3 RAMADAN 1447 H: MENJAGA LISAN DAN AKHLAK DALAM PUASA

BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM.
ALLOOHUMMA SHOLLI ‘ALAA ASYROFI KHOLQIKA MUHAMMADIN… AMMAA BA’DU.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga rahmat, keberkahan, dan perlindungan Allah SWT senantiasa tercurah kepada kita semua.

Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+), semoga Ramadan yang kita jalani hari ini semakin menguatkan iman, memperhalus akhlak, dan mempertegas komitmen kita dalam menjaga diri dari segala bentuk keburukan.

Puasa bukan hanya ibadah fisik, tetapi ibadah akhlak.
Hari ketiga Ramadan mengingatkan bahwa kualitas puasa sangat ditentukan oleh bagaimana kita menjaga lisan dan perilaku.

Banyak orang mampu menahan lapar, tetapi gagal menjaga ucapan.
Di sinilah nilai puasa benar-benar diuji.

Landasan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

Artinya:
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap ucapan memiliki konsekuensi. Ramadan adalah momentum memperketat kontrol diri, terutama pada lisan.

BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026
BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026

Pendalaman Makna

Lisan adalah anggota tubuh kecil, tetapi dampaknya besar.
Dengan lisan, seseorang bisa memperoleh pahala. Dengan lisan pula, ia bisa terjerumus pada dosa yang berat.

Puasa mendidik kita untuk lebih disiplin dalam berbicara dan lebih bertanggung jawab dalam menyampaikan sesuatu.

1. Menghindari ghibah dan fitnah
Menggunjing, menyebar kabar tanpa verifikasi, atau mempermalukan orang lain adalah penyakit sosial yang sering dianggap ringan. Padahal dampaknya merusak ukhuwah dan melukai kehormatan sesama.

2. Menahan amarah
Ketika emosi muncul, puasa mengajarkan untuk meredam, bukan melampiaskan. Orang berpuasa tidak reaktif; ia terukur dan dewasa dalam menyikapi keadaan.

3. Membiasakan ucapan yang baik
Dzikir, doa, tilawah, serta kalimat yang menenangkan orang lain adalah bentuk nyata ibadah lisan. Kata-kata yang baik dapat menjadi sedekah yang tidak terlihat, tetapi bernilai besar di sisi Allah SWT.

4. Menjaga etika komunikasi, termasuk di ruang digital
Media sosial bukan ruang bebas nilai. Taqwa tetap berlaku di sana. Status, komentar, dan unggahan tetap berada dalam pengawasan Allah SWT.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Artinya, esensi puasa ada pada pengendalian diri secara menyeluruh.

Refleksi

Hari ini, ukur kualitas puasa bukan hanya dari seberapa lama menahan lapar dan haus, tetapi dari:

  • Seberapa sedikit kita menyakiti orang dengan ucapan.
  • Seberapa sering kita memilih diam daripada memperkeruh suasana.
  • Seberapa banyak lisan kita digunakan untuk kebaikan.

Jika lisan terjaga, hati akan ikut bersih.
Jika hati bersih, akhlak akan semakin kuat.

Pesan Hari Ini

Puasa sejati adalah puasa yang juga dilakukan oleh lisan dan akhlak.

Penutup

Hari ketiga Ramadan menegaskan bahwa kualitas iman terlihat dari cara berbicara dan bersikap.
Menahan lapar adalah latihan fisik.
Menahan diri dari menyakiti orang lain adalah kedewasaan spiritual.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *