I’tikaf: Menyendiri untuk Mendekat kepada Allah

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, naḥmaduhu wa nasta‘īnuhu wa nastaghfiruhu, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi’āti a‘mālinā. Man yahdihillāhu falā muḍilla lah, wa man yuḍlil falā hādiya lah. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sahabat pembaca setia Kabar Negeri Plus (KN+), saudara-saudaraku yang dirahmati Allah.

Kabar Negeri Plus – I’tikaf adalah salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Ibadah ini menjadi cara seorang Muslim menyendiri dari kesibukan dunia untuk lebih dekat kepada Allah SWT. Dalam suasana Ramadan yang penuh berkah, i’tikaf menjadi kesempatan untuk menenangkan hati, memperbanyak ibadah, dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta.

Makna I’tikaf dalam Islam

Secara bahasa, i’tikaf berarti menetap atau berdiam diri. Dalam syariat Islam, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah.

Ibadah ini dilakukan dengan memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan merenungi kehidupan.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Artinya:

“Janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istrimu) ketika kamu sedang beri’tikaf di dalam masjid.”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menunjukkan bahwa i’tikaf adalah ibadah yang memiliki kedudukan khusus dalam Islam, terutama pada bulan Ramadan.

BEASISWA YAYASAN KHALIFAH ALFITAMA 2025/2026

I’tikaf Sunnah Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ sangat menjaga ibadah i’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Bahkan beliau tidak pernah meninggalkannya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Nabi ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga beliau wafat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hal ini menunjukkan bahwa i’tikaf adalah sunnah yang sangat dianjurkan, karena menjadi bagian dari kesungguhan Rasulullah ﷺ dalam mencari Lailatul Qadar.

Tujuan I’tikaf: Mendekatkan Hati kepada Allah

Di tengah kehidupan modern yang penuh kesibukan, manusia sering kali larut dalam urusan dunia. Pekerjaan, media sosial, dan berbagai aktivitas lainnya membuat hati mudah lalai dari mengingat Allah.

I’tikaf menjadi momentum untuk menghentikan sejenak hiruk-pikuk kehidupan dunia.

Dengan berdiam di masjid, seorang Muslim belajar untuk:

  • menenangkan hati,
  • memperbanyak zikir,
  • membaca Al-Qur’an,
  • dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Saat hati kembali dekat kepada Allah, maka hidup menjadi lebih tenang dan terarah.

Amalan yang Diperbanyak Saat I’tikaf

Beberapa amalan yang dianjurkan ketika melakukan i’tikaf antara lain:

1. Membaca Al-Qur’an
Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Karena itu, memperbanyak tilawah menjadi amalan utama saat i’tikaf.

2. Qiyamul Lail (shalat malam)
Shalat malam pada sepuluh hari terakhir Ramadan memiliki keutamaan besar karena bertepatan dengan pencarian Lailatul Qadar.

3. Zikir dan istighfar
Memperbanyak mengingat Allah akan membersihkan hati dari dosa dan kelalaian.

4. Memperbanyak doa
Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu yang sangat mustajab untuk berdoa.

Yayasan Khalifah Alfitama membuka program beasiswa pendidikan bagi calon mahasiswa yang ingin melanjutkan kuliah di Alifa Institute

Refleksi Ruhani: Belajar Menyepi dari Dunia

I’tikaf mengajarkan satu hal penting: seorang mukmin perlu waktu untuk menyepi bersama Allah.

Dalam kesunyian masjid, hati menjadi lebih jujur melihat dirinya sendiri. Kita mulai menyadari dosa, kesalahan, dan kelalaian yang selama ini terjadi.

Dari situlah lahir taubat yang tulus dan keinginan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena itu, i’tikaf bukan sekadar berdiam diri di masjid, tetapi perjalanan ruhani untuk membersihkan hati dan memperbaiki kehidupan.

Penutup

I’tikaf adalah ibadah yang mengajarkan kesungguhan dalam mendekat kepada Allah SWT. Dengan meninggalkan sejenak kesibukan dunia dan berdiam di rumah Allah, seorang Muslim dapat memperkuat iman serta memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta.

Sepuluh malam terakhir Ramadan adalah kesempatan yang sangat berharga. Jangan sampai kita melewatkannya tanpa usaha untuk lebih dekat kepada Allah.

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang penuh keikhlasan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Zea Safitri – Kabar Negeri Plus mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa 1447 H.

About The Author

Bagikan Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *