bukan sekadar bahagia, Aristoteles mengajarkan hidup harus punya arah dan tujuan

 

KABAR NEGERI PLUS (KN+) – Apa yang membuat hidup seseorang benar-benar bermakna? Apakah tujuan yang berhasil dicapai, atau justru perjuangan panjang yang dilalui untuk mencapainya?


Pertanyaan tersebut menjadi menarik ketika dikaitkan dengan pemikiran filsuf Yunani kuno, Aristoteles. Baginya, kehidupan yang baik bukan sekadar keadaan ketika seseorang menikmati kesenangan, melainkan kehidupan yang memiliki arah dan dijalani dengan menggunakan kemampuan manusia secara baik.


Manusia membutuhkan tujuan agar kehidupannya tidak hanya berjalan mengikuti keadaan. Tujuan memberikan alasan mengapa seseorang mau berusaha, belajar, menghadapi kegagalan, memperbaiki diri, dan tetap bertahan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.


Tanpa tujuan, seseorang mungkin saja menjalani banyak aktivitas setiap hari. Namun, kesibukan belum tentu membuat hidup menjadi bermakna. Banyaknya aktivitas tidak selalu menunjukkan adanya arah.
tujuan memberi arah pada kehidupan


Tujuan membuat seseorang memiliki alasan untuk bergerak. Ia menjadi semacam kompas yang membantu menentukan ke mana kehidupan hendak dibawa.
Seseorang yang memiliki tujuan akan lebih mudah memahami mengapa ia harus belajar, bekerja keras, mengembangkan kemampuan, bahkan menghadapi berbagai kegagalan.


Kegagalan pun tidak selalu menjadi tanda bahwa perjalanan harus berhenti. Dalam konteks perjuangan menuju tujuan, kegagalan dapat menjadi pengalaman yang memberikan pelajaran dan membantu seseorang memahami apa yang perlu diperbaiki.
Karena itu, perjuangan memperoleh makna ketika terdapat sesuatu yang dianggap bernilai untuk dicapai.


Aristoteles dan konsep eudaimonia
Dalam filsafat Aristoteles, kehidupan yang baik berkaitan dengan konsep eudaimonia. Istilah ini sering diterjemahkan sebagai kebahagiaan, tetapi maknanya lebih luas daripada sekadar perasaan senang.


Eudaimonia lebih dekat dengan gagasan tentang kehidupan yang berkembang, baik, dan dijalani secara utuh melalui tindakan yang sesuai dengan kebajikan serta kemampuan manusia.


Dengan demikian, kebahagiaan menurut perspektif ini bukan hanya tentang mendapatkan apa yang menyenangkan, melainkan tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupannya secara baik.


Seseorang dapat memiliki banyak kesenangan, tetapi belum tentu memiliki kehidupan yang bermakna. Sebaliknya, seseorang yang menghadapi kesulitan dan terus berusaha mengembangkan dirinya dapat menjalani kehidupan yang lebih bernilai.
perjuangan menjadi ruang untuk mengenal diri
Ada hal lain yang tidak kalah penting: perjuangan sering kali menjadi tempat seseorang mengenal dirinya sendiri.


Kita mungkin tidak mengetahui seberapa besar ketekunan yang kita miliki sebelum menghadapi sesuatu yang sulit. Kita mungkin tidak mengetahui keberanian kita sebelum berada dalam keadaan yang menuntut keberanian.


Begitu pula dengan kelemahan dan batas kemampuan. Semua itu sering kali baru terlihat ketika seseorang berada dalam proses menghadapi tantangan.
Artinya, tujuan bukan hanya sesuatu yang berada di ujung perjalanan. Tujuan juga menjadi bagian dari proses pembentukan diri.


Dalam perjalanan menuju sesuatu yang dianggap bernilai, seseorang dapat belajar tentang kesabaran, tanggung jawab, keberanian, disiplin, kegagalan, dan kemampuan untuk bangkit kembali.
tujuan dan perjuangan tidak dapat dipisahkan
Jika tujuan adalah arah, maka perjuangan adalah perjalanan.


Tujuan membuat seseorang mengetahui ke mana ia hendak pergi. Sementara perjuangan membentuk siapa dirinya selama perjalanan tersebut.
Karena itu, kebermaknaan hidup mungkin tidak sepenuhnya terletak pada keberhasilan mencapai tujuan. Ada nilai yang tumbuh selama seseorang berusaha mencapainya.


Pada akhirnya, seseorang mungkin tidak mendapatkan seluruh hal yang diinginkannya. Namun, pengalaman selama berjuang dapat membuat dirinya menjadi lebih kuat, matang, dan memahami kehidupan dengan cara yang berbeda.


Di sinilah pemikiran Aristoteles menjadi relevan untuk direnungkan dalam kehidupan modern. Hidup bukan hanya tentang seberapa banyak kesenangan yang dapat dikumpulkan, tetapi juga tentang apakah kehidupan tersebut memiliki arah, kebajikan, dan tindakan nyata.


Mungkin, hidup yang bermakna bukan hanya tentang sampai di tempat yang kita tuju, tetapi tentang menjadi manusia seperti apa kita ketika menempuh perjalanan menuju ke sana.
Lalu, menurut Anda, hidup lebih bermakna karena tujuan yang ingin dicapai atau karena perjuangan selama mencapainya?


(Dok. KN+ by Jakfar Sidik)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *