Hidup Terus Berjalan, Kematian Kian Mendekat: Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal Akhirat?

Kabar Negeri Plus | subuh menguatkan iman.

Oleh : Jakfar Sidik.

Rubrik dakwah harian | Kamis, 15 Oktober 2026.

KABAR NEGERI PLUS — Pagi kembali menyapa, tetapi tidak semua orang menyambutnya dengan keadaan yang sama.

Ada yang bangun di rumah nyaman, ada yang langsung memikirkan pekerjaan demi sesuap nasi.

Ada yang menikmati sarapan dengan cukup, sementara yang lain harus menghitung uang berkali-kali untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun, di balik perbedaan keadaan itu, ada satu kenyataan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun:

waktu terus berjalan, usia terus berkurang, dan kematian semakin mendekat.

Pertanyaannya, jika hari ini menjadi kesempatan terakhir kita untuk memperbaiki diri, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk menghadap Allah SWT?

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara pagi, menikmati nikmat kehidupan, serta memperbaiki amal dan ibadah.

Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajarannya.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Pagi bukan sekadar pergantian waktu dari malam menuju siang.

Pagi adalah kesempatan baru yang Allah berikan kepada kita untuk memperbaiki kesalahan, meningkatkan ibadah, memperbanyak kebaikan, dan menebar manfaat bagi sesama.

Karena itu, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jangan merasa cukup dengan kebaikan yang telah dilakukan kemarin.

Teruslah memperbaiki diri hari ini. Jika kemarin ibadah kita masih kurang, tingkatkanlah.

Jika masih ada hak orang lain yang belum kita tunaikan, segeralah memperbaikinya.

Jika masih ada hati yang pernah kita lukai, bukalah pintu untuk meminta maaf.

Sebab, tidak seorang pun mengetahui berapa lama lagi kesempatan untuk memperbaiki diri akan diberikan kepadanya.

Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari nikmat kehidupan.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Kita sering kali baru menyadari betapa berharganya kesehatan ketika tubuh mulai sakit.

Kita baru memahami pentingnya waktu ketika kesempatan telah berlalu. Kita baru merasakan nikmatnya kecukupan ketika berada dalam kesulitan.

Padahal, kehidupan ini tidak kekal. Setiap jiwa akan menghadapi kematian, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan ajalnya tiba.

Ketika waktunya datang, jabatan tidak lagi dapat dibanggakan, harta tidak dapat dibawa sebagai milik dunia, dan popularitas tidak akan menjadi penentu keselamatan seseorang di hadapan Allah.

Yang kita harapkan adalah rahmat Allah, ampunan-Nya, dan amal saleh yang telah kita kerjakan selama hidup.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan bekal dunia, tetapi lupa menyiapkan bekal akhirat.

Rasulullah SAW mengingatkan umatnya agar memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya.

Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim ini memuat pesan penting tentang berharganya kesempatan hidup:

Hidup sebelum datang kematian.

Sehat sebelum datang sakit.

Waktu luang sebelum datang kesibukan.

Masa muda sebelum datang masa tua.

Kecukupan atau kekayaan sebelum datang kemiskinan.

Pesan ini bukan sekadar nasihat untuk dibaca, melainkan peringatan agar kita tidak menunda-nunda kebaikan.

Selagi masih hidup, perbanyaklah amal saleh.

Selagi sehat, gunakan tenaga untuk beribadah dan membantu sesama.

Selagi muda, bangunlah kebiasaan baik.

Selagi memiliki kelapangan rezeki, sisihkan sebagian untuk sedekah dan kepentingan orang lain.

Selagi memiliki waktu, gunakanlah untuk sesuatu yang bernilai di hadapan Allah SWT.

Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk menyesali apa yang dahulu bisa kita lakukan.

Waktu tidak pernah kembali.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Waktu adalah amanah yang tidak dapat diputar kembali. Detik yang telah berlalu tidak akan kembali, sekalipun kita memiliki harta berlimpah.

Hari kemarin hanya menjadi kenangan, sedangkan hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Waktu terus berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia. Ia tidak membedakan orang kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, orang terkenal atau mereka yang hidup sederhana.

Semua memperoleh waktu yang terus bergerak. Perbedaannya terletak pada bagaimana waktu itu digunakan.

Ada orang yang mengisi hidupnya dengan ibadah, bekerja secara halal, mendidik keluarga, membantu tetangga, dan memperjuangkan kemaslahatan masyarakat.

Namun, ada pula yang menghabiskan waktunya untuk perkara sia-sia, menyakiti sesama, mengejar pujian, atau menunda kewajiban yang seharusnya segera dilaksanakan.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: selama ini, sudah berapa banyak waktu yang kita gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah?

Berapa banyak kebaikan yang telah kita lakukan? Dan berapa banyak kesempatan yang justru terlewat karena terlalu sibuk mengejar urusan dunia?

Bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, keluarga, atau tanggung jawab duniawi.

Justru bekerja mencari nafkah yang halal, menjaga keluarga, menuntut ilmu, dan membantu masyarakat dapat menjadi bagian dari amal kebaikan apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridai Allah.

Yang perlu kita waspadai adalah ketika urusan dunia membuat kita melupakan kewajiban kepada Sang Pencipta.

Jangan abaikan solat, karena itulah kewajiban yang harus dijaga.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Di tengah kesibukan kehidupan modern, masih ada orang yang meremehkan solat, menunda-nunda pelaksanaannya, bahkan meninggalkannya tanpa merasa bersalah.

Padahal, solat merupakan kewajiban utama bagi setiap Muslim yang telah memenuhi ketentuan syariat.

Solat bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk penghambaan, ketaatan, dan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Sesungguhnya solat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”

(QS. An-Nisa: 103).

Ayat ini mengingatkan kita bahwa salat memiliki kedudukan penting dan waktu pelaksanaannya harus dijaga.

Rasulullah SAW juga menjelaskan dalam hadis riwayat At-Tirmidzi bahwa perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah solatnya.

Hadis ini menjadi peringatan agar kita tidak menganggap remeh ibadah yang menjadi kewajiban sehari-hari tersebut.

Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan di hadapan manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah.

Jangan hanya takut kehilangan pekerjaan, jabatan, atau harta, tetapi tidak merasa khawatir ketika kewajiban salat mulai ditinggalkan.

Jagalah solat lima waktu. Ajarkan anak-anak kita untuk mencintai solat sejak dini.

Ajak keluarga dan orang-orang terdekat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.

Laksanakan kewajiban dengan ikhlas, penuh kesadaran, dan berusaha menghadirkan kekhusyukan.

Solat juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ibadah yang kita kerjakan semestinya mendorong kita untuk menjauhi keburukan, menjaga amanah, berkata jujur, berlaku adil, serta menghormati hak orang lain.

Bekal terbaik bukan banyaknya harta, melainkan amal yang diridai Allah.

Sahabat handaitolan yang dirahmati Allah,

Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan hidup ini berakhir. Karena itu, jangan menunda tobat.

Jangan menunda sedekah ketika mampu. Jangan menunda meminta maaf ketika bersalah. Jangan menunggu tua untuk mulai memperbaiki ibadah.

Mari kita gunakan setiap kesempatan untuk melakukan kebaikan, sekecil apa pun nilainya.

Membantu tetangga yang kesulitan, menjaga kebersihan lingkungan, menyantuni orang yang membutuhkan, mencari nafkah dengan jujur, mendidik anak dengan baik, dan menjaga lisan dari fitnah merupakan bagian dari ikhtiar membangun kehidupan yang lebih baik.

Allah SWT berfirman:

“Dan berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.”

(QS. Al-Baqarah: 197).

Ayat ini mengingatkan bahwa ketakwaan harus menjadi bekal utama dalam perjalanan hidup menuju akhirat.

Jangan sampai kita meninggalkan dunia dengan membawa penyesalan karena terlalu banyak kesempatan berbuat baik yang disia-siakan.

Selama napas masih berembus, pintu untuk memperbaiki diri masih terbuka.

Hari ini kita masih diberi kesempatan untuk beramal. Esok belum tentu kita masih diberi kesempatan yang sama.

Mari jadikan pagi ini sebagai momentum untuk memperkuat iman, menjaga salat, memperbaiki akhlak, menunaikan amanah, dan memperbanyak amal saleh.

Semoga Allah SWT memberikan kita umur yang berkah, hati yang istiqamah, rezeki yang halal, kesempatan untuk bertobat, serta akhir kehidupan yang husnulkhatimah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.


(Dok. KN+ Jakfar Sidik)

 

Pendamping Desa berdiskusi dengan aparatur desa mengenai perencanaan pembangunan dan pengelolaan administrasi desa.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *