Dari Petani Jadi Supervisor, Kisah Yopanda Menemukan Makna Kemerdekaan di Pabrik AQUA Tanggamus

Kabar Negeri Plus, Tanggamus — 18 Agustus 2026 — Bagi Yopanda, 81 tahun Indonesia merdeka bukan sekadar tentang terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga berarti memiliki kesempatan untuk keluar dari ketidakpastian, meningkatkan pendidikan, memperoleh penghasilan yang lebih stabil, serta memiliki ruang untuk terus berkembang.


Kisah pria berusia 38 tahun itu menjadi gambaran bagaimana perubahan kesempatan kerja dan pengembangan keterampilan dapat mengubah perjalanan hidup seseorang. Dari seorang petani dan pekerja serabutan yang penghasilannya bergantung pada musim, Yopanda kini telah menjalani sekitar satu dekade sebagai supervisor di Pabrik AQUA Tanggamus.


Perjalanan tersebut bermula ketika pembangunan Pabrik AQUA Tanggamus berlangsung. Yopanda turut terlibat dalam pekerjaan konstruksi dan kemudian bergabung dengan tim engineering. Dari lingkungan itulah ia mulai mengenal dunia industri yang menurutnya jauh berbeda dari kesehariannya sebagai petani.


“Dulu saya bekerja sebagai petani dan penghasilannya sangat bergantung pada musim. Ketika masuk ke lingkungan industri, saya belajar banyak hal, mulai dari disiplin waktu, keselamatan kerja sampai penggunaan teknologi,” kata Yopanda kepada awak media, Senin (17/8/2026).


Dari Petani, Belajar Komputer hingga Meraih Ijazah Paket C
Ada satu hal yang menarik perhatian Yopanda ketika pertama kali bekerja bersama tim engineering. Ia melihat rekan-rekannya menggunakan komputer dan laptop untuk menyelesaikan pekerjaan.


Saat itu, Yopanda belum memiliki ijazah setara SMA. Keinginan untuk belajar pun tumbuh.
Kesempatan datang ketika perusahaan membuka program Paket C bagi masyarakat sekitar yang belum memiliki ijazah SMA. Yopanda menjadi salah satu dari sekitar 20 warga yang mengikuti program tersebut.


Di tengah kesibukannya bekerja, ia kembali belajar dua kali dalam sepekan hingga akhirnya memperoleh ijazah Paket C. Baginya, pendidikan bukan hanya soal mendapatkan dokumen kelulusan, tetapi juga pintu untuk memperluas kemampuan.
“Saya lihat teman-teman di engineering bisa menggunakan komputer dan laptop. Dari situ saya tergerak, saya juga ingin bisa. Ketika ada program Paket C, saya ikut karena ingin mendapat ijazah sekaligus menambah pengetahuan,” ujarnya.


Kini, keterampilan tersebut telah menjadi bagian dari pekerjaannya sehari-hari. Ia tidak hanya memperoleh ijazah setara SMA, tetapi juga semakin terbiasa menggunakan komputer dalam menjalankan tugas di lingkungan pabrik.
Kemerdekaan yang Tidak Hanya Berarti Penghasilan


Masuk ke dunia industri juga mengubah cara pandang Yopanda terhadap pekerjaan dan keselamatan.
Jika sebelumnya ia terbiasa menentukan sendiri waktu bekerja di kebun, lingkungan manufaktur memperkenalkannya pada disiplin waktu, prosedur, tanggung jawab, serta budaya keselamatan kerja.


Menurut Yopanda, perubahan paling besar justru terjadi pada pola pikir. Kebiasaan memperhatikan keselamatan tidak berhenti ketika jam kerja selesai, tetapi ikut terbawa dalam aktivitas sehari-hari.
“Dulu ketika bekerja sebagai petani, kami tidak terlalu mengenal aturan keselamatan seperti di industri. Setelah bekerja di sini, kami jadi lebih peduli. Bahkan ketika sedang libur dan pergi ke kebun, tanpa sadar kebiasaan tentang keselamatan itu ikut kami terapkan,” tuturnya.


Dari sisi ekonomi, perubahan juga dirasakan secara nyata.
Jika sebelumnya pendapatan sangat dipengaruhi musim panen, kini Yopanda memiliki penghasilan yang lebih stabil dan dapat direncanakan. Baginya, kondisi tersebut merupakan salah satu bentuk kemerdekaan yang paling nyata karena ia tidak lagi menghadapi ketidakpastian ekonomi seperti sebelumnya.


Menurutnya, keberadaan aktivitas industri juga dapat memberikan efek ekonomi lebih luas kepada masyarakat sekitar, termasuk melalui peluang kerja pada mitra perusahaan maupun tumbuhnya usaha kecil di sekitar kawasan pabrik.
Mayoritas Karyawan Berasal dari Masyarakat Sekitar
Kepala Pabrik AQUA Tanggamus, Teguh Santoso, mengatakan sejak mulai beroperasi pada April 2016, perusahaan berupaya memprioritaskan masyarakat sekitar sebagai bagian dari tenaga kerja.


Berdasarkan data perusahaan per Agustus 2026, sekitar 90 persen karyawan Pabrik AQUA Tanggamus berasal dari masyarakat sekitar.
Menurut Teguh, komposisi tersebut dibangun melalui proses panjang. Pada awal operasional, masyarakat sekitar yang sebelumnya banyak bekerja sebagai petani, pekebun, maupun sektor informal diberikan pelatihan untuk mengenal dunia manufaktur.


“Pendekatan ini membuka akses yang lebih setara terhadap keterampilan, pendidikan, serta kesempatan untuk berkembang bagi masyarakat sekitar pabrik,” kata Teguh.
Pelatihan tidak hanya menyasar masyarakat dengan latar belakang pendidikan tertentu. Mereka yang sebelumnya belum memiliki pengalaman di sektor manufaktur juga mendapatkan pendampingan keterampilan teknis, termasuk pengelasan dan kompetensi operasional lainnya.


“Bagi kami, membangun pabrik berarti juga membangun masyarakat di sekitarnya. Karena itu, sejak awal kami berinvestasi pada pengembangan sumber daya manusia lokal, dan hari ini mayoritas karyawan kami adalah putra-putri daerah yang tumbuh bersama Pabrik AQUA Tanggamus,” ujarnya.


Dari Hulu ke Hilir, Program Lingkungan Berjalan Bersama Masyarakat
Komitmen perusahaan, menurut Teguh, tidak berhenti pada penyerapan tenaga kerja. Program pemberdayaan masyarakat dan lingkungan juga dikembangkan dengan mengusung semangat Begawi Jejama, yang dimaknai sebagai bekerja bersama dan bergotong royong.


Di wilayah hulu Pegunungan Tanggamus, perusahaan bersama masyarakat disebut telah menanam lebih dari 11.000 pohon serta membangun sekitar 700 rorak atau lubang resapan air sepanjang 2016–2026.


Program tersebut diarahkan untuk memperkuat daerah tangkapan air, mengurangi risiko erosi, menjaga sumber daya air, serta berjalan beriringan dengan pendampingan petani kopi melalui praktik budidaya yang lebih ramah lingkungan.
Di wilayah hilir, perusahaan mengembangkan Taman Kehati Galih Batin dengan luas sekitar 3,2 hektare sebagai ruang terbuka hijau sekaligus pusat edukasi lingkungan.


Berdasarkan penelitian bersama Universitas Lampung pada 2025 yang disebutkan perusahaan, kawasan tersebut memiliki indeks keanekaragaman hayati 3,16 yang tergolong tinggi, dengan sedikitnya enam spesies tanaman endemik dan 22 jenis burung yang telah teridentifikasi.


Air Bersih, Pengelolaan Sampah dan Pemberdayaan
Program keberlanjutan juga diarahkan pada kebutuhan dasar masyarakat melalui program Water, Sanitation, and Hygiene (WASH).


Perusahaan menyebut program tersebut telah memberikan manfaat kepada 1.037 warga melalui 203 sambungan akses air bersih yang terhubung langsung ke rumah warga. Program itu juga disertai edukasi mengenai sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat.


Sementara melalui program pengelolaan sampah “Sampahku Tanggung Jawabku”, perusahaan menyebut sekitar 378 ton sampah plastik telah dikelola sejak program berjalan hingga 2026.


Berbagai kegiatan lain juga dilakukan, mulai dari edukasi lingkungan di sekolah, pendampingan kelompok wanita tani, hingga pembinaan kelompok usaha mikro untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal.


Di bidang sosial, komunitas karyawan Pabrik AQUA Tanggamus turut menjalankan kegiatan bersama masyarakat, seperti santunan bagi anak yatim piatu, dukungan akses air bersih di sejumlah rumah ibadah, serta edukasi pengelolaan sampah.
Kemerdekaan yang Dirasakan dari Hal-Hal Sederhana


Bagi Yopanda, perjalanan selama satu dekade di lingkungan industri bukan sekadar perubahan profesi. Ia melihatnya sebagai proses panjang untuk meningkatkan kualitas diri.


Dari petani, ia mendapatkan pengalaman bekerja di dunia industri. Dari keterbatasan pendidikan, ia memperoleh kesempatan mengikuti Paket C. Dari pekerjaan yang penghasilannya bergantung musim, ia kini memiliki pendapatan yang lebih stabil.


Kisah itu menunjukkan bahwa makna kemerdekaan dapat hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: kesempatan untuk belajar, bekerja, memiliki penghasilan yang lebih pasti, serta membangun masa depan dengan kemampuan sendiri.


Teguh mengatakan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang membuka kesempatan agar masyarakat dapat berkembang dan semakin mandiri.


“Bagi kami, semangat kemerdekaan hari ini adalah tentang membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat untuk hidup dengan kualitas yang lebih baik dan mendorong setiap individu dapat menjadi versi terbaik mereka. Kisah Yopanda adalah salah satu contohnya, dan kami ingin Pabrik AQUA Tanggamus terus menjadi bagian dari perjalanan itu. Selamat Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia,” pungkas Teguh.


Pabrik AQUA Tanggamus berada di Pekon Teba, Kecamatan Kota Agung Timur, Kabupaten Tanggamus, Lampung, dan mulai berproduksi pada 2016. Perusahaan menyebut pabrik tersebut berdiri di atas lahan sekitar 96.124 meter persegi dan memanfaatkan sumber air pegunungan dari kawasan kaki Gunung Tanggamus.


AQUA sendiri merupakan merek air minum dalam kemasan yang didirikan pada 1973. Dalam pengelolaan keberlanjutan, perusahaan menjalankan sejumlah inisiatif yang mencakup sirkularitas air, kemasan, dan karbon, termasuk program pengumpulan serta pengelolaan sampah plastik.


Di Tanggamus, cerita Yopanda menjadi bagian dari perjalanan yang lebih besar: ketika kesempatan kerja, pendidikan, keterampilan, dan kepedulian terhadap lingkungan bertemu dalam satu ruang.
Sebab, kemerdekaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan seremonial. Terkadang, ia hadir ketika seorang petani mendapatkan kesempatan belajar, memperoleh pekerjaan yang lebih pasti, dan berani bermimpi tentang masa depan yang lebih baik.

Dok Kabar Negeri Plus

By Admin

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *