
Harga BBM Naik, Rakyat Terjepit! Dari Dapur Rumah Tangga hingga Nelayan, Warga Bandar Lampung Menanggung Efek Berantai yang Kian Mencekik.
BANDAR LAMPUNG | Kabar Negeri Plus — Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bukan sekadar angka yang berubah di papan SPBU. Di balik keputusan itu, jutaan masyarakat harus menghadapi kenyataan pahit: biaya hidup melonjak, harga kebutuhan pokok merangkak naik, ongkos transportasi membengkak, sementara penghasilan sebagian besar warga tetap jalan di tempat.
Di Bandar Lampung, kota yang menjadi urat nadi perdagangan dan jalur transit utama Pulau Sumatera, dampak kenaikan BBM terasa begitu cepat dan nyata.
Dari sopir angkot yang kehilangan penumpang, nelayan yang kesulitan melaut, hingga ibu rumah tangga yang harus memutar otak mengatur belanja dapur, semuanya merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat.
Berikut 10 dampak utama kenaikan harga BBM yang kini dirasakan masyarakat Bandar Lampung:
- Ongkos Angkutan Umum Naik, Penumpang Menurun
Kenaikan BBM langsung memukul sektor transportasi. Tarif angkot pada sejumlah trayek seperti Rajabasa–Tanjung Karang dan Sukarame–Kemiling naik sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000 per perjalanan.
Sementara itu, tarif bus antarkota antarprovinsi (AKAP) rute Bakauheni–Jakarta juga mengalami kenaikan hingga 12–15 persen. Para sopir mengaku pendapatan mereka justru menurun karena jumlah penumpang berkurang. - Tarif Ojek Online Ikut Terkerek
Layanan transportasi daring seperti GoRide dan GrabBike mengalami penyesuaian tarif sekitar Rp1.500 hingga Rp3.000 per perjalanan.
Ironisnya, para pengemudi mengaku kenaikan tarif tidak otomatis meningkatkan pendapatan karena banyak pelanggan memilih mengurangi perjalanan atau mencari alternatif yang lebih murah. - Harga Sembako Merangkak Naik
Kenaikan biaya distribusi membuat harga kebutuhan pokok di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Bambu Kuning dan Pasar Pasir Gintung ikut terdorong naik.
Harga beras mengalami kenaikan sekitar Rp1.500 per kilogram, sementara cabai dan telur naik antara Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram. Pedagang menyebut biaya angkut dari daerah penghasil seperti Metro, Pringsewu, dan Tanggamus menjadi lebih mahal akibat kenaikan BBM.
- Nelayan Teluk Lampung Terpukul
Kondisi semakin berat dirasakan para nelayan di kawasan Teluk Lampung dan Lempasing. Selain harus mengantre solar subsidi, mereka juga menghadapi keterbatasan kuota BBM.
Biaya operasional melaut kini meningkat antara Rp150 ribu hingga Rp200 ribu setiap kali berangkat. Akibatnya, harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ikut naik, sementara daya beli masyarakat justru menurun. - UMKM Terpaksa Menyesuaikan Harga
Gelombang kenaikan biaya operasional juga menghantam sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Warung makan, pedagang pecel lele, soto, hingga mie ayam di kawasan kampus seperti Unila, Itera, dan UIN mulai menaikkan harga jual sekitar Rp2.000 hingga Rp3.000 per porsi. Pelaku usaha laundry dan industri rumahan juga mengaku biaya produksi semakin membengkak.
- Biaya Antar-Jemput Sekolah Bertambah
Orang tua siswa kini harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk layanan antar-jemput sekolah maupun les privat.
Di sejumlah wilayah seperti Kemiling dan Sukabumi, tarif jasa antar-jemput naik sekitar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per bulan untuk setiap anak. Banyak keluarga mulai mencari solusi dengan berbagi kendaraan bersama tetangga.
- Inflasi Transportasi dan Logistik Meningkat
Kenaikan BBM turut mendorong inflasi pada sektor transportasi dan distribusi barang.
Biaya pengiriman barang dari Pelabuhan Panjang menuju berbagai pusat perdagangan dan toko kelontong meningkat, yang pada akhirnya ikut memengaruhi harga jual berbagai produk di tingkat konsumen.
- Daya Beli Masyarakat Menurun
Dampak yang paling terasa adalah melemahnya daya beli masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Banyak keluarga mulai mengurangi pengeluaran non-prioritas seperti rekreasi, makan di luar, hingga pembelian paket data internet. Sejumlah ibu rumah tangga mengaku harus memangkas anggaran belanja bulanan demi menyesuaikan kondisi ekonomi.
- Buruh dan Pekerja Harian Mengalami Tekanan Ganda
Buruh pelabuhan, pekerja bangunan, hingga buruh tani menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Meski biaya transportasi dan kebutuhan pokok terus meningkat, rata-rata upah harian masih berada pada kisaran Rp80 ribu hingga Rp120 ribu. Kondisi ini membuat sisa pendapatan yang dapat dibawa pulang semakin menipis.
- Antrean BBM Subsidi Semakin Panjang
Fenomena antrean kendaraan di sejumlah SPBU Kota Bandar Lampung semakin sering terlihat.
Warga rela menunggu hingga 30 sampai 45 menit demi mendapatkan Pertalite bersubsidi. Kondisi tersebut terjadi di berbagai SPBU, terutama pada jam-jam sibuk.
Pemerintah Siapkan Langkah Antisipasi.
Pemerintah Kota Bandar Lampung bersama Pertamina telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk operasi pasar murah dan layanan pengaduan terkait distribusi BBM.
Selain itu, bantuan sosial berupa BLT BBM dan Program Keluarga Harapan (PKH) juga mulai disalurkan kepada ribuan keluarga penerima manfaat guna membantu mengurangi beban ekonomi masyarakat.
Namun bagi sebagian warga, bantuan tersebut dinilai belum mampu sepenuhnya menutup lonjakan biaya hidup yang terjadi akibat kenaikan harga BBM.
Kini, pertanyaan besar yang muncul adalah: sampai kapan masyarakat harus terus beradaptasi dengan harga yang naik, sementara pendapatan mereka tidak ikut bertambah? Jika kondisi ini terus berlanjut, bukan hanya dompet rakyat yang tertekan, tetapi juga roda perekonomian daerah yang berpotensi melambat.
(Dok.KN +/Apriyanda)

