Sebaik-Baik Manusia adalah yang Paling Bermanfaat

 

Kabar Negeri Plus | Subuh Menguatkan Iman

(Rubrik Dakwah Harian – 8 Agustus 2026 | Hari 8 Minggu II)

Assalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Alhamdulillāh.

Memasuki pekan kedua bulan Agustus, kita diajak merenungkan satu pertanyaan yang sangat penting.

Untuk apa Allah memberikan umur, ilmu, harta, tenaga, dan kesempatan hidup kepada kita?

Apakah hanya untuk mengejar kesuksesan pribadi?

Apakah hanya untuk mengumpulkan kekayaan?

Apakah hanya agar dikenal dan dihormati manusia?

Islam mengajarkan bahwa hidup seorang mukmin bukan hanya tentang dirinya sendiri.

Seorang mukmin adalah sumber manfaat.

Ke mana pun ia pergi.

Ia membawa kebaikan.

Di mana pun ia berada.

Ia menghadirkan ketenangan.

Apa pun yang dimilikinya.

Ia gunakan untuk menolong sesama.

Sebab nilai seseorang di sisi Allah bukan hanya diukur dari banyaknya ibadah yang ia lakukan.

Tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada orang lain.

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta’īnuhu wa nastaghfiruh, wa na’ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a’mālinā.

Jangan bertanya,

“Apa yang dunia berikan kepadaku?”

Tetapi bertanyalah,

“Apa manfaat yang sudah kuberikan kepada dunia karena Allah?”

Dalil

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”

(HR. Ath-Thabrani, dinilai hasan oleh sebagian ulama)

Allah Subḥānahu wa Ta’ālā berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.”

(QS Al-Ma’idah [5]: 2)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.”

(HR. Muslim)

Inti Pesan

Manfaat tidak selalu diukur dengan besarnya harta.

Tidak semua orang mampu membangun masjid.

Tidak semua orang mampu menyantuni ratusan anak yatim.

Namun semua orang mampu menjadi pribadi yang bermanfaat.

Seorang guru yang mengajarkan ilmu.

Seorang petani yang menyediakan makanan.

Seorang dokter yang mengobati pasien.

Seorang pedagang yang jujur.

Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya dengan iman.

Seorang tetangga yang selalu membantu ketika dibutuhkan.

Semuanya adalah manusia yang sedang menanam amal jariyah dalam kehidupannya.

Kadang kita tidak menyadari.

Satu nasihat yang kita sampaikan.

Satu doa yang kita panjatkan.

Satu pertolongan kecil yang kita berikan.

Bisa menjadi sebab berubahnya hidup seseorang.

Dan semua itu akan terus mengalir sebagai pahala selama manfaatnya masih dirasakan.

Kisah Teladan

Salah satu kisah yang sangat menginspirasi adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalām ketika tiba di negeri Madyan.

Beliau datang dalam keadaan lelah.

Kelaparan.

Tidak memiliki keluarga.

Tidak memiliki tempat tinggal.

Bahkan sedang menjadi buronan Raja Fir’aun.

Namun ketika melihat dua wanita yang kesulitan memberi minum ternak mereka karena harus menunggu para penggembala selesai, Nabi Musa tidak berpikir tentang kesulitannya sendiri.

Beliau segera membantu keduanya dengan mengangkat batu penutup sumur yang sangat berat, lalu memberi minum ternak mereka.

Setelah itu beliau tidak meminta upah sedikit pun.

Beliau hanya duduk di bawah pohon sambil berdoa:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.”

(QS Al-Qashash [28]: 24)

Apa yang terjadi setelah itu?

Allah membalas kebaikannya.

Beliau dipanggil ke rumah ayah kedua wanita tersebut.

Diberi makanan.

Diberi pekerjaan.

Bahkan dipertemukan dengan jodohnya.

Kisah ini mengajarkan bahwa orang yang gemar memberi manfaat kepada orang lain tidak pernah ditinggalkan oleh Allah.

Kebaikan yang ia tanam akan kembali kepadanya dengan cara yang tidak pernah disangka.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri.

Apakah kehadiran kita membawa manfaat bagi keluarga?

Apakah tetangga merasa nyaman dengan keberadaan kita?

Apakah rekan kerja terbantu karena kita?

Apakah ilmu yang kita miliki sudah kita bagikan?

Jangan sampai umur terus bertambah.

Tetapi manfaat kita justru semakin berkurang.

Karena manusia terbaik bukanlah yang paling terkenal.

Melainkan yang paling banyak menghadirkan kebaikan.

Kunci

Hidup yang paling bernilai adalah hidup yang meninggalkan jejak manfaat, bukan sekadar jejak kekayaan atau popularitas.

Baca Juga:

Bekal Terbaik adalah Takwa, Bukan Dunia

 

Aksi Hari Ini

Bantulah satu orang tanpa mengharapkan balasan

Lakukan karena Allah semata.

Bagikan ilmu yang bermanfaat

Sampaikan satu ayat, satu hadis, atau satu nasihat yang baik kepada orang lain.

Jadilah pendengar yang baik

Kadang seseorang tidak membutuhkan uang, tetapi membutuhkan orang yang mau mendengarkan.

Sisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama

Sekecil apa pun nilainya, lakukan dengan ikhlas.

Muhasabah sebelum tidur

Tanyakan kepada diri sendiri,

“Hari ini, siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena kehadiranku?”

Semakin banyak manfaat yang kita berikan.

Semakin besar peluang kita menjadi manusia yang dicintai Allah.

Penutup

Saudaraku yang dirahmati Allah.

Hidup ini terlalu singkat jika hanya digunakan untuk memikirkan diri sendiri.

Kita datang ke dunia bukan hanya untuk sukses.

Tetapi untuk menjadi sebab hadirnya kebaikan bagi sesama.

Sebagaimana Nabi Musa ‘alaihissalām tetap menolong orang lain meskipun dirinya sedang berada dalam kesulitan, marilah kita belajar bahwa memberi manfaat tidak menunggu kita menjadi kaya, kuat, atau terkenal.

Mulailah dari apa yang kita miliki hari ini.

Karena setiap senyum.

Setiap bantuan.

Setiap ilmu yang diajarkan.

Setiap doa yang dipanjatkan.

Dan setiap tangan yang kita ulurkan.

Akan menjadi saksi bahwa kita pernah hidup dan memberi manfaat di bumi Allah.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang selalu membawa manfaat di mana pun berada, memudahkan tangan kita untuk menolong sesama, menjadikan hidup kita penuh keberkahan, dan mengumpulkan kita bersama orang-orang saleh yang amalnya terus mengalir hingga akhir zaman.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalāmu’alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

(Dok. KN+ Zea Safitri)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *