan belajar memperbaiki niat.

Hari ini kita melangkah lebih dalam:

menjaga hati agar tidak dikuasai dunia.

Dunia memang harus kita jalani.

Kita bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, mengejar pendidikan, merencanakan masa depan dan berusaha mencukupi kebutuhan.

Semua itu bukan kesalahan.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika dunia yang seharusnya berada di tangan justru mulai mengambil tempat di dalam hati.

Ketika harta menjadi ukuran harga diri.

Ketika jabatan menjadi sumber kesombongan.

Ketika popularitas menjadi tujuan.

Ketika kehilangan sesuatu membuat kita merasa hidup sudah tidak berarti.

Saat itulah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah kita sedang memiliki dunia, atau justru dunia yang mulai memiliki hati kita?

Dunia Hanyalah Kehidupan Sementara

Allah SWT berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

QS. Al-Hadid: 20

Ayat ini bukan berarti Islam mengajarkan kita meninggalkan dunia.

Islam mengajarkan kita menempatkan dunia pada tempat yang benar.

Kita boleh memiliki harta.

Boleh memiliki rumah.

Boleh memiliki kendaraan.

Boleh memiliki jabatan.

Boleh membangun usaha.

Boleh menikmati rezeki yang halal.

Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa kepada siapa semuanya akan kembali.

Dunia boleh berada di tangan kita, tetapi jangan sampai menjadi penguasa hati kita.

Ketika Dunia Mulai Menjadi Tujuan

Ada perbedaan antara mencari dunia dan menjadikan dunia sebagai tujuan hidup.

Mencari rezeki adalah kebutuhan.

Tetapi jika seluruh hidup hanya dihabiskan untuk mengejar harta, kita perlu bertanya kembali tentang tujuan kehidupan.

Bekerja adalah kewajiban.

Tetapi jika pekerjaan membuat kita meninggalkan shalat, melupakan keluarga, menghalalkan segala cara, dan kehilangan waktu untuk mengingat Allah, ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Memiliki jabatan bukan dosa.

Tetapi jika jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain, hati sedang berada dalam bahaya.

Memiliki popularitas bukan masalah.

Tetapi jika seseorang tidak bisa merasa berharga tanpa pujian manusia, hati telah mulai bergantung kepada sesuatu yang mudah berubah.

Dunia tidak berbahaya karena kita memilikinya.

Dunia menjadi berbahaya ketika kita tidak mampu melepaskannya.

Harta Boleh Dicari, Tetapi Jangan Disembah

Kita bekerja keras karena ingin kehidupan yang lebih baik.

Itu manusiawi.

Kita ingin keluarga tercukupi.

Kita ingin anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik.

Kita ingin memiliki rumah yang nyaman.

Kita ingin membantu orang lain dengan rezeki yang kita punya.

Semua itu bisa menjadi kebaikan jika ditempuh dengan cara yang halal dan niat yang benar.

Tetapi hati harus tetap sadar:

Harta adalah amanah, bukan tujuan akhir.

Ketika harta datang, bersyukur.

Ketika harta berkurang, jangan kehilangan iman.

Ketika mendapatkan keuntungan, jangan lupa bersedekah.

Ketika kehilangan sesuatu, jangan merasa Allah telah meninggalkan kita.

Sebab nilai kehidupan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita menggunakan apa yang Allah titipkan.

Kisah tentang Seseorang yang Mengejar Bayangan

Bayangkan seseorang berlari mengejar bayangannya sendiri.

Semakin cepat ia berlari, bayangan itu tetap berada di depannya.

Ia terus mengejar.

Semakin jauh ia berlari, semakin lelah tubuhnya.

Padahal jika ia berhenti mengejar dan berdiri tenang di tempat yang benar, bayangan itu akan mengikuti dirinya.

Begitulah dunia.

Jika kita menjadikan dunia sebagai satu-satunya tujuan, kita akan terus merasa kurang.

Sudah punya satu, ingin dua.

Sudah memiliki rumah, ingin lebih besar.

Sudah mendapatkan penghasilan tertentu, ingin lebih tinggi.

Sudah dipuji banyak orang, masih ingin lebih banyak pengakuan.

Keinginan manusia tidak memiliki batas jika hati tidak belajar merasa cukup.

Bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita.

Tetapi jangan sampai cita-cita terhadap dunia menghilangkan tujuan akhirat.

Jangan Bandingkan Hidupmu dengan Orang Lain

Salah satu cara dunia masuk ke dalam hati adalah melalui kebiasaan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

Melihat orang lain memiliki rumah lebih besar.

Kendaraan lebih bagus.

Penghasilan lebih tinggi.

Pekerjaan lebih bergengsi.

Keluarga terlihat lebih bahagia.

Akhirnya kita merasa hidup sendiri kurang.

Padahal kita hanya melihat apa yang tampak.

Kita tidak tahu perjuangan mereka.

Kita tidak tahu ujian mereka.

Kita tidak tahu apa yang mereka tanggung di balik apa yang terlihat.

Allah memberikan rezeki kepada setiap manusia dengan ukuran dan bentuk yang berbeda.

Maka jangan habiskan hidup dengan menghitung apa yang dimiliki orang lain.

Syukuri apa yang Allah titipkan kepada kita sambil tetap berusaha memperbaiki kehidupan.

Hati yang Terlalu Mencintai Dunia Mudah Gelisah

Semakin kuat seseorang menggantungkan kebahagiaannya kepada dunia, semakin besar pula ketakutannya kehilangan dunia.

Takut kehilangan uang.

Takut kehilangan jabatan.

Takut kehilangan popularitas.

Takut kehilangan pekerjaan.

Takut kehilangan pujian.

Takut kehilangan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sumber kebahagiaan.

Padahal tidak ada satu pun milik kita yang benar-benar kekal.

Hari ini ada.

Besok bisa tidak ada.

Hari ini sehat.

Besok bisa sakit.

Hari ini memiliki jabatan.

Besok bisa digantikan.

Hari ini memiliki banyak harta.

Besok mungkin harus meninggalkannya.

Karena itu, letakkan hati kepada Allah.

Jika Allah menjadi tempat bergantung, perubahan dunia tidak akan mudah menghancurkan hati kita.

Renungan Subuh

Setelah salat Subuh, duduklah sejenak dan periksa hati.

Tanyakan dengan jujur:

Apa yang paling saya takut kehilangan dalam hidup ini?

Apakah saya lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan iman?

Apakah saya terlalu sering membandingkan hidup saya dengan orang lain?

Apakah pekerjaan membuat saya semakin dekat kepada Allah atau justru semakin lalai?

Apakah saya bersyukur ketika mendapatkan rezeki?

Apakah saya tetap tenang ketika rezeki berkurang?

Dan pertanyaan yang paling penting:

Jika semua yang saya miliki hari ini diambil Allah, apakah saya masih merasa memiliki Allah?

Jika jawabannya belum, mungkin hati kita perlu ditata kembali.

Baca Juga:

Sombong yang Tersembunyi: Saat Hati Merasa Lebih Baik dari Orang Lain

 

Aksi Hari Ini

Hari ini jangan berhenti bekerja.

Jangan berhenti berusaha.

Jangan berhenti mencari rezeki halal.

Tetapi ubah cara kita memandang semuanya.

Sebelum bekerja, luruskan niat:

“Ya Allah, aku mencari rezeki yang halal untuk memenuhi amanah dan kebutuhan keluargaku. Jadikan pekerjaanku sebagai ibadah.”

Ketika mendapatkan rezeki, ucapkan syukur.

Sisihkan sebagian untuk berbagi.

Ketika melihat keberhasilan orang lain, doakan kebaikan untuknya dan jangan biarkan iri menguasai hati.

Dan hari ini, coba lakukan satu hal:

kurangi satu kebiasaan yang membuat kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Tidak semua pencapaian harus dipamerkan.

Tidak semua kebaikan harus diketahui.

Tidak semua keberhasilan harus mendapatkan tepuk tangan.

Cukuplah Allah yang mengetahui.

Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Menjadi seorang Muslim bukan berarti harus miskin.

Bukan pula berarti tidak boleh sukses.

Justru kita dianjurkan menjadi manusia yang bermanfaat.

Memiliki kemampuan.

Memiliki pekerjaan.

Memiliki usaha.

Memiliki harta yang halal.

Namun semua itu harus menjadi alat untuk berbuat baik, bukan pengganti tujuan hidup.

Miliki dunia secukupnya.

Nikmati rezeki yang halal.

Bangun kehidupan yang baik.

Tetapi jangan lupa mempersiapkan kepulangan.

Sebab rumah yang kita bangun di dunia akan kita tinggalkan.

Kendaraan yang kita banggakan akan ditinggalkan.

Harta yang kita kumpulkan akan berpindah tangan.

Jabatan akan berakhir.

Popularitas akan hilang.

Tetapi amal yang kita kerjakan karena Allah menjadi bekal yang kita harapkan ketika menghadap-Nya.

Jangan Biarkan Dunia Mengambil Allah dari Hatimu

Kita tidak tahu berapa lama lagi kita akan hidup.

Karena itu, jangan sampai seluruh waktu habis untuk mengejar sesuatu yang pada akhirnya harus kita tinggalkan.

Carilah dunia.

Tetapi jangan lupakan akhirat.

Bekerjalah.

Tetapi jangan tinggalkan ibadah.

Bangun usaha.

Tetapi jangan tinggalkan kejujuran.

Kumpulkan harta.

Tetapi jangan lupa berbagi.

Raih kesuksesan.

Tetapi tetap rendah hati.

Nikmati kehidupan.

Tetapi jangan sampai kehidupan membuat kita lupa kepada Penciptanya.

Dunia bukan musuh kita.

Yang harus kita lawan adalah ketika dunia mulai menguasai hati.

Jika hati tetap bersama Allah, dunia bisa menjadi sarana menuju kebaikan.

Harta bisa menjadi sedekah.

Pekerjaan bisa menjadi ibadah.

Kekuasaan bisa menjadi amanah.

Ilmu bisa menjadi manfaat.

Dan kehidupan bisa menjadi jalan menuju ridha Allah.

Maka pagi ini, mari kita berdoa agar Allah memberi kita dunia tanpa membuat kita diperbudak olehnya.

Ya Allah, berikan dunia di tangan kami, tetapi jangan Engkau jadikan dunia menguasai hati kami.

Karena pada akhirnya kita bukan akan ditanya:

“Seberapa banyak dunia yang berhasil kamu kumpulkan?”

Tetapi kita akan mempertanggungjawabkan:

“Apa yang kamu lakukan dengan apa yang Aku titipkan kepadamu?”

Semoga kita mampu menjalani dunia tanpa kehilangan akhirat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Doa

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas akhir pengetahuan kami.”

Ya Allah, berikan kami rezeki yang halal dan berkah.

Berikan kami kecukupan tanpa menjadikan harta sebagai tujuan hidup.

Jika Engkau memberikan kami kekayaan, jadikan kami orang yang bersyukur dan gemar berbagi.

Jika Engkau memberikan kami jabatan, jadikan kami amanah.

Jika Engkau memberikan kami keberhasilan, jauhkan kami dari kesombongan.

Jika Engkau memberikan kami kesulitan, kuatkan hati kami untuk tetap bersabar.

Jangan biarkan dunia menguasai hati kami.

Jangan biarkan harta menjauhkan kami dari-Mu.

Jangan biarkan kesibukan membuat kami meninggalkan ibadah.

Jadikan dunia berada di tangan kami dan akhirat tetap menjadi tujuan hati kami.

Cukupkan hati kami dengan mengingat-Mu.

Ajarkan kami bersyukur atas apa yang kami miliki dan ikhlas terhadap apa yang Engkau ambil.

Jadikan setiap rezeki yang Engkau titipkan sebagai jalan untuk mendekat kepada-Mu.

Dan ketika tiba waktunya kami meninggalkan dunia, semoga kami membawa iman dan amal yang Engkau ridai.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *