DI SAAT TAKBIR BERGEMA, MASIH ADA BURUH YANG MENANGIS DI BALIK PINTU PABRIK!” — Momentum Idul Adha 1447 H Jadi Simbol Perlawanan Pekerja terhadap Pengusaha Nakal yang Abaikan Hak Buruh.

Kabar Negeri Plus | Nasional — Di tengah gema takbir Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang seharusnya menjadi momentum keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan, jeritan kaum buruh justru kembali terdengar dari balik dinding-dinding pabrik, gudang perusahaan, hingga kawasan industri di berbagai daerah.

Bagi sebagian pekerja, Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga tentang “menyembelih” rasa takut terhadap ketidakadilan yang selama ini mereka alami.

Mulai dari upah yang dipotong sepihak, tunjangan hari raya yang terlambat dibayar, jam kerja berlebihan tanpa lembur, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terus menghantui para pekerja kecil.

Di momen suci yang identik dengan nilai kemanusiaan itu, gelombang perlawanan buruh terhadap pengusaha nakal mulai menguat.

Sejumlah kelompok pekerja, serikat buruh, hingga aktivis ketenagakerjaan menyerukan agar Idul Adha dijadikan titik refleksi moral bagi para pemilik perusahaan yang dinilai hanya mengejar keuntungan tanpa memikirkan nasib para pekerja.

“Jangan bicara soal kurban kalau hak buruh saja masih dipotong. Jangan bicara soal kemanusiaan kalau pekerja diperas tanpa kepastian hidup,” ujar salah satu perwakilan buruh dalam aksi damai yang digelar menjelang Idul Adha.

Fenomena ini muncul bukan tanpa alasan. Di tengah tekanan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan hidup menjelang hari raya, masih banyak pekerja yang mengaku belum menerima hak normatif mereka secara penuh.

Bahkan, tidak sedikit buruh yang harus merayakan Idul Adha tanpa kepastian gaji, tanpa bonus, dan tanpa jaminan kerja yang layak.

Ironisnya, di saat para pekerja berjibaku mempertahankan hidup, sebagian perusahaan justru tetap menunjukkan kemewahan dan keuntungan besar.

Ketimpangan itulah yang kemudian memantik kemarahan para buruh dan melahirkan solidaritas perlawanan yang semakin kuat di berbagai sektor industri.

Sorotan tajam juga datang dari Direktur Kabar Negeri Plus yang menilai bahwa semangat Idul Adha seharusnya mampu menggugah hati para pengusaha untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dalam berkorban demi menjalankan perintah Allah SWT.

“Idul Adha bukan sekadar seremoni penyembelihan hewan kurban. Ada pesan besar tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kemanusiaan.

Nabi Ibrahim AS rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi nilai ketakwaan. Maka para pengusaha juga harus belajar berkorban demi kesejahteraan pekerja, bukan justru menjadikan buruh sebagai korban keserakahan,” tegas Direktur Kabar Negeri Plus.

Menurutnya, pengusaha yang hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan hak pekerja telah kehilangan esensi kemanusiaan yang diajarkan dalam Hari Raya Kurban.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan tidak akan pernah lepas dari keringat dan pengorbanan para buruh yang setiap hari bekerja menjaga roda produksi tetap berjalan.

“Kalau Nabi Ibrahim mampu menunjukkan kepatuhan dan pengorbanan yang luar biasa, maka para pemilik modal seharusnya juga mampu mengorbankan ego, keserakahan, dan ketidakpedulian terhadap nasib pekerja.

Jangan sampai hari raya hanya menjadi simbol ibadah, tetapi gagal menghadirkan keadilan sosial bagi mereka yang selama ini bekerja keras,” lanjutnya.

Di berbagai daerah, suara-suara perlawanan buruh kini mulai berubah menjadi gerakan sosial yang lebih luas.

Buruh tidak lagi hanya menuntut kenaikan upah, tetapi juga menuntut penghormatan terhadap martabat manusia.

Mereka ingin diperlakukan sebagai tulang punggung perusahaan, bukan sekadar alat produksi yang bisa dibuang sewaktu-waktu.

Momentum Idul Adha 1447 H akhirnya menjadi simbol perlawanan moral kaum pekerja terhadap praktik ketidakadilan yang masih berlangsung di dunia ketenagakerjaan.

Sebab bagi para buruh, keadilan sosial bukan sekadar janji di atas kertas, melainkan hak yang harus diperjuangkan — bahkan di tengah gema takbir hari raya sekalipun.

(Dok.KN +/Admin)

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *