gaya hedonisme di era zaman now: ketika gengsi mengalahkan rasa syukur

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman.

Rubrik Dakwah Harian | Senin, 12 Oktober 2026
Dok. KN+ Jakfar Sidik.

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Ketika hidup bukan lagi tentang kebutuhan, melainkan perlombaan gengsi.

Pernahkah kita merasa hidup orang lain terlihat jauh lebih indah daripada kehidupan kita sendiri?.

Rumahnya megah, kendaraannya mewah, pakaiannya bermerek, makanannya mahal, dan setiap aktivitasnya tampak sempurna di media sosial.

Sementara itu, kita masih sibuk menghitung penghasilan, mempertimbangkan harga kebutuhan pokok, dan memikirkan bagaimana caranya agar dapur tetap mengepul hingga akhir bulan.

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sedang berjuang memperbaiki kehidupan, atau justru sedang mengejar pengakuan manusia?.

Alhamdulillāh, pagi kembali menyapa.

Udara subuh mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri masih terbuka. Namun, tidak semua orang menyambut pagi dengan keadaan yang sama.

Ada yang bangun di rumah yang nyaman, lalu menikmati sarapan bersama keluarga.

Ada pula yang bangun dengan pikiran penuh tentang pekerjaan, utang, biaya sekolah anak, dan kebutuhan rumah tangga yang belum terpenuhi.

Ada yang bekerja dengan penghasilan cukup, bahkan berlimpah.

Ada pula yang harus berjuang keras demi mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar.

Perbedaan keadaan itu merupakan bagian dari kenyataan hidup.

Tidak semua orang memulai hari dari titik yang sama, dan tidak semua orang memiliki kesempatan yang serupa.

Namun, persoalan muncul ketika perbedaan tersebut melahirkan rasa iri, keinginan berlebihan, dan dorongan untuk terlihat lebih kaya daripada keadaan yang sebenarnya.

hedonisme: saat kesenangan menjadi tujuan utama.

Gaya hidup hedonisme sering dikaitkan dengan kebiasaan mengejar kesenangan, kemewahan, dan kepuasan pribadi secara berlebihan.

Dalam kehidupan modern, dorongan itu semakin mudah muncul ketika media sosial setiap hari menampilkan gaya hidup serba mewah.

Kita melihat orang lain membeli kendaraan baru, berlibur ke tempat mahal, mengenakan barang bermerek, atau menikmati hidangan di restoran berkelas.

Tanpa disadari, sebagian orang mulai membandingkan kehidupannya sendiri dengan apa yang dilihat di layar ponsel.

Awalnya hanya ingin mengikuti tren. Kemudian muncul keinginan untuk memiliki barang yang sama.

Setelah itu, timbul rasa malu ketika tidak mampu mengikuti gaya hidup lingkungan pergaulan.

Akhirnya, kebutuhan dikalahkan oleh keinginan.

Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan keluarga justru dialihkan demi penampilan.

Bahkan, ada yang rela berutang hanya untuk mempertahankan citra agar terlihat sukses di hadapan orang lain.

Padahal, kemewahan yang terlihat belum tentu menggambarkan ketenangan hidup seseorang.

Jangan sampai kita terlihat kaya di mata manusia, tetapi kehilangan ketenangan karena beban yang kita ciptakan sendiri.
jangan biarkan gengsi mengalahkan kemampuan.

Tidak ada yang salah dengan bekerja keras, memiliki rumah yang layak, membeli kendaraan sesuai kebutuhan, atau menikmati hasil jerih payah sendiri.

Kemapanan bukanlah dosa, dan hidup sederhana bukan berarti harus menolak kemajuan.

Yang perlu diwaspadai adalah ketika keinginan untuk menikmati kehidupan berubah menjadi perlombaan tanpa garis akhir.

Ketika orang lain membeli sesuatu, kita merasa harus memilikinya.

Ketika tetangga memperbaiki rumah, kita merasa tertinggal. Ketika teman tampil mewah, kita merasa rendah diri.

Lama-kelamaan, ukuran kebahagiaan bukan lagi ketenteraman hati, kesehatan, keluarga yang harmonis, atau rezeki yang halal, melainkan penilaian orang lain terhadap apa yang kita miliki.

Bukankah melelahkan jika sepanjang hidup kita terus berusaha menyamai orang lain, padahal kemampuan, kebutuhan, dan jalan kehidupan setiap manusia berbeda?

Kita tidak harus memiliki segala sesuatu yang dimiliki orang lain. Kita hanya perlu belajar mengelola apa yang ada di tangan kita dengan bijaksana.

Islam mengajarkan keseimbangan, bukan kemewahan yang berlebihan.

Dalam Islam, manusia diperbolehkan menikmati rezeki yang halal.

Namun, kenikmatan itu harus disertai rasa syukur, tanggung jawab, dan pengendalian diri.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak melampaui batas, termasuk dalam menikmati rezeki dan memenuhi keinginan.

Kita juga diingatkan melalui firman Allah Swt. dalam QS. Al-Isra’: 27 tentang larangan menghambur-hamburkan harta.

Pesan tersebut mengajarkan bahwa harta bukan sekadar alat untuk memenuhi kesenangan pribadi, tetapi juga amanah yang harus digunakan secara bertanggung jawab.

Ada hak keluarga yang harus dipenuhi, kebutuhan yang perlu diprioritaskan, dan sesama manusia yang mungkin membutuhkan uluran tangan.

Karena itu, sebelum membeli sesuatu hanya demi gengsi, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah ini benar-benar kebutuhan, atau sekadar keinginan agar dipandang lebih tinggi oleh orang lain?
subuh adalah waktu untuk meluruskan niat.

Saudaraku, pagi hari bukan hanya awal dari aktivitas mencari nafkah.

Subuh juga menjadi kesempatan untuk menata hati, meluruskan niat, dan mengingat kembali tujuan hidup.

Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lupa bersyukur atas nikmat yang sudah dimiliki.

Jangan sampai keinginan terlihat hebat di hadapan manusia membuat kita mengabaikan tanggung jawab kepada keluarga dan kewajiban kepada Allah Swt.

Jika hari ini penghasilan kita belum besar, bukan berarti hidup kita gagal. Jika rumah kita belum megah, bukan berarti kita tidak bahagia.

Jika kendaraan kita sederhana, bukan berarti martabat kita lebih rendah daripada orang lain.

Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh merek pakaian, mahalnya kendaraan, atau banyaknya barang yang dipamerkan.

Kehidupan yang baik dibangun melalui ikhtiar yang halal, hati yang bersyukur, tanggung jawab, dan akhlak yang mulia.

Mari kita belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan, antara bekerja untuk kehidupan dan hidup demi gengsi.

Sebab, kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi juga tentang seberapa bijak kita menggunakannya dan seberapa lapang hati kita mensyukurinya.
renungan subuh:

Jangan sampai dunia menguasai hati.

Sebelum memulai aktivitas hari ini, mari bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah kita bersyukur atas rezeki yang ada? Sudahkah kita mengelola penghasilan dengan bijaksana?

Ataukah kita masih sibuk membandingkan kehidupan sendiri dengan kemewahan orang lain?

Jangan habiskan usia untuk mengejar tepuk tangan manusia, sementara ketenangan hati semakin jauh dari genggaman.

Lebih baik hidup sederhana dengan hati yang tenang daripada memaksakan kemewahan dengan beban yang menyiksa.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur, mampu mengendalikan hawa nafsu, dijauhkan dari perilaku berlebih-lebihan, serta diberi rezeki yang halal, berkah, dan bermanfaat bagi sesama.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman.


Dok. KN+ Jakfar Sidik

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *