
Rembuk Stunting Pekon Sukamaju: Satu Anak Terdeteksi, Pemerintah Pekon Serukan Pencegahan Sejak Dini
PESISIR BARAT — Kabar Negeri Plus — Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan anak. Di balik satu anak yang terdeteksi mengalami stunting, ada alarm yang mengingatkan bahwa persoalan gizi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak hingga kesiapan keluarga harus menjadi perhatian bersama.
Pesan itu mengemuka dalam Rembuk Stunting Pekon Sukamaju, Kecamatan Ngaras, Kabupaten Pesisir Barat, yang digelar di Aula Kantor Peratin Pekon Sukamaju, Senin, 24 Agustus 2026.
Kegiatan yang masuk dalam anggaran tahun 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah pekon menindaklanjuti amanah pemerintah pusat agar setiap pekon secara aktif mengidentifikasi, mencegah, dan menangani persoalan stunting di wilayahnya.
Pendamping Lokal Desa (PLD) Pekon Sukamaju, Januar Ali, S.Pd.I, mengungkapkan bahwa dari hasil rembuk dan pendataan yang dilakukan, ditemukan satu anak yang terdeteksi positif stunting di wilayah Pekon Sukamaju.
Temuan tersebut menjadi perhatian serius bagi pemerintah pekon. Sebab, satu kasus bukan sekadar angka dalam laporan administrasi, melainkan menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan anak mendapatkan perhatian dan penanganan yang tepat.
Peratin Pekon Sukamaju, Ansyori, dalam sambutannya berharap seluruh unsur yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, khususnya bidan desa, kader Posyandu serta seluruh pihak terkait, dapat meningkatkan perhatian terhadap tumbuh kembang anak.
Ia menekankan bahwa pencegahan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah pekon. Peran keluarga dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memutus potensi munculnya kasus stunting baru.
“Persoalan stunting harus menjadi perhatian bersama. Bidan desa, kader Posyandu dan seluruh lini harus bersinergi agar ke depan kasus seperti ini dapat dicegah dan tidak kembali terjadi,” demikian garis besar pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Pernikahan Dini Ikut Disorot
Yang tak kalah penting, pemerintah Pekon Sukamaju bersama Pendamping Lokal Desa juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai faktor yang dapat berpengaruh terhadap kualitas kesehatan ibu dan anak.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pernikahan dini atau pernikahan di bawah umur.
Pemerintah pekon mengajak masyarakat, khususnya para orang tua dan generasi muda, untuk memahami bahwa keputusan menikah bukan hanya menyangkut kesiapan secara sosial, tetapi juga membutuhkan kesiapan fisik, mental, ekonomi dan pengetahuan dalam membangun keluarga.
Sosialisasi tersebut diharapkan dapat menjadi langkah preventif agar persoalan yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak dapat ditekan sejak dari hulu.
Jangan Tunggu Stunting Menjadi Angka yang Bertambah
Rembuk Stunting Pekon Sukamaju pada akhirnya bukan hanya forum formalitas tahunan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk membuka persoalan secara lebih terang: ada satu anak yang terdeteksi stunting dan kondisi tersebut harus menjadi titik awal untuk memperkuat pencegahan.
Pemerintah Pekon Sukamaju bersama Pendamping Lokal Desa mendorong agar hasil rembuk tidak berhenti pada berita acara dan laporan administrasi.
Pemantauan pertumbuhan anak, penguatan Posyandu, edukasi keluarga, perhatian terhadap ibu hamil, pemenuhan gizi serta peningkatan kesadaran masyarakat harus berjalan beriringan.
Sebab, mencegah stunting bukan pekerjaan satu hari dan bukan pula tanggung jawab satu pihak.
Satu anak yang terdeteksi hari ini harus menjadi alarm agar tidak ada anak berikutnya yang mengalami persoalan serupa.
Dan dari Pekon Sukamaju, pencegahan itu harus dimulai dari sekarang.
(Dok.KN +/Rodi satria. Psbr)

