Manusia: Ujian terberat dalam menegakkan kebenaran.

الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Allah SWT berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya:


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang besar.”


Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,


Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.
Sebab, kehidupan ini pada hakikatnya adalah perjalanan menuju sebuah pertanggungjawaban.


Setiap perkataan akan dipertanggungjawabkan.
Setiap perbuatan akan diperhitungkan.
Dan setiap keputusan yang kita ambil, sekecil apa pun, tidak luput dari pengetahuan Allah SWT.


Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,


Ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan:
Mengapa mengatakan yang benar terkadang terasa begitu berat?
Mengapa seseorang yang mengetahui kebenaran justru memilih diam?
Mengapa kejujuran terkadang dikalahkan oleh kepentingan?


Mengapa seseorang yang awalnya berani membela kebenaran, akhirnya mundur ketika menghadapi tekanan?
Jawabannya sederhana, tetapi sangat dalam:
Karena ujian terbesar dalam menegakkan kebenaran sering kali bukan orang lain. Ujian terbesar itu adalah diri kita sendiri.
Musuh paling berat bukan selalu berada di luar diri.
Kadang ia bersembunyi di dalam hati:


takut, ego, hawa nafsu, ambisi, kepentingan pribadi, rasa ingin dipuji, dan keinginan untuk tetap nyaman.
Allah SWT berfirman dalam Surah Asy-Syams ayat 7–10:


وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ۝ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ۝ قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya:


“Demi jiwa serta penyempurnaannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”


Ayat ini mengingatkan kita bahwa manusia memiliki potensi untuk memilih jalan kebaikan maupun keburukan.
Karena itu, menegakkan kebenaran bukan hanya persoalan keberanian menghadapi orang lain.


Lebih dari itu, ia adalah perjuangan untuk menaklukkan diri sendiri.


jamaah jumat rahimakumullah,


Ada beberapa ujian yang sering membuat manusia goyah ketika hendak menegakkan kebenaran.


Pertama: ujian ketakutan.
Banyak orang mengetahui mana yang benar, tetapi tidak semua berani menyuarakannya.


Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan teman.
Takut dikucilkan.
Takut mendapat tekanan.


Bahkan terkadang takut kehilangan keuntungan duniawi.
Padahal, seorang Muslim harus menyadari bahwa tidak ada satu pun manusia yang mampu memberikan manfaat atau mudarat kecuali atas izin Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:


أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ


“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan perkataan yang adil di hadapan penguasa yang zalim.”


Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan beberapa jalur dan redaksi.
Pesannya jelas: kebenaran membutuhkan keberanian.
Namun keberanian dalam Islam bukan berarti berbicara kasar, menghina, atau bertindak tanpa kendali.
Keberanian adalah menyampaikan kebenaran dengan ilmu, adab, kejujuran, dan tanggung jawab.


Kedua: ujian kepentingan pribadi.
Inilah ujian yang sering tidak terlihat.
Ketika kejujuran membuat kita kehilangan keuntungan, apakah kita tetap jujur?
Ketika membela yang benar membuat kita tidak populer, apakah kita tetap bertahan?
Ketika mengatakan fakta membuat kita kehilangan kesempatan, apakah kita masih memilih kejujuran?


Di sinilah iman diuji.
Sebab, kebenaran tidak selalu menghadirkan keuntungan duniawi.
Tetapi seorang mukmin percaya bahwa keuntungan terbesar adalah keridaan Allah SWT.


Jangan sampai kita hanya mengatakan benar ketika kebenaran itu menguntungkan kita.
Dan jangan hanya menyebut sesuatu salah ketika kesalahan itu dilakukan oleh orang lain.


Keadilan menuntut kita untuk berani bersikap jujur, bahkan ketika kejujuran itu mengoreksi diri kita sendiri.


Ketiga: ujian istiqamah.
Menegakkan kebenaran bukan pekerjaan satu hari.
Ia membutuhkan kesabaran.
Kadang kita berbicara benar, tetapi tidak langsung didengar.


Kadang kita berbuat baik, tetapi justru dicurigai.
Kadang kita menjaga kejujuran, tetapi dianggap bodoh.
Kadang kita memilih diam dari perdebatan yang tidak bermanfaat, tetapi justru dianggap lemah.


Di sinilah istiqamah diperlukan.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 186:


لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا ۚ وَإِن تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Artinya:


“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik banyak gangguan yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”


Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,


Lalu bagaimana agar kita mampu melewati ujian tersebut?
Pertama, kuatkan ilmu.
Jangan berbicara tentang kebenaran tanpa mengetahui ilmunya.
Jangan menuduh tanpa bukti.


Jangan menyebarkan berita tanpa tabayyun.
Jangan menjadikan emosi sebagai ukuran kebenaran.
Kebenaran membutuhkan ilmu, dan ilmu harus melahirkan kehati-hatian.
Kedua, lakukan muhasabah.


Sebelum sibuk memperbaiki orang lain, mari bertanya kepada diri sendiri:
Apakah saya sudah jujur?
Apakah saya sudah adil?
Apakah ucapan saya sudah benar?


Apakah saya menegakkan kebenaran karena Allah atau karena ingin dipuji?
Jangan sampai kita lantang menuntut keadilan, tetapi diam ketika ketidakadilan menguntungkan diri sendiri.


Ketiga, jagalah lisan dan tulisan.
Di zaman ketika satu ucapan dapat menyebar dalam hitungan detik, tanggung jawab manusia menjadi semakin besar.
Apa yang kita tulis adalah bagian dari amal.
Apa yang kita sebarkan adalah bagian dari tanggung jawab.


Karena itu, jangan biarkan jari-jari kita menjadi jalan tersebarnya fitnah, kebohongan, penghinaan, dan kebencian.


Keempat, bertawakal kepada Allah.
Tugas kita adalah berusaha menegakkan kebenaran dengan cara yang benar.
Adapun hasil akhirnya, kita serahkan kepada Allah SWT.
Jangan ukur kebenaran dari banyaknya orang yang mendukung.
Jangan ukur kebenaran dari banyaknya orang yang menyukai.


Dan jangan meninggalkan kebenaran hanya karena sedikit orang yang membelanya.
Sebab, ukuran kebenaran bukanlah jumlah manusia.
Ukuran kebenaran adalah apa yang diridai Allah SWT.


jamaah jumat rahimakumullah,


Pada akhirnya, setiap manusia akan berdiri sendiri di hadapan Allah SWT.
Pada saat itu, jabatan tidak akan menjadi pelindung.
Harta tidak akan menjadi pembela.
Popularitas tidak akan menyelamatkan.


Jumlah pengikut tidak akan menentukan keselamatan.
Yang akan menemani kita adalah iman dan amal.
Karena itu, sebelum menuntut dunia berlaku benar kepada kita, mari bertanya:
Sudahkah kita berlaku benar kepada diri sendiri?
Sebelum menuntut orang lain jujur, sudahkah kita jujur?
Sebelum menuntut orang lain adil, sudahkah kita adil?


Sebelum menuntut orang lain memperbaiki diri, sudahkah kita memperbaiki diri?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Jangan takut kehilangan sesuatu karena mempertahankan kebenaran.
Takutlah jika kita mendapatkan sesuatu dengan meninggalkan kebenaran.
Jangan takut tidak dipuji manusia karena berlaku jujur.


Takutlah jika kita dipuji manusia, tetapi kehilangan keridaan Allah.
Mari kita jadikan ketakwaan sebagai kompas, ilmu sebagai pedoman, kejujuran sebagai prinsip, kesabaran sebagai kekuatan, dan tawakal sebagai sandaran.
Semoga Allah menjadikan kita manusia yang berani mengatakan benar ketika benar, berani mengakui salah ketika salah, dan tetap istiqamah meskipun jalan kebenaran tidak selalu mudah.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *