Saat Jalan Tol Jadi Barang Mahal: Pemudik Dipaksa Memilih antara Cepat atau Mampu

Lampung Selatan – Kabar Negeri Plus – Fenomena menarik terjadi pada arus mudik dan balik Idulfitri tahun ini. Sejumlah pemudik justru lebih memilih jalur non-tol meskipun harus menghadapi kemacetan, dibandingkan menggunakan jalan tol yang relatif lebih cepat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pilihan jalur perjalanan tidak lagi semata soal kecepatan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi. Tingginya biaya tol, khususnya pada ruas Bakauheni hingga Terbanggi Besar, menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat.

Kalau lewat tol memang cepat, tapi biayanya cukup besar. Lebih baik lewat jalan biasa, walaupun macet, tapi masih bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan,” ujar Abdul Hanan, salah satu pemudik.

Selain faktor biaya, jalur non-tol juga memberikan pengalaman perjalanan yang berbeda. Pemudik dapat melintasi kawasan perkotaan seperti Tanjung Karang di Bandar Lampung, sekaligus menikmati perjalanan tanpa tekanan waktu yang terlalu ketat.

Sementara itu, pemudik lain, Hanafi, memilih menggunakan tol secara parsial. Ia masuk melalui Tol Terbanggi Besar hingga Tol Natar, kemudian kembali ke jalur non-tol untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

“Awalnya pakai tol, tapi karena biaya makin terasa, akhirnya keluar dan lanjut lewat jalan biasa. Apalagi setelah banyak pengeluaran selama Lebaran di kampung,” ungkapnya.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa jalan tol yang seharusnya menjadi solusi mobilitas cepat, bagi sebagian masyarakat justru menjadi opsi terbatas karena faktor biaya. Akibatnya, pemudik cenderung memilih jalur alternatif yang lebih terjangkau meskipun memerlukan waktu tempuh lebih lama.

Kabar Negeri Plus mengimbau seluruh pemudik untuk tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan selama perjalanan, baik melalui jalur tol maupun non-tol.

(Dok: KN+ / Jakfar Sidik)

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *