bagaimana membuat pancasila benar-benar sakti?

LAMPUNG — KABAR NEGERI PLUS, Kamis, 1 Oktober 2026. Ada pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan setiap memperingati Hari Kesaktian Pancasila: apakah Pancasila benar-benar sakti karena kita mampu menghafal lima silanya, atau karena nilai-nilainya benar-benar hidup dalam perilaku kita?

Setiap 1 Oktober, kita berdiri tegak dalam upacara, menyanyikan lagu kebangsaan, mengucapkan Pancasila, lalu mengenang perjalanan sejarah bangsa.

Sejak sekolah dasar, kita bahkan telah dibiasakan menghafalkan kelima sila itu di luar kepala.
Dalam berbagai kesempatan, kita juga sering melihat pejabat negara menguji hafalan anak-anak sekolah dengan pertanyaan sederhana: “Siapa yang hafal Pancasila?” Ketika seorang anak mampu melafalkannya dengan lancar, tepuk tangan pun bergemuruh. Tidak jarang, hadiah diberikan sebagai bentuk apresiasi.

Semua itu tentu tidak salah.
Namun, ada persoalan yang jauh lebih penting: setelah hafal, lalu apa?

Sebab Pancasila tidak diciptakan untuk sekadar menjadi teks yang lancar diucapkan saat upacara, kuis, atau seremoni kenegaraan. Pancasila seharusnya menjadi nilai yang terlihat dalam cara kita memperlakukan manusia, menyelesaikan perbedaan, menggunakan kekuasaan, menjaga persatuan, dan memperjuangkan keadilan.
pancasila diuji bukan ketika dihafalkan, tetapi ketika diamalkan.

Kesaktian Pancasila tidak semestinya berhenti sebagai simbol sejarah. Ia harus dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita bisa dengan lantang mengatakan “Persatuan Indonesia”, tetapi pada saat yang sama begitu mudah mencaci orang lain hanya karena berbeda pilihan politik, organisasi, pandangan, atau latar belakang.

Di media sosial, perbedaan pendapat terkadang berubah menjadi pertengkaran. Grup percakapan yang seharusnya menjadi ruang silaturahmi justru dapat berubah menjadi tempat saling menghina, menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, bahkan memutus hubungan persaudaraan.

Di titik inilah nilai Pancasila sesungguhnya sedang diuji.
Begitu pula sila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Kita mungkin hafal kalimatnya, tetapi apakah kita sudah benar-benar memperlakukan orang lain secara manusiawi?

Jangan sampai seseorang dihormati hanya karena memiliki jabatan, kekayaan, pendidikan tinggi, atau status sosial. Sebaliknya, mereka yang miskin, sederhana, atau tidak memiliki kekuasaan justru dipandang sebelah mata.

Jika demikian, maka persoalannya bukan pada kemampuan kita menghafal Pancasila, melainkan pada keberanian kita menerjemahkan nilai-nilainya ke dalam tindakan.
pancasila dan nilai keislaman.

Bagi masyarakat Muslim, pengamalan nilai-nilai Pancasila juga dapat ditempatkan dalam kerangka akhlak dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, mengingatkan pentingnya kehidupan berbangsa yang menjunjung nilai ketuhanan sekaligus menghormati kebebasan menjalankan agama. Dalam Islam, prinsip tauhid menegaskan keesaan Allah SWT, antara lain sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ikhlas ayat

Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, selaras dengan ajaran Islam tentang penghormatan terhadap martabat manusia, akhlak, kasih sayang, dan larangan merendahkan sesama.
Sila ketiga,

Persatuan Indonesia, memiliki titik temu dengan ajaran tentang persaudaraan dan larangan berpecah belah. Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 103 mengingatkan umat untuk berpegang teguh dan tidak bercerai-berai.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, juga memiliki kesesuaian nilai dengan prinsip syura atau musyawarah. Dalam perspektif Islam, kekuasaan bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah yang akan dipertanggungjawabkan.
Sementara sila kelima,

Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sejalan dengan prinsip keadilan dan kepedulian sosial yang menjadi bagian penting dalam ajaran Islam.

Karena itu, bagi seorang Muslim, menjadi warga negara yang menjunjung Pancasila tidak harus dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan beragama.

Justru nilai ketuhanan, kemanusiaan, persaudaraan, musyawarah, dan keadilan dapat menjadi ruang bersama untuk menghadirkan kehidupan sosial yang lebih baik.
kesaktian pancasila dimulai dari hal-hal kecil
Pancasila tidak selalu harus dibicarakan dalam ruang politik yang besar.

Ia justru bisa dimulai dari tindakan sederhana.
Ketika kita tidak menyerobot antrean, kita sedang belajar menghargai hak orang lain.

Ketika kita menolak menyebarkan hoaks, kita ikut menjaga persatuan.
Ketika kita menghormati orang yang berbeda agama, suku, pilihan, maupun latar belakang, kita sedang mempraktikkan kemanusiaan dan persatuan.

Ketika seorang pemimpin mau mendengar suara masyarakat dan mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab, nilai musyawarah sedang dihidupkan.

Dan ketika seseorang yang memiliki kekuasaan menolak korupsi, berlaku jujur, serta menggunakan amanah untuk kepentingan masyarakat, di situlah nilai keadilan dan tanggung jawab benar-benar memperoleh makna.

Menghafal Pancasila tetap penting. Kita memang perlu mengenal dan memahami dasar negara sendiri.
Tetapi bangsa ini membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hafalan.
Kita membutuhkan Pancasila yang hidup.

Pancasila harus hadir di rumah, di sekolah, di kantor, di pasar, di jalan raya, di ruang publik, bahkan di layar telepon genggam kita.

Sebab ukuran kesaktian Pancasila bukan seberapa lantang kita mengucapkannya pada 1 Oktober.

Ukuran kesaktiannya adalah seberapa jauh nilai-nilainya mampu mengubah cara kita memperlakukan sesama manusia sepanjang tahun.

Jika Pancasila hanya berhenti sebagai teks yang dihafalkan, ia akan menjadi slogan.

Tetapi jika Pancasila menjelma menjadi kejujuran, persaudaraan, penghormatan, musyawarah, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari, maka kesaktiannya tidak perlu sekadar diteriakkan—ia akan terlihat dalam kehidupan nyata.

Selamat memperingati Hari Kesaktian Pancasila.


(Dok. KN+ Jakfar/Junaidi)

 

 

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *