
Tokoh muda Batak dan ketua APML Junior Arthur Samosir bawa pesan toleransi lewat film Ageman
Lampung — Kabar Negeri Plus, 15 September 2026. Pesan toleransi tidak selalu harus disampaikan melalui forum resmi atau mimbar.
Lewat layar lebar, pesan tentang pentingnya menghargai perbedaan justru dapat menyentuh masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan emosional.
Semangat itulah yang coba dihadirkan melalui film Ageman, sebuah sinema edukasi yang mengangkat isu toleransi, perundungan (bullying), keberagaman, hingga potensi munculnya paham intoleransi dan radikalisme.
Film tersebut tidak hanya melibatkan pejabat Pemerintah Provinsi Lampung, tokoh agama, tokoh budaya dan akademisi, tetapi juga menghadirkan sejumlah elemen masyarakat dan organisasi kemasyarakatan.
Salah satunya tokoh muda Batak yang juga Ketua Aliansi Pekerja Mandiri Lampung (APML), Junior Arthur Samosir.
Pria yang akrab disapa Arthur itu turut menguji kemampuan aktingnya dengan memerankan sosok dari keluarga Kristen yang taat.
Dalam film tersebut, karakter yang diperankannya berhadapan dengan dinamika kehidupan masyarakat yang heterogen.
Konflik muncul ketika anggota keluarganya menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dan larangan untuk berteman karena adanya perbedaan keyakinan.
Lewat karakter tersebut, Arthur ikut menyampaikan pesan bahwa perbedaan agama, suku dan latar belakang sosial semestinya tidak menjadi alasan untuk membangun jarak, apalagi melahirkan kebencian.
Pesan itu dinilai semakin relevan di tengah derasnya arus informasi melalui media sosial. Informasi yang tidak disaring dengan baik dapat memperbesar kesalahpahaman, memperuncing perbedaan, bahkan memicu gesekan di tengah masyarakat.
Ageman, kisah perubahan dari masa lalu
Film Ageman diangkat dari kisah perjalanan hidup Ken Setiawan, mantan aktivis radikal yang kemudian meninggalkan paham tersebut dan mendedikasikan kehidupannya pada upaya pencegahan intoleransi dan radikalisme.
Di bawah arahan sutradara Jasper Lance Piscasio dan diproduseri langsung oleh Ken Setiawan, film ini mengangkat persoalan sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat, termasuk perundungan dan intoleransi yang dapat menjadi pintu masuk bagi berkembangnya sikap ekstrem.
Secara filosofis, kata Ageman dikenal dalam sejumlah tradisi bahasa dan budaya Jawa, Sunda, serta Bali dengan makna yang berkaitan dengan pakaian, pedoman, atau keyakinan.
Pemilihan judul tersebut membawa pesan bahwa identitas yang melekat pada seseorang—baik suku, agama maupun budaya—merupakan bagian dari kehidupan yang seharusnya menjadi jalan untuk saling mengenal, menghormati dan melengkapi, bukan menjadi alasan untuk saling memisahkan.
Pesan damai dari Lampung
Eksekutif Produser Film Ageman yang juga Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung, Dr. M. Firsada, berharap keterlibatan berbagai elemen masyarakat dalam film tersebut dapat membuka ruang kesadaran publik tentang pentingnya merawat kerukunan.
“Film ini sangat layak ditonton oleh masyarakat luas agar kita semakin menyadari pentingnya menjaga kerukunan dan saling menghargai di tengah perbedaan. Harapannya, Indonesia tetap damai dan kondusif tanpa ada lagi celah bagi potensi intoleransi maupun radikalisme,” tegas Firsada.
Keterlibatan Junior Arthur Samosir dalam Ageman pun menjadi bagian dari pesan yang lebih besar: bahwa menjaga persatuan bukan hanya tugas pemerintah atau tokoh agama, melainkan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Di tengah masyarakat Indonesia yang dibangun dari keberagaman suku, agama dan budaya, toleransi bukan sekadar slogan. Ia harus hadir dalam cara masyarakat berbicara, berteman, bekerja sama dan menyikapi perbedaan.
Dok. KN+ Ibnu Hafidz

