
jangan tukar waktu shalat dengan pekerjaan: gaji bisa dicari, waktu shalat tak akan kembali
khutbah pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya takwa: menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin terdengar biasa, tetapi sesungguhnya sangat dalam:
Ketika adzan berkumandang dan kita sedang sibuk bekerja, mana yang kita dahulukan: pekerjaan atau panggilan Allah?
Kita hidup di zaman ketika waktu terasa begitu cepat berlalu.
Pagi berangkat bekerja. Siang mengejar target. Sore menyelesaikan pekerjaan. Malam masih memikirkan kebutuhan keluarga.
Kita rela lembur.
Kita rela mengurangi waktu tidur.
Kita rela menunda makan.
Bahkan kita rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Dan itu bukan sesuatu yang tercela.
Mencari nafkah yang halal adalah pekerjaan mulia. Menafkahi keluarga adalah tanggung jawab. Bekerja dengan jujur juga merupakan bagian dari ibadah.
Tetapi ada satu hal yang jangan sampai terlupakan:
Jangan sampai pekerjaan yang kita niatkan sebagai ibadah justru membuat kita meninggalkan kewajiban kepada Allah.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ada sebuah kalimat yang sering kita temukan di media sosial:
“Jangan meninggalkan shalat karena bekerja. Gajimu tidak akan mampu membayar satu rakaat shalat yang kamu tinggalkan.”
Kalimat ini bukan sekadar kata-kata.
Ia adalah tamparan lembut bagi hati kita.
Sebab terkadang kita begitu takut kehilangan pekerjaan, tetapi tidak takut kehilangan waktu shalat.
Kita takut terlambat masuk kantor.
Kita takut dimarahi atasan.
Kita takut kehilangan proyek.
Kita takut target tidak tercapai.
Tetapi apakah kita juga takut ketika waktu shalat berlalu?
Ketika adzan Dzuhur berkumandang, kita berkata:
“Sebentar lagi, setelah rapat.”
Ketika Ashar tiba:
“Nanti setelah pekerjaan ini selesai.”
Ketika Maghrib masuk:
“Sebentar, masih di perjalanan.”
Akhirnya waktu berlalu.
Dan kita baru tersadar ketika kesempatan itu sudah pergi.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Mari kita renungkan.
Gaji adalah sesuatu yang kita terima dari pekerjaan.
Gaji bisa digunakan untuk membeli makanan.
Gaji bisa membayar rumah.
Gaji bisa menyekolahkan anak.
Gaji bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
Tetapi gaji tidak pernah bisa membeli kembali waktu yang telah berlalu.
Kalau satu jam kerja hilang, mungkin besok masih bisa diganti.
Kalau satu proyek gagal, mungkin masih ada proyek berikutnya.
Kalau satu kesempatan bisnis hilang, mungkin Allah memberikan kesempatan lain.
Tetapi ketika waktu berlalu, ia tidak akan pernah kembali.
Begitu pula waktu shalat.
Ia datang pada waktunya dan pergi pada waktunya.
Karena itu, jangan menempatkan shalat sebagai kegiatan yang dikerjakan hanya ketika pekerjaan sudah selesai.
Sebaliknya, mari kita jadikan waktu shalat sebagai bagian utama dalam kehidupan kita.
Allah SWT berfirman:
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
“Celakalah orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.”
(QS. Al-Ma’un: 4–5)
Ayat ini menjadi peringatan keras agar jangan sampai kita lalai terhadap shalat.
Bukan hanya persoalan mengerjakan atau tidak mengerjakan, tetapi juga bagaimana kita menempatkan shalat dalam kehidupan.
Jangan sampai dunia membuat kita lupa kepada akhirat.
Jangan sampai pekerjaan membuat kita lupa kepada Allah.
Jangan sampai kita sibuk mencari rezeki, tetapi lupa kepada Zat Yang Maha Memberi Rezeki.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Rasulullah SAW bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka sungguh ia telah kafir.”
(HR. Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan betapa berat kedudukan shalat dalam kehidupan seorang Muslim.
Karena itu, jangan pernah meremehkan shalat.
Jangan menganggap shalat sebagai penghalang pekerjaan.
Jangan menganggap adzan sebagai gangguan terhadap aktivitas.
Justru ketika adzan berkumandang, itulah panggilan yang paling mulia.
Panggilan dari Allah.
Panggilan untuk berhenti sejenak dari urusan dunia.
Panggilan untuk menghadap-Nya.
Panggilan untuk mengingat bahwa kita bukan hanya manusia yang bekerja, tetapi juga hamba yang akan kembali kepada Allah.
Saudaraku kaum Muslimin, khususnya para pencari nafkah,
Kita memang harus bekerja.
Kita harus memenuhi kebutuhan keluarga.
Kita harus berusaha mencari rezeki yang halal.
Tetapi jangan pernah berpikir bahwa rezeki hanya datang karena pekerjaan kita.
Pekerjaan hanyalah jalan.
Allah-lah pemberi rezeki.
Karena itu, jangan mengejar rezeki dengan cara meninggalkan kewajiban kepada Sang Pemberi Rezeki.
Aturlah pekerjaan agar tidak mengorbankan shalat.
Jika sedang bekerja, carilah tempat untuk shalat.
Jika sedang bepergian, persiapkan waktu dan tempatnya.
Jika sedang rapat, komunikasikan waktu istirahat untuk menunaikan shalat.
Jika menjadi pemimpin, berikan ruang kepada karyawan untuk menjalankan ibadah.
Dan jika menjadi pekerja, jangan jadikan kesibukan sebagai alasan untuk melupakan Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita balik cara pandang kita.
Jangan menjadikan shalat sebagai sela-sela pekerjaan. Jadikan pekerjaan sebagai bagian dari kehidupan yang disusun di sekitar kewajiban kepada Allah.
Sebab kita tidak tahu berapa lama lagi umur kita.
Kita tidak tahu apakah masih akan bertemu dengan adzan berikutnya.
Kita tidak tahu apakah masih akan mendapatkan kesempatan untuk bersujud sekali lagi.
Maka, selama Allah masih memberikan umur, selama napas masih berhembus, selama kesempatan masih terbuka—
jangan tinggalkan shalat.
Karena pekerjaan bisa digantikan.
Jabatan bisa digantikan.
Target bisa dikejar kembali.
Uang bisa dicari lagi.
Tetapi waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa menjaga shalat, diberikan rezeki yang halal dan berkah, dimudahkan dalam pekerjaan, serta diberikan kekuatan untuk tetap taat kepada-Nya dalam keadaan apa pun.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

