
Mencari dan Mencuri Perhatian Allah
Renungan Harian | Kabar Negeri Plus
Pernahkah kita begitu sibuk mencari perhatian seseorang yang kita sukai, tetapi justru lupa mencari perhatian Allah yang setiap saat memperhatikan kita?
Istilah curi pandang tentu tidak asing. Ketika ada seseorang yang kita sukai berada di dekat kita, tetapi kita belum berani menyapa, berbagai cara bisa dilakukan agar dirinya melirik.
Penampilan diperhatikan. Cara berbicara dijaga. Sikap dibuat sebaik mungkin. Bahkan hal-hal kecil yang biasanya tidak terlalu dipedulikan tiba-tiba menjadi penting.
Semua dilakukan demi satu hal: ingin diperhatikan dan disukai.
Lalu muncul pertanyaan sederhana yang seharusnya menusuk ke dalam hati:
Kalau untuk mendapatkan perhatian manusia saja kita rela berusaha sedemikian rupa, mengapa untuk mendapatkan perhatian dan rida Allah kita sering begitu malas?
Tentu Allah tidak membutuhkan kita untuk “mencuri perhatian-Nya”. Allah Mahatahu. Tidak ada satu pun gerak, niat, doa, air mata, maupun amal kita yang luput dari pengetahuan-Nya.
Ungkapan “mencuri perhatian Allah” di sini hanyalah cara sederhana untuk menggambarkan bagaimana seorang hamba berusaha mendekat kepada Allah melalui amal saleh, ketaatan, keikhlasan, dan kecintaan kepada-Nya.
Kalau mencintai manusia saja kita bisa berusaha, bagaimana dengan Allah?
Ketika mencintai seseorang, kita biasanya berusaha menunjukkan sisi terbaik yang kita miliki.
Kita ingin terlihat baik. Kita ingin dianggap perhatian. Kita ingin kehadiran kita dirindukan.
Namun, sudahkah kita melakukan hal yang sama dalam hubungan kita dengan Allah?
Sudahkah kita berusaha memperbaiki salat?
Sudahkah kita membiasakan membaca Al-Qur’an?
Sudahkah kita menjaga lisan?
Sudahkah kita memperbanyak sedekah?
Sudahkah kita berusaha meninggalkan dosa meskipun tidak ada manusia yang melihat?
Di situlah letak perbedaannya.
Manusia mungkin hanya melihat apa yang tampak di luar. Tetapi Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim 2564c).
Artinya, ukuran kemuliaan seorang hamba bukan semata-mata wajah, pakaian, jabatan, kekayaan, atau popularitas.
Yang lebih penting adalah hati yang ikhlas dan amal yang benar.
Jangan hanya PDKT kepada manusia
Kita mengenal istilah PDKT—pendekatan kepada seseorang yang kita sukai.
Demi mendapatkan perhatian orang yang kita incar, kita bisa begitu serius.
Lalu bagaimana kalau kita “PDKT” kepada Allah?
Tentu ini bukan PDKT dalam makna hubungan antarmanusia, tetapi sebuah gambaran tentang kesungguhan seorang hamba mendekat kepada Rabb-nya.
Kita mendekat melalui salat.
Kita mendekat melalui zikir.
Kita mendekat melalui doa.
Kita mendekat melalui membaca dan mengamalkan Al-Qur’an.
Kita mendekat dengan berbuat baik kepada sesama.
Kita mendekat dengan meninggalkan sesuatu yang Allah larang, meskipun hati kita masih menginginkannya.
Dan yang paling penting, kita mendekat dengan hati yang tulus karena Allah.
Ada kabar yang sangat menenangkan dalam sebuah hadis qudsi.
Allah berfirman:
“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”
(HR. Bukhari 7536).
Betapa luas rahmat Allah kepada hamba-Nya.
Kita baru melangkah sedikit, tetapi Allah membuka jalan yang jauh lebih luas.
Kita baru berusaha mendekat, tetapi Allah memberikan pertolongan dan rahmat-Nya.
Karena itu, jangan pernah merasa terlalu jauh untuk kembali kepada Allah.
Allah lebih layak dicintai
Kita bisa kagum kepada seseorang karena kecerdasannya.
Kita bisa jatuh hati kepada seseorang karena wajahnya.
Kita bisa menyukai seseorang karena kelembutannya, kepeduliannya, kesopanannya, atau kebaikan akhlaknya.
Namun, pernahkah kita berpikir lebih jauh?
Siapa yang memberikan kecerdasan itu?
Siapa yang menciptakan wajah yang kita kagumi?
Siapa yang menganugerahkan kelembutan, kebaikan, kesehatan, kemampuan dan segala kelebihan yang kita kagumi pada diri seseorang?
Jawabannya adalah Allah.
Maka sudah semestinya kekaguman kita kepada makhluk membawa kita semakin mengenal dan mencintai Sang Pencipta.
Jangan sampai kita sibuk mengejar cinta makhluk, tetapi lupa kepada Pemilik segala cinta.
Jangan sampai kita rela melakukan banyak hal agar manusia menyukai kita, sementara kita begitu sedikit berusaha agar hidup kita diridai Allah.
Saatnya mencuri perhatian Allah
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari perhatian manusia.
Kita ingin dilihat.
Kita ingin dipuji.
Kita ingin disukai.
Kita ingin dianggap penting.
Padahal ada satu perhatian yang jauh lebih berharga: perhatian Allah yang disertai rida dan kasih sayang-Nya.
Maka mulai hari ini, mari kita ubah cara kita “mencuri perhatian”.
Bukan lagi sekadar dengan penampilan untuk mendapatkan pujian manusia, tetapi dengan amal yang ikhlas untuk mendapatkan rida Allah.
Bukan sekadar memperbaiki wajah, tetapi juga memperbaiki hati.
Bukan sekadar memperindah penampilan, tetapi juga memperindah akhlak.
Bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi mengejar keberkahan.
Dan bukan hanya sibuk mencari siapa yang mencintai kita, tetapi belajar menjadi hamba yang mencintai Allah dengan sebenar-benarnya.
Saatnya kita tidak hanya mencuri perhatian makhluk Allah.
Saatnya kita berusaha mendekat kepada Allah, mencari rida-Nya, dan menghadirkan amal terbaik dalam kehidupan kita.
Sebab, ketika cinta kepada Allah tumbuh di dalam hati, cinta kepada dunia akan menemukan tempatnya—tidak menjadi tuan, tetapi sekadar menjadi sarana menuju-Nya.
Subhanallah.
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang senantiasa mendekat kepada-Nya, mencintai-Nya, dicintai-Nya, serta memperoleh rahmat dan rida-Nya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Dok. KN+ Jakfar Sidik

