
Trofi Nasional Bertumpuk, Jalan Rusak Tetap Menganga! Warga Bandar Lampung Pertanyakan Makna Deretan Penghargaan Eva Dwiana”.
BANDAR LAMPUNG | Kabar Negeri Plus — Kilau trofi dan tepuk tangan di panggung penghargaan nasional kembali menghampiri Pemerintah Kota Bandar Lampung. Nama Wali Kota Bandar Lampung, Hj. Eva Dwiana, berulang kali diumumkan sebagai penerima berbagai penghargaan bergengsi sepanjang 2025 hingga 2026.
Namun di saat sederet prestasi administratif itu dipamerkan, suara lain justru terdengar dari jalan-jalan kota. Aspal berlubang, drainase yang belum optimal, hingga banjir yang masih menghantui sejumlah kawasan menjadi potret yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Di tengah gemerlap penghargaan, muncul pertanyaan yang semakin nyaring dari masyarakat: apakah banyaknya trofi yang diraih benar-benar mencerminkan kondisi yang dirasakan warga di lapangan?
Sepanjang dua tahun terakhir, Eva Dwiana tercatat menerima sejumlah penghargaan tingkat nasional, di antaranya Disway Top Regional Leader Awards 2026 sebagai Penggerak UMKM dan Ekonomi Kreatif, National Governance Awards 2026 untuk tata kelola pemerintahan, Women’s Inspiration Awards 2026 kategori Women in Public Policy dari iNews Media Group, Excellent City in Regional Infrastructure Connectivity 2026, Anugerah Pemimpin Daerah Awards 2025 kategori Peningkatan Pariwisata dan UMKM, hingga Indonesia Kita Awards 2025 untuk inovasi pelayanan publik.
Deretan penghargaan tersebut menunjukkan pengakuan dari berbagai lembaga terhadap kinerja Pemerintah Kota Bandar Lampung dalam sejumlah sektor strategis.
Namun fakta di lapangan menghadirkan perspektif berbeda.
Sejumlah warga menilai kondisi infrastruktur dasar masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan secara menyeluruh.
Keluhan mengenai jalan rusak, genangan air saat hujan deras, hingga sistem drainase yang dinilai belum maksimal masih kerap muncul dalam berbagai forum masyarakat maupun media sosial.
Kondisi ini memunculkan paradoks yang menarik untuk dicermati. Di satu sisi, pemerintah daerah mendapatkan apresiasi atas tata kelola dan inovasi pelayanan publik.
Di sisi lain, sebagian masyarakat masih mempertanyakan kualitas layanan dasar yang mereka rasakan setiap hari.
Fenomena serupa juga terlihat pada raihan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan. Opini tersebut memang menjadi indikator penting bahwa pengelolaan keuangan daerah telah memenuhi standar akuntabilitas dan kepatuhan.
Namun, WTP bukanlah ukuran langsung terhadap kualitas jalan, kelancaran drainase, atau tingkat kenyamanan warga dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Karena itu, banyak pihak menilai bahwa keberhasilan administratif harus berjalan seiring dengan keberhasilan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penghargaan seharusnya bukan menjadi tujuan akhir, melainkan konsekuensi dari pelayanan publik yang benar-benar berdampak nyata.
Sebagai bentuk pengawasan publik yang konstruktif, masyarakat mendorong adanya beberapa langkah strategis.
Pertama, memastikan alokasi APBD lebih fokus pada kebutuhan dasar masyarakat, khususnya perbaikan infrastruktur yang berdampak langsung terhadap aktivitas warga.
Kedua, mengoptimalkan sistem pengaduan masyarakat agar setiap laporan kerusakan jalan, drainase, maupun fasilitas publik dapat ditindaklanjuti secara cepat dan transparan.
Ketiga, memaksimalkan penyerapan Dana Alokasi Khusus (DAK) serta program Inpres Jalan Daerah (IJD) agar pembangunan infrastruktur tidak terhambat oleh persoalan birokrasi.
Masyarakat Bandar Lampung pada dasarnya tidak anti terhadap penghargaan. Mereka justru berharap setiap penghargaan yang diberikan benar-benar lahir dari fakta lapangan yang dapat dirasakan secara langsung oleh warga.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukan hanya seberapa banyak trofi yang tersusun di lemari prestasi, melainkan seberapa besar perubahan yang dirasakan masyarakat di depan rumah mereka sendiri.
Ketika jalan masih berlubang, drainase belum sepenuhnya berfungsi optimal, dan keluhan warga terus bermunculan, maka pertanyaan itu akan terus bergema: apakah penghargaan yang diraih sudah benar-benar mencerminkan wajah Bandar Lampung yang sesungguhnya?
(Dok.KN +/Admin)

