Jangan Biarkan Hati Dipenuhi Iri dan Dengki

 

Kabar Negeri Plus | SUBUH MENGUATKAN IMAN

(Rubrik Dakwah Harian – Hari 15 | Minggu III Agustus 2026)

 

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Ada penyakit yang tidak terlihat oleh mata, tetapi mampu menghancurkan amal, merusak persaudaraan, dan membuat hati kehilangan ketenangan.

Namanya iri dan dengki.

Kita melihat orang lain mendapatkan rezeki, lalu hati merasa tidak nyaman.

Melihat orang lain berhasil, kita merasa tersaingi.

Melihat saudaranya bahagia, justru muncul keinginan agar kebahagiaan itu hilang.

Inilah penyakit hati yang sering tidak disadari.

Padahal rezeki seseorang bukanlah ancaman bagi rezeki kita.

Keberhasilan orang lain bukan berarti Allah sedang mengurangi bagian kita.

Dan kebahagiaan saudara kita bukan alasan bagi kita untuk bersedih.

Allah memiliki pembagian rezeki yang berbeda untuk setiap hamba.

Ada yang diberi harta.

Ada yang diberi ilmu.

Ada yang diberi kesehatan.

Ada yang diberi keluarga yang baik.

Ada yang diberi ketenangan.

Ada yang diuji dengan kekurangan, tetapi justru memiliki kedekatan yang luar biasa dengan Allah.

Karena itu, jangan biarkan hati kita sibuk menghitung nikmat orang lain hingga lupa mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Dalil

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”

(QS An-Nisa [4]: 32)

Allah juga mengajarkan kita untuk berlindung dari kejahatan orang yang memiliki sifat dengki:

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”

(QS Al-Falaq [113]: 5)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Janganlah kalian saling dengki, saling membenci, saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Inti Pesan

Iri membuat kita melihat kehidupan dari sisi kekurangan.

Padahal boleh jadi kita memiliki sesuatu yang sangat diinginkan oleh orang lain.

Kita hanya terlalu sibuk melihat ke atas.

Terlalu sibuk membandingkan.

Terlalu sibuk menghitung nikmat orang lain.

Hingga lupa bahwa Allah telah memberikan begitu banyak nikmat kepada kita.

Karena itu, Islam mengajarkan qanaah dan syukur.

Jika melihat seseorang memperoleh nikmat, jangan berkata dalam hati:

“Mengapa dia mendapatkan itu, bukan aku?”

Ubahlah menjadi:

“Semoga Allah memberkahinya, dan semoga Allah juga memberikan kepadaku rezeki yang terbaik menurut-Nya.”

Itulah cara mengubah iri menjadi doa.

Mengubah persaingan menjadi motivasi.

Dan mengubah kegelisahan menjadi ketenangan.

Kisah Teladan Para Nabi

Lihatlah kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalām.

Beliau justru menjadi korban kedengkian saudara-saudaranya sendiri.

Mereka melihat Yusuf mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari ayah mereka, Nabi Ya’qub ‘alaihissalām.

Rasa iri itu kemudian berubah menjadi kebencian.

Mereka merencanakan sesuatu yang sangat kejam.

Yusuf dibuang ke dalam sumur.

Kemudian dijual sebagai budak.

Bertahun-tahun beliau menjalani kehidupan penuh ujian.

Namun Allah tidak menyia-nyiakannya.

Dari sumur menuju istana.

Dari seorang yang tidak dikenal menjadi seorang yang memiliki kedudukan tinggi di Mesir.

Dan ketika akhirnya saudara-saudaranya datang dalam keadaan membutuhkan pertolongan, Nabi Yusuf tidak membalas kedengkian mereka dengan dendam.

Beliau berkata:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

“Tidak ada cercaan terhadap kamu pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kamu.”

(QS Yusuf [12]: 92)

Lihatlah betapa tinggi akhlak Nabi Yusuf.

Beliau pernah dizalimi karena kedengkian.

Namun ketika Allah mengangkat derajatnya, beliau tidak menjadi pendendam.

Beliau memilih memaafkan.

Kisah ini mengajarkan bahwa kedengkian orang lain tidak boleh membuat hati kita berubah menjadi penuh kebencian.

Biarkan Allah yang mengatur pembalasan.

Tugas kita adalah menjaga hati.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Jangan merasa sakit ketika melihat saudaramu mendapatkan nikmat.

Justru doakan keberkahannya.

Jika teman mendapatkan pekerjaan yang baik, ucapkan:

“Semoga Allah memberkahinya.”

Jika saudara mendapatkan rezeki, ikutlah bersyukur.

Jika seseorang berhasil mencapai cita-citanya, jadikan keberhasilannya sebagai inspirasi.

Karena hidup bukan perlombaan untuk mengalahkan semua orang.

Hidup adalah perjalanan untuk menjadi lebih baik di hadapan Allah.

Dan setiap manusia memiliki waktunya masing-masing.

Kunci

Apa yang Allah berikan kepada orang lain tidak pernah mengurangi apa yang telah Allah siapkan untuk kita.

Baca Juga:

Iri dan Dengki: Penyakit Hati yang Menghancurkan Tanpa Disadari

 

Aksi Hari Ini

Doakan orang yang selama ini membuat kita iri.

Sebut namanya dalam doa dan mintalah Allah memberikan keberkahan kepadanya.

Berhenti membandingkan kehidupan.

Kita tidak pernah tahu seluruh ujian yang sedang dihadapi orang lain.

Catat tiga nikmat Allah yang kita miliki.

Lalu ucapkan Alhamdulillāh dengan sungguh-sungguh.

Belajar ikut bahagia atas keberhasilan orang lain.

Ini latihan untuk membersihkan hati dari dengki.

Muhasabah sebelum tidur.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apakah hari ini aku lebih banyak bersyukur atas nikmat Allah, atau lebih banyak membandingkan diriku dengan orang lain?”

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Jangan biarkan hati kita menjadi rumah bagi iri dan dengki.

Hati yang dipenuhi dengki akan sulit merasakan kebahagiaan.

Sebab setiap kali melihat orang lain memperoleh nikmat, ia merasa tersiksa.

Padahal nikmat itu bukan miliknya.

Dan kesedihan itu tidak akan mengurangi nikmat orang lain.

Sebaliknya, orang yang bersyukur akan menemukan ketenangan bahkan dalam keadaan sederhana.

Belajarlah dari Nabi Yusuf ‘alaihissalām.

Beliau pernah menjadi korban kedengkian, tetapi tidak membalasnya dengan kedengkian.

Ketika Allah memberinya kedudukan, beliau memilih memaafkan.

Itulah hati yang besar.

Hati yang tidak dikotori dendam.

Hati yang percaya kepada keadilan Allah.

Semoga Allah membersihkan hati kita dari iri, dengki, sombong, dan kebencian.

Semoga Allah mengajarkan kita untuk bersyukur atas nikmat sendiri dan ikut berbahagia atas nikmat orang lain.

Dan semoga Allah menjadikan hati kita hati yang bersih ketika kelak menghadap-Nya.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *