Ketika kejujuran dianggap kehancuran: mencari nafkah halal terasa sulit, tetapi kebohongan justru diagungkan

Kabar Negeri Plus | subuh menguatkan iman.

Rubrik dakwah harian — selasa, 13 oktober 2026. Oleh Jakfar Sidik.

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara pagi, memperbaiki diri, memperbanyak amal kebaikan, serta menjauhi segala larangan-Nya.

Semoga setiap langkah kita hari ini senantiasa berada dalam lindungan dan petunjuk-Nya.

Saudaraku, handaitolan yang dirahmati Allah SWT.

Pernahkah kita merasa bahwa di zaman sekarang, orang jujur justru tersingkir, sementara orang yang pandai berbohong malah mendapatkan tempat terhormat?

Inilah kenyataan yang patut kita renungkan. Ketika kejujuran dianggap sebagai kelemahan, kebohongan dipoles menjadi kecerdikan, dan amanah diperlakukan seolah-olah beban, sesungguhnya ada sesuatu yang sedang sakit dalam kehidupan kita.

Setiap pagi, manusia bangun dengan keadaan yang berbeda-beda.

Ada yang terbangun di rumah yang nyaman,

dengan pekerjaan dan penghasilan yang mencukupi.

Ada pula yang membuka mata sambil memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga hari itu.

Sebagian orang dapat menikmati sarapan dengan tenang.

Sebagian lainnya harus menghitung uang yang tersisa sebelum memutuskan apa yang bisa dibeli.

Ada yang bekerja dengan penghasilan memadai, tetapi tidak sedikit pula yang harus berjuang keras demi mendapatkan sesuap nasi.

Di tengah perjuangan itu, kita sering mendengar keluhan, “Mencari nafkah yang haram saja susah, apalagi yang halal.”

Ada pula yang berkata, “Kalau terlalu jujur, bisa hancur. Kalau terus terang, bisa tersingkir.

Zaman sekarang, orang jujur belum tentu mendapatkan tempat.”

Kalimat-kalimat tersebut mungkin lahir dari pengalaman pahit, kekecewaan, dan kerasnya persaingan hidup.

Namun, jangan sampai pengalaman buruk membuat kita kehilangan keyakinan bahwa rezeki yang halal, kejujuran, dan amanah tetap merupakan jalan yang harus diperjuangkan.

Sulitnya mencari nafkah bukan alasan untuk menghalalkan segala cara. Kesempitan hidup bukan pembenaran untuk menggadaikan iman.

Rezeki memang tidak selalu datang dengan mudah. Akan tetapi, mencari rezeki bukan hanya soal berapa banyak uang yang berhasil dibawa pulang.

Ada keberkahan, ketenangan hati, tanggung jawab kepada keluarga, dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT yang tidak boleh kita abaikan.

Ketika kebohongan menjadi kebiasaan
Saudaraku, handaitolan yang dirahmati Allah.

Kita juga patut prihatin ketika kebohongan seolah-olah menjadi sesuatu yang biasa.

Ada orang yang ketika berbicara, sulit membedakan antara fakta dan rekayasa.

Janji mudah diucapkan, tetapi sulit ditepati. Amanah diberikan, tetapi justru disalahgunakan.

Lebih menyedihkan lagi apabila perilaku tersebut dilakukan oleh orang yang memiliki jabatan, kekuasaan, atau pengaruh di tengah masyarakat.

Jabatan semestinya menjadi sarana untuk mengabdi, bukan alat untuk mengelabui.

Kekuasaan semestinya melahirkan tanggung jawab, bukan membuka jalan bagi kesewenang-wenangan.

Kedudukan semestinya membuat seseorang semakin berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, bukan merasa dirinya kebal terhadap kebenaran.

Sebab, semakin besar amanah yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

Jangan sampai seseorang terlihat hebat di hadapan manusia, tetapi kehilangan kepercayaan karena perkataannya sendiri.

Jangan sampai ia dihormati karena jabatannya, tetapi diragukan karena perilakunya.

Sebab, jabatan bisa membuat seseorang didengar, tetapi hanya integritas yang membuat perkataannya dipercaya.

Sekali kebohongan menjadi kebiasaan, kepercayaan akan perlahan-lahan runtuh.

Sekali amanah dikhianati, orang lain akan membutuhkan waktu panjang untuk kembali percaya.

Sebagaimana pepatah mengatakan, “Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya.”

Pepatah ini mengingatkan kita bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa dibeli dengan uang atau dipaksakan melalui jabatan.

Kepercayaan tumbuh dari perkataan yang benar, tindakan yang konsisten, dan kesediaan mempertanggungjawabkan setiap perbuatan.

Jangan merasa dunia ini milik sendiri
Ada kalanya manusia terlalu sibuk mengejar urusan dunia hingga lupa bahwa kehidupan memiliki batas.

Harta dikumpulkan seakan-akan akan dibawa selamanya. Jabatan dipertahankan seolah-olah tidak akan pernah berakhir.

Kekuasaan digunakan seakan-akan tidak ada yang mampu mengoreksi.

Bahkan, ada yang bertindak seolah-olah masih akan hidup seribu tahun lagi.

Padahal, kematian tidak mengenal pangkat, kekayaan, jabatan, ataupun popularitas.

Ketika ajal datang, semua yang dibanggakan di dunia akan ditinggalkan.

Yang akan menyertai manusia bukanlah tingginya kedudukan atau banyaknya pujian, melainkan amal perbuatannya dan apa yang telah dipersiapkan untuk kehidupan akhirat.

Karena itu, jangan menunggu kehilangan jabatan untuk belajar rendah hati.

Jangan menunggu kehilangan kepercayaan untuk belajar jujur.

Jangan pula menunggu datangnya penyesalan untuk menyadari bahwa amanah adalah tanggung jawab yang harus dijaga.

Empat sifat Rasulullah yang patut menjadi teladan
Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW dikenal memiliki empat sifat utama yang menjadi teladan bagi umat manusia, yaitu:

Shiddiq, artinya benar dan jujur dalam perkataan maupun perbuatan.

Amanah, artinya dapat dipercaya dan bertanggung jawab dalam menjalankan titipan maupun kewajiban.

Tabligh, artinya menyampaikan risalah dan kebenaran yang diamanahkan.

Fathanah, artinya cerdas dan bijaksana dalam memahami serta menyelesaikan persoalan.

Keempat sifat ini bukan sekadar istilah yang dihafalkan, melainkan nilai luhur yang semestinya tercermin dalam kehidupan sehari-hari.

Orang yang jujur tidak memutarbalikkan fakta demi keuntungan pribadi.

Orang yang amanah tidak menyalahgunakan kepercayaan.

Orang yang menyampaikan kebenaran tidak sengaja menyembunyikan hal penting demi kepentingan tertentu.

Orang yang cerdas menggunakan kemampuannya untuk mencari solusi, bukan untuk merancang tipu daya.

Perlu kita pahami, sifat-sifat tersebut merupakan sifat wajib Rasulullah SAW, bukan ciri-ciri orang munafik.

Justru, nilai-nilai itu menjadi teladan untuk membangun kepribadian seorang mukmin yang berakhlak mulia.

Rasulullah SAW juga mengingatkan tentang bahaya kemunafikan melalui sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang maknanya:

Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta;

apabila berjanji, ia mengingkari;

dan apabila dipercaya, ia berkhianat.

Hadis ini bukan untuk kita gunakan sebagai alat menghakimi orang lain, melainkan sebagai cermin untuk memeriksa diri sendiri.

Sudahkah perkataan kita sesuai dengan kenyataan? Sudahkah janji kita tepati? Sudahkah amanah kita tunaikan?

Sebelum sibuk menilai keburukan orang lain, marilah kita berani bertanya kepada diri sendiri:

jangan-jangan sifat yang kita kecam justru masih bersemayam dalam perilaku kita.

Kejujuran mungkin tidak selalu menguntungkan, tetapi kebohongan membawa risiko yang besar.

Saudaraku, handaitolan yang dirahmati Allah SWT.

Menjadi orang jujur memang tidak selalu mudah.

Ada kalanya kejujuran membuat kita kehilangan kesempatan, menghadapi tekanan, atau harus menerima kenyataan yang tidak menyenangkan.

Namun, jangan buru-buru menganggap kejujuran sebagai kerugian.

Kejujuran menjaga hati agar tidak terus-menerus dihantui kebohongan.

Kejujuran membantu membangun kepercayaan.

Kejujuran menjadi fondasi bagi keluarga yang tenteram, masyarakat yang sehat, dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Sebaliknya, kebohongan mungkin memberikan keuntungan sesaat, tetapi dapat meninggalkan kerusakan yang panjang.

Satu kebohongan sering kali membutuhkan kebohongan lain untuk menutupinya.

Pada akhirnya, bukan hanya nama baik yang dipertaruhkan, melainkan juga hubungan, kepercayaan, dan pertanggungjawaban moral.

Karena itu, jangan mengukur keberhasilan hidup hanya dari banyaknya harta yang dikumpulkan atau tingginya jabatan yang diraih.

Ukurlah pula dari cara kita memperoleh rezeki, cara kita memperlakukan sesama, cara kita menjaga amanah, dan keberanian kita untuk berkata benar meskipun tidak selalu menyenangkan.

Jika hari ini kita masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri, jangan sia-siakan kesempatan itu.

Jika pernah berbohong, belajarlah berkata benar.

Jika pernah mengkhianati amanah, bertobatlah dan perbaiki tanggung jawab yang masih bisa ditunaikan.

Jika pernah menyakiti orang lain, jangan merasa terlalu tinggi untuk meminta maaf.

Sebab, kemuliaan manusia tidak terletak pada kesempurnaan tanpa kesalahan, tetapi juga pada kesediaannya mengakui kesalahan dan kembali ke jalan yang benar.

Penutup:

jangan gadaikan iman demi dunia yang sementara.

Mari kita jadikan pagi ini sebagai momentum untuk memperbarui niat.

Carilah nafkah dengan cara yang halal. Jagalah lisan agar tidak berdusta.

Tunaikan amanah dengan penuh tanggung jawab. Jangan jadikan jabatan sebagai alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Dan jangan biarkan kerasnya kehidupan membuat kita kehilangan nilai-nilai agama.

Ingatlah, dunia ini hanya tempat persinggahan. Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, dan usia akan sampai pada batasnya.

Jangan sampai kita berhasil mengumpulkan harta, tetapi kehilangan keberkahan. Jangan sampai kita berhasil meraih jabatan, tetapi kehilangan kepercayaan.

Dan jangan sampai kita dipuji manusia, tetapi lupa memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.

Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi yang jujur dalam perkataan, amanah dalam tanggung jawab, bijaksana dalam bertindak, serta istiqamah mencari rezeki yang halal.

Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat dusta, khianat, keserakahan, dan kesombongan, serta membimbing kita agar senantiasa berpegang teguh pada ajaran-Nya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Wassalāmu’alaikum.

warahmatullāhi wabarakātuh.

Rubrik Dakwah Harian — Kabar Negeri Plus.

 

Dok. KN+ Jakfar Sidik

 

Renungan Subuh tentang kejujuran, amanah, dan mencari nafkah halal dalam ajaran Islam.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *