Jaga Hati Dari Sifat Sombong

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN
Rubrik Dakwah Harian 6 | Minggu, 6 September 2026

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Pagi ini Allah kembali memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kita telah belajar tentang niat, tentang dunia yang jangan sampai menguasai hati, tentang ketenangan melalui mengingat Allah, dan tentang bahaya meremehkan dosa.

Hari ini kita belajar tentang penyakit hati yang sering tidak terasa ketika mulai tumbuh:

kesombongan.

Sombong tidak selalu terlihat dari cara seseorang berbicara.

Tidak selalu berupa pakaian mewah, kendaraan mahal, jabatan tinggi, atau harta yang banyak.

Kesombongan bisa bersembunyi dalam hati.

Merasa lebih baik daripada orang lain.

Sulit menerima nasihat.

Tidak mau mengakui kesalahan.

Meremehkan orang yang dianggap lebih rendah.

Senang ketika dipuji dan merasa terganggu ketika orang lain lebih unggul.

Bahkan terkadang seseorang tidak memiliki banyak harta, tetapi hatinya tetap bisa sombong.

Karena kesombongan bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.

Kesombongan adalah tentang bagaimana kita memandang diri sendiri dan orang lain.

Kesombongan Adalah Penyakit Hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”

Kemudian seorang sahabat bertanya tentang seseorang yang senang memakai pakaian dan sandal yang bagus.

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan, lalu beliau menerangkan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

HR. Muslim

Hadis ini penting karena menjelaskan bahwa memiliki sesuatu yang bagus bukanlah kesombongan.

Berpakaian rapi bukan kesombongan.

Memiliki harta bukan kesombongan.

Menjadi sukses bukan kesombongan.

Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu membuat seseorang merasa lebih tinggi dan merendahkan orang lain.

Kesombongan dimulai ketika hati menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

Merasa Lebih Baik Bisa Menjadi Awal Kesombongan

Kita mungkin tidak pernah berkata:

“Saya orang sombong.”

Tetapi coba periksa hati.

Apakah kita sulit menerima kritik?

Apakah kita merasa pendapat kita selalu paling benar?

Apakah kita sulit meminta maaf?

Apakah kita malu mengakui kesalahan?

Apakah kita merasa lebih baik karena lebih kaya?

Merasa lebih pintar?

Merasa lebih berpengalaman?

Merasa lebih saleh?

Merasa lebih sukses?

Jika pernah merasakan hal-hal tersebut, bukan berarti kita harus langsung memberi label kepada diri sendiri.

Tetapi itu menjadi tanda bahwa hati perlu diperiksa.

Karena kesombongan sering tumbuh secara perlahan dan masuk melalui celah yang tidak kita sadari.

Ilmu Pun Bisa Menjadi Sebab Kesombongan

Menuntut ilmu adalah kemuliaan.

Tetapi ilmu yang tidak disertai kerendahan hati bisa menjadi ujian.

Seseorang mengetahui lebih banyak lalu mulai meremehkan yang belum tahu.

Seseorang lebih rajin beribadah lalu mulai merasa dirinya lebih suci.

Seseorang lebih memahami agama lalu mudah menghakimi orang lain.

Padahal ilmu seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa pengetahuan kita masih terbatas.

Semakin banyak belajar, seharusnya semakin banyak berkata:

“Allah lebih mengetahui.”

Bukan semakin mudah merendahkan orang lain.

Ilmu yang benar seharusnya melahirkan ketundukan, bukan kesombongan.

Kesuksesan Juga Bisa Menguji Hati

Ada orang yang ketika susah sangat dekat dengan Allah.

Ia rajin berdoa.

Rajin bersujud.

Rajin memohon pertolongan.

Kemudian Allah memberinya kelapangan.

Rezekinya bertambah.

Usahanya berhasil.

Kariernya meningkat.

Hidupnya menjadi lebih nyaman.

Namun perlahan ia mulai lupa.

Shalat mulai ditunda.

Sedekah mulai terasa berat.

Nasihat mulai dianggap mengganggu.

Orang lain mulai dipandang rendah.

Di situlah kesuksesan berubah dari nikmat menjadi ujian.

Karena sebenarnya bukan kesuksesan yang membuat kita buruk.

Cara hati menerima kesuksesanlah yang menentukan.

Jika sukses membuat kita semakin bersyukur, itu nikmat.

Jika sukses membuat kita semakin sombong, itu peringatan.

Kisah tentang Gunung dan Tanah

Bayangkan sebuah gunung yang berdiri tinggi.

Ia terlihat menjulang di atas tanah.

Namun gunung tidak pernah mengatakan kepada tanah:

“Aku lebih tinggi darimu.”

Karena gunung ada karena Allah.

Begitu pula manusia.

Hari ini kita mungkin berada di atas.

Besok keadaan bisa berubah.

Hari ini kita memiliki jabatan.

Besok jabatan itu bisa berakhir.

Hari ini kita memiliki harta.

Besok harta bisa berkurang.

Hari ini kita sehat.

Besok kesehatan bisa berubah.

Hari ini kita merasa lebih kuat.

Besok kita mungkin membutuhkan bantuan orang yang sebelumnya kita remehkan.

Tidak ada alasan bagi manusia untuk menyombongkan sesuatu yang seluruhnya merupakan titipan Allah.

Kita Tidak Tahu Siapa yang Lebih Mulia

Manusia sering menilai orang dari apa yang terlihat.

Pekerjaannya.

Pendidikannya.

Rumahnya.

Kendaraannya.

Pakaiannya.

Status sosialnya.

Jumlah hartanya.

Popularitasnya.

Padahal kita tidak mengetahui isi hati seseorang.

Kita tidak tahu amal rahasianya.

Kita tidak tahu doanya.

Kita tidak tahu air mata yang ia keluarkan ketika sendirian.

Kita tidak tahu perjuangannya melawan dosa.

Bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru lebih mulia di sisi Allah.

Karena itu, jangan mudah merasa lebih baik.

Kita mengetahui penampilan orang lain, tetapi Allah mengetahui hati mereka.

Rendah Hati Bukan Berarti Merendahkan Diri

Tawaduk bukan berarti membenci diri sendiri.

Bukan berarti tidak boleh percaya diri.

Bukan berarti harus menganggap diri tidak memiliki kemampuan.

Kita boleh mengetahui kelebihan diri.

Kita boleh bangga atas pencapaian yang diraih.

Kita boleh bekerja keras untuk menjadi lebih baik.

Tetapi tetap ingat:

Semua kemampuan berasal dari Allah.

Jika kita pintar, bersyukur.

Jika kita berhasil, bersyukur.

Jika kita kaya, bersyukur.

Jika kita memiliki jabatan, bersyukur.

Jika kita memiliki ilmu, bersyukur.

Dan gunakan semua itu untuk memberi manfaat.

Bukan untuk merendahkan orang lain.

Semakin banyak nikmat, seharusnya semakin banyak rasa syukur.

Renungan Subuh

Setelah salat Subuh, periksa hati kita dengan jujur.

Tanyakan:

Apakah saya sulit menerima kritik?

Apakah saya sulit meminta maaf ketika salah?

Apakah saya merasa pendapat saya selalu paling benar?

Apakah saya pernah meremehkan seseorang karena pekerjaan, pendidikan, harta, atau statusnya?

Apakah saya merasa lebih baik karena ibadah saya?

Apakah kesuksesan membuat saya semakin dekat kepada Allah atau semakin lupa kepada-Nya?

Dan tanyakan:

Jika semua kelebihan yang saya miliki hari ini diambil Allah, apa yang tersisa dari kesombongan saya?

Pertanyaan itu mengingatkan kita bahwa tidak ada satu pun kelebihan yang benar-benar milik kita.

Semuanya amanah.

Baca Juga:

Semoga Hari Ini Menjadi Amal Terbaik Kita

 

Aksi Hari Ini

Hari ini lakukan satu latihan sederhana:

Terima nasihat tanpa langsung membela diri.

Jika seseorang menunjukkan kesalahan kita, dengarkan.

Tidak semua kritik benar.

Tetapi tidak semua kritik harus ditolak.

Ambil yang benar.

Perbaiki yang salah.

Dan jika kita memang melakukan kesalahan, katakan:

“Saya salah. Maafkan saya.”

Kalimat sederhana itu tidak membuat kita rendah.

Justru bisa menjadi tanda bahwa hati masih memiliki kerendahan.

Hari ini juga, lakukan satu kebaikan kepada seseorang yang mungkin selama ini jarang kita perhatikan.

Hormati pekerja.

Hargai orang yang membantu kita.

Sapa orang yang sering tidak diperhatikan.

Dan jangan menilai seseorang hanya dari keadaan lahiriahnya.

Karena kemuliaan manusia bukan ditentukan oleh penampilan duniawinya.

Ingat dari Mana Kita Berasal

Ketika kesombongan mulai tumbuh, ingat asal kita.

Kita pernah tidak ada.

Kemudian Allah menciptakan kita.

Kita lahir tanpa membawa harta.

Tidak membawa jabatan.

Tidak membawa gelar.

Tidak membawa popularitas.

Bahkan untuk berdiri dan berjalan saja kita membutuhkan pertolongan.

Kemudian Allah memberikan kesehatan.

Ilmu.

Keluarga.

Rezeki.

Kesempatan.

Kemampuan.

Semua itu adalah pemberian.

Lalu bagaimana mungkin kita menyombongkan sesuatu yang sejak awal bukan milik kita?

Apa yang kita miliki hari ini adalah titipan yang suatu saat akan diminta kembali.

Jangan Sampai Ibadah Melahirkan Kesombongan

Ini salah satu ujian yang paling halus.

Seseorang rajin beribadah.

Rajin membaca Al-Qur’an.

Rajin bersedekah.

Rajin menghadiri majelis ilmu.

Kemudian tanpa sadar ia mulai melihat orang lain sebagai orang yang kurang baik.

Hatinya berkata:

“Saya lebih rajin daripada dia.”

“Saya lebih tahu daripada mereka.”

“Saya lebih dekat kepada Allah.”

Jika sampai seperti itu, kita perlu berhenti.

Karena tujuan ibadah adalah membuat kita semakin tunduk kepada Allah.

Bukan membuat kita merasa lebih tinggi daripada manusia.

Semakin dekat kepada Allah seharusnya semakin rendah hati kepada sesama.

Penutup

Kesombongan tidak selalu berteriak.

Kadang ia hanya berbisik di dalam hati:

“Kamu lebih baik.”

“Kamu lebih pintar.”

“Kamu lebih kaya.”

“Kamu lebih saleh.”

“Kamu lebih pantas.”

Dan jika bisikan itu terus dipelihara, hati bisa perlahan berubah.

Karena itu, jangan tunggu orang lain menyebut kita sombong untuk mulai memperbaiki diri.

Periksa hati sendiri.

Jika memiliki kelebihan, bersyukur.

Jika memiliki kekurangan, belajar.

Jika dikritik, dengarkan.

Jika salah, minta maaf.

Jika berhasil, jangan lupa kepada Allah.

Jika melihat orang lain lebih rendah secara duniawi, jangan merendahkan.

Karena kita tidak tahu siapa yang lebih mulia di sisi Allah.

Bisa jadi orang yang kita pandang sebelah mata justru memiliki hati yang jauh lebih bersih.

Dan bisa jadi sesuatu yang membuat kita bangga hari ini justru menjadi ujian bagi kita.

Maka jagalah hati.

Jangan biarkan keberhasilan melahirkan kesombongan.

Jangan biarkan ilmu melahirkan penghinaan.

Jangan biarkan ibadah melahirkan perasaan lebih suci.

Dan jangan biarkan nikmat membuat kita lupa kepada Sang Pemberi nikmat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang kuat tetapi rendah hati.

Berilmu tetapi tidak merasa paling tahu.

Berhasil tetapi tidak merendahkan.

Berharta tetapi tetap berbagi.

Beribadah tetapi tidak merasa paling suci.

Karena pada akhirnya, yang membuat manusia mulia bukan apa yang ia pamerkan kepada dunia.

Tetapi ketakwaannya di hadapan Allah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ وَالرِّيَاءِ، وَارْزُقْنَا التَّوَاضُعَ وَالْإِخْلَاصَ

“Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan, rasa ujub, dan riya. Karuniakan kepada kami kerendahan hati dan keikhlasan.”

Ya Allah, jangan biarkan nikmat yang Engkau berikan membuat kami sombong.

Jangan biarkan ilmu membuat kami merendahkan orang lain.

Jangan biarkan harta membuat kami lupa kepada-Mu.

Jangan biarkan jabatan membuat kami merasa lebih tinggi.

Jangan biarkan ibadah membuat kami merasa lebih suci.

Jika kami memiliki kelebihan, ajarkan kami bersyukur.

Jika kami memiliki kekurangan, ajarkan kami bersabar.

Jika kami salah, berikan kami keberanian untuk mengakuinya.

Jika kami dinasihati, bukakan hati kami untuk menerimanya.

Jadikan kami hamba yang rendah hati tanpa kehilangan keberanian untuk berbuat benar.

Jauhkan hati kami dari kesombongan yang tersembunyi.

Dan jadikan seluruh nikmat yang Engkau berikan sebagai jalan untuk semakin dekat kepada-Mu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.Dok. KN+ Zea Safitri

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *